Aku ingat, pada tahun 2018 akhir kalau tidak salah, aku dan teman-temanku mendapat tugas perutusan untuk berjalan kaki. Kegiatan itu dinamai peregrinasi. Peregrinasi adalah salah satu program yang ada di Tahun Orientasi Rohani Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang diadakan dengan maksud supaya frater mendapat pengalaman baru, pengalaman tentang belas kasih Allah.
Aku mencoba menulis ini demi memaknai ulang peristiwa yang sudah terjadi enam tahun lalu itu. Aku menulis ulang untuk merefleksikan kembali dari pengalaman itu apa yang bisa aku dapatkan dan mengesan buatku kini.
Aku mendapat tugas perutusan berjalan kaki atau peregrinasi bersama dengan temanku, Bimo. Aku dan Bimo mendapat tugas perutusan berjalan kaki atau sekali lagi peregrinasi ke salah satu paroki yang ada di Bogor. Kami mendapat tugas perutusan untuk peregrinasi ke ke Paroki Cicurug Gereja Hati Maria Tak Bernoda.
Sebelum perjalanan dimulai, kami seangkatan yang pada waktu itu berjumlah enam belas mengikuti perayaan Ekaristi di kapel yang ada di Tahun Orientasi Rohani Wisma Puruhita, Klender, Jakarta. Setelah mengikuti Perayaan Ekaristi, kami berangkat. Kami masing-masing berangkat menuju daerah perutusan kami.
Singkat cerita, perjalanan sangat jauh. Aku sendiri lupa berapa hari yang kami perlukan agar bisa sampai di Paroki Cicurug. Yang aku ingat, kami harus berjalan di tengah badai, dan waktu itu memang hujan sangat deras. Akan tetapi, karena niat kami dan karena ini adalah bagian dari formasi kami di Seminari Tahun Orientasi Rohani, aku dan Bimo harus melakukannya.
Perjalanan benar-benar jauh. Kami harus melewati parung, parung sebuah jalan lurus yang sangat panjang. Aku ingat ketika kami hampir sampai di gereja, begitu melihat tanda masuk ke gereja, kami sangat senang. Pada akhirnya, kami berhasil menjalankan tugas perutusan kami dan sampai di paroki yang dimaksud. Akhirnya, setelah menelepon romo direktur kami, kami pulang. Sebelumnya, kami diberi makan ikan yang sangat enak oleh salah satu romo yang bertugas di paroki itu yang kebetulan waktu itu ada di pastoran juga.
Hal yang menarik lainnya, sebelum pulang kami diberikan oleh-oleh atau bekal jasmani bagi kami untuk melanjutkan perjalanan pulang kami ke Wisma Puruhita. Aku ingat, waktu itu kami dibawakan brownies khas kota Bogor yang pada akhirnya kami makan di tengah perjalanan pulang. Kami pun sampai di Wisma Puruhita.
Yang dapat aku refleksikan dari pengalaman itu pertama, sebagai calon imam, kami harus taat kepada pimpinan ke mana kami harus berangkat. Meskipun aku dan Bimo waktu itu bukan teman dekat, toh kami satu komunitas dan sebagai sesama komunitas waktu itu kami memang harus saling mengenal.
Walaupun banyak perbedaan di antara kami, seperti tempat mana yang akan kami minta makanannya karena waktu itu tidak membawa uang, kami atau aku harus menyesuaikan diri dengannya. Aku harus bisa mengerti dan mengimbangi temanku yang menjadi teman seperjalananku dulu waktu itu. Aku harus bisa menyesuiakan diri dan menjadi diri sendiri. Aku harus fokus pada perjalanan. Aku harus bisa membawakan diriku dengan baik, terutama terhadap orang yang baru kukenal.
Kedua, pengalaman diberi. Aku merasa sangat senang dan bersyukur karena boleh mendapat perhatian yang sebesar itu dari umat. Walaupun aku dulu adalah seorang calon imam dan masih berada pada tingkat yang sangat awal, perhatian umat terhadap kami begitu besar.
Kami sejujurnya diberi banyak waktu itu, akan tetapi Bimo menolak. Aku tidak tahu alasannya apa, tetapi pada waktu itu aku berusaha untuk mengerti dan menerimanya. Terkait dengan Bimo, aku merefleksikan bahwa terkadang jujur adalah pilihan yang baik. Meskipun berbeda, tetapi kita tetap akan dihargai juga. Aku belajar banyak dari pengalamanku melakukan peregrinasi bersama Bimo.
Pengalaman peregrinasi adalah pengalaman syukur. Aku bersyukur atas kebaikan Tuhan yang menyertai hingga tidak tahu kenapa waktu itu kok kuat dan tidak mengeluh. Capek iya, tetapi keinginan untuk mengambil pilihan instan tidak ada. Aku tetap memilih berjalan kaki kendatipun tidak tahu harus berjalan berapa lama lagi hingga mencapai tujuan. Rasanya, Tuhan menyertaiku saat itu. Kendatipun hujan, aku tetap bersemangat untuk menyelesaikan misi itu. Aku merasa bersyukur karena aku rasa aku memiliki fisik yang kuat waktu itu.
Yang aku refleksikan selanjutnya adalah pengalaman diberi. Aku benar-benar merasa bersyukur karena boleh mendapat perhatian itu dari umat. Artinya, umat sayang terhadap para gembalanya sekaligus juga menaruh harapan yang besar kepada gembalanya.
Semuanya itu aku rangkum menjadi pengalaman kasih. Aku bersyukur boleh diformat di Tahun Orientasi Rohani Wisma Puruhita, Klender, Jakarta dan boleh mengalami pengalaman peregrinasi. Aku bersyukur dan aku kira tidak ada salahnya apabila aku merefleksikan kembali pengalaman itu.
Semuanya itu aku beri judul pengalaman menemukan cinta karena aku boleh dikasihi Allah lewat pengalaman itu dan boleh mendapat perhatian yang sedemikian rupa dari umat waktu itu. Umat begitu mengasihi imamnya, dan kalau misalnya aku terpanggil lagi menjadi imam-Nya aku pun akan berbuat yang sama terhadap umat yang dipercayakan Tuhan kepadaku.








