Pada 29 Desember 2024, mahasiswa peserta program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan LXIX Universitas Sanata Dharma Yogyakarta berangkat menuju Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Saya adalah salah satu dari 19 orang beruntung yang bisa melaksanakan KKN di Ketapang.
Setelah 43 jam terombang-ambing oleh ombak, kami menginjakkan kaki di Tanah Kalimantan, tepat pada hari terakhir tahun 2024. Kami singgah dan bermalam tahun baru di Catholic Center Ketapang.
Kami disambut dengan baik oleh Rm. Advent. Kami berangkat menuju paroki masing-masing dengan berkat dari Mgr. Pius Riana Prabdi, Uskup Ketapang. Kami mengabdi di enam paroki, yakni Paroki Menyumbung, Paroki Randau, Paroki Balai Semandang, Paroki Serengkah, Paroki Terusan, dan Paroki Botong.
Saya ditempatkan di Paroki Botong, bersama tiga teman lainnya. Kami menjadi “tukang babat alas” alias kelompok pertama dari USD yang melaksanakan KKN di Botong. Minimnya informasi membuat kami seperti pergi ke tanah asing. Bahkan, nama Botong sendiri baru terdengar oleh kami berempat. Tanah asing ini ternyata membuat kami jatuh.
Simbal: tanah asing yang penuh cinta
Kami menjalankan KKN di Stasi Simbal, salah satu stasi di Paroki Botong. Perjalanan yang kami tempuh bukanlah hal yang mudah. Kami menelusuri Sungai Kualan menggunakan perahu dengan mesin bermerek Johnson.
Semesta seakan menyambut kami dengan pelangi yang muncul di tepian sungai. Di sinilah cinta kami pada tanah asing itu dimulai. Kehangatan warga Stasi Simbal menyentuh hati kami. Mereka menyambut kami dengan aneka sayuran dan buah-buahan, sebuah sambutan sederhana yang terasa begitu Istimewa dan penuh cinta.
Kami berdinamika di Stasi Simbal selama dua minggu dengan mengajar di SD Negeri 3 Simpang Hulu dan SMP Negeri 11 Simpang Hulu. Sekolah yang masih terbatas oleh fasilitas, tetapi penuh “kehausan” akan belajar oleh para peserta didik. Kami jatuh cinta dengan semangat belajar peserta didik di tengah berbagai keterbatasan.
Saya tidak pernah menyangka hal sederhana yang saya lakukan bisa berdampak bagi anak-anak. Cerita sederhana tentang tanah Jawa dan dunia perkuliahan membuat mereka ingin belajar bahasa Inggris. Saya tidak hanya mengajar, tetapi belajar hal paling sederhana. Saya belajar bersyukur.
Saya tidak pernah membayangkan akan belajar bersyukur dari anak-anak SD dan SMP di daerah. Mereka tidak mengeluh harus berjalan kaki menyusuri hutan untuk sampai ke sekolah. Saya berdoa suatu saat akan bertemu mereka dan mendengar kalimat, “Kak, aku kuliah” atau “Kak, aku berhasil!”
Saya kuliah di fakultas keguruan, hal utama yang ditanamkan dalam diri adalah mencintai peserta didik. Saya jatuh cinta dengan mereka, peserta didik di “tanah asing” yang punya rasa ingin tahu tentang dunia tetapi terbatas oleh sarana prasarana.

Hari berlalu dengan cepat, makin banyak pengalaman yang saya dapatkan di Stasi Simbal, baik dari anak sekolah maupun masyarakat. Pengalaman dua minggu di Simbal membuat saya merasa makin terpanggil menjadi guru. Sebuah cita-cita yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Saya terharu, tetapi bangga ketika peserta didik menuliskan, “Terima kasih selalu menyemangati kita untuk belajar dan bermimpi.” Berbagai tulisan dan ekspresi yang diberikan melalui kertas kecil seakan menjadi cara Tuhan untuk menemukan saya dengan panggilan menjadi guru.
Paroki Botong: dua Yesus gondrong dan cahaya pendidikan
Setelah dua minggu, saya dan teman-teman berpindah lokasi KKN di Gereja Santa Maria Botong. Paroki yang memiliki dua Imam Yesuit berambut gondrong, Rm. F.B. Widyawan, SJ dan Rm. Antonius Dhimas Herjuno, SJ. Saya dan teman-teman menjuluki mereka “dua Yesus dari Botong”. Dua romo asal Jawa yang melayani di paroki yang dikelilingi oleh berbagai kebaikan Tuhan. Bukit yang hijau, hasil alam yang melimpah, dan kebaikan warga di tengah kesederhanaan.
Di Botong, saya menemukan cahaya yang diberikan Tuhan melalui seseorang bapak bernama Nur Ali. Beliau adalah kepala SDN 13 Simpang Hulu, seorang yang humoris, tetapi selalu serius jika bicara pendidikan. Rasa cintanya pada peserta didik membuatnya tetap setia mengajar, bahkan hingga menjadi kepala sekolah.
Pak Nur berkata, “Pertemuan kita ini atas kebaikan Tuhan.”
Bagi saya, tidak hanya itu. Kebaikan Tuhan yang lain adalah menghadirkan Pak Nur di Botong. Seorang beragama Islam yang lahir Demak, Jawa Tengah, setia mengabdi di Botong selama 22 tahun. Di Botong, Pak Nur adalah minoritas secara suku dan agama. Namun, seperti namanya, Nur yang berarti “cahaya”, beliau tetap menerangi masyarakat Botong melalui pendidikan.
Pertemuan saya dengan Pak Nur mungkin salah satu cara Tuhan untuk makin membuka cara pandang saya tentang pendidikan, khususnya seorang guru.
Ketika mengajar di kelas 4, kala itu saya mengajarkan tentang kekayaan alam dan budaya. Saya meminta meraka menjawab pertanyaan, “Gimana kalau kekayaan alam dan budaya hilang?”
Saya terenyuh dengan jawaban seorang anak perempuan bernama Kikis. Kikis menuliskan tiga jawaban: sedih, marah, kecewa. Jawaban yang memberi gambaran untuk saya bahwa anak kelas 4 SD bisa tidak terima jika kekayaan yang ada di sekitarnya hilang.
Begitupun saya. Saya tidak terima dan merasa sakit jika cinta saya ini hanya berlangsung singkat. Jatuh cinta ini menyakitkan, karena saya hanya memiliki waktu dua minggu dan satu minggu saya untuk merasakan cinta itu. Saya jatuh cinta dengan sesuatu yang indah tetapi sakit.














