Ada yang berbeda di malam Valentine itu. Di Paroki Santo Petrus Warak, tanggal 14 Februari bukan dirayakan dengan cokelat atau kartu ucapan romantis, melainkan dengan pertanyaan yang jauh lebih berat dan lebih jujur: “Sudahkah Gereja ini sungguh menjadi rumah?”
Ratusan orang muda berkumpul, Orang Muda Katolik (OMK) dan Pendampingan Iman Remaja (PIR), bukan sekadar untuk merayakan, tetapi untuk meneruskan sebuah pencarian panjang yang telah mereka mulai jauh sebelum malam itu tiba.

Kegelisahan yang tidak padam
Untuk memahami malam itu, kita perlu melangkah mundur ke tahun 2025. Saat itulah OMK Santo Petrus Warak memulai sebuah refleksi yang sangat jujur tentang apa yang mereka cari, apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka butuhkan dari Gereja.
Hasilnya bukan sekadar diskusi yang berlalu begitu saja. Kegelisahan itu melahirkan EKM bersama Specta, dan bahkan diabadikan dalam sebuah film pendek berjudul “Rumah”.
“Rumah” yang dimaksud bukan sekadar bangunan atau tempat berkumpul. Ia adalah ruang batin, sebuah komunitas yang mampu menerima tanpa syarat, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengayomi setiap jiwa dengan segala luka dan pergumulannya. Inilah yang dirindukan orang muda: sebuah Gereja yang benar-benar hadir.
EKM Valentine 2026 hadir bukan sebagai acara baru, melainkan sebagai kelanjutan dari napas panjang itu. Dengan tema “I Want Love, I Want Serve”, malam ini adalah muara dari satu tahun penuh kegelisahan yang dirawat dan terus dihidupkan.

Cinta yang diterima, lalu disebarkan
Ludevikus Radyaka Tegar Satya Prathidina, Ketua Panitia EKM Valentine, merangkumnya dengan jernih. Bagi dia, acara ini bukan titik akhir, melainkan jembatan.
“Harapannya, dengan mengenali diri sendiri, kita bisa menerima cinta. Dan dari cinta yang kita terima itu, kita memiliki keberanian untuk menyebarkan apa yang kita dapatkan ke lingkungan sekitar kita,” ujarnya.
Inilah logika cinta yang berbeda dari yang biasa dirayakan pada hari Valentine. Cinta bukan destinasi, bukan sesuatu yang disimpan untuk diri sendiri. Cinta adalah titik berangkat. Ia diterima, dirasakan, lalu harus keluar dan mewujud dalam pelayanan nyata bagi sesama.

Teguran dari altar: jangan hanya berjalan di tempat
Perayaan Ekaristi Kaum Muda dipimpin Rm. Yohanes Yunuar Ismadi, Pr dan Rm. Diakon Fransiskus Xaverius Merry Christian Putra, Pr.
Rm. Tian mengajak umat untuk mendefinisikan ulang arti pertobatan. Pertobatan bukan ritual keagamaan musiman, bukan pula urusan puasa semata. Pertobatan adalah keberanian untuk benar-benar berubah.
Ia melempar satu pertanyaan yang menohok, “Apakah kita sungguh sedang berjalan maju, atau sebenarnya hanya merasa nyaman berjalan di tempat?”
Zona nyaman memang memikat, tetapi itulah justru yang paling berbahaya. Ia tidak menyakiti, ia hanya menghentikan. Tuhan memanggil setiap orang muda bukan untuk hidup asal jalan, melainkan untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri: pribadi yang mencintai dan melayani.
Rm. Tian juga menyentuh sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari: jumlah orang muda di paroki sangat besar, tetapi keterlibatan nyata mereka dalam kehidupan Gereja masih jauh dari seimbang.
Apakah karena malas? Takut? Atau, karena mereka belum pernah benar-benar merasa disambut? Tidak ada jawaban tunggal. Namun, pertanyaannya sendiri sudah cukup untuk menggugah.
Ia pun mengajak adanya kolaborasi lintas generasi. Orang muda berproses menjadi dewasa dan bertanggung jawab, sementara orang tua memberi ruang, kepercayaan, dan dukungan penuh.

Doa-doa yang mewakili zaman
Momen paling jujur malam itu mungkin adalah ketika doa umat didaraskan. Satu per satu, ujud-ujud itu terucap dan di dalamnya tersembunyi peta batin generasi muda hari ini.
Ada kerinduan agar Gereja sungguh menjadi rumah bertumbuh yang tidak menghakimi. Ada permohonan akan dukungan orang tua terhadap keterlibatan anak muda. Ada doa untuk kesehatan mental di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Juga ada pergumulan yang paling sunyi tetapi paling berat: pencarian jati diri, kecemasan akan masa depan, dan kebingungan menimbang arah panggilan hidup.
Doa-doa itu bukan sekadar kata-kata liturgi. Ia adalah pengakuan bahwa orang muda sedang membawa beban yang nyata dan mereka membutuhkan “rumah” yang cukup lapang untuk menampung semuanya.
Ketika sekat usia runtuh
Setelah Ekaristi, acara dilanjutkan dengan sesi dinamika bersama yang dirancang untuk memecah kebekuan antara PIR dan OMK lintas usia. Mereka dibagi dalam kelompok campur, bekerja sama, tertawa bersama.
Ada pemilihan Queen dan King yang menghadirkan gelak tawa dan kehangatan persaudaraan.
Malam pun ditutup dengan penampilan DJ Willy. Dentuman musik membuat seluruh ruangan melebur menjadi satu.
Sekat pun runtuh. Tidak ada lagi jarak usia, rasa canggung, atau perasaan asing. Malam itu, seluruh OMK dan PIR Paroki Santo Petrus Warak bersenang-senang dan merayakan masa muda dengan sukacita di dalam rumah Tuhan.

Api yang terus menyala
Malam 14 Februari 2026 telah berlalu. Namun, kerinduan yang menyulutnya tidak. Dari refleksi 2025, dari film “Rumah”, dari khotbah yang menohok, dari doa-doa yang tulus, hingga tawa yang meledak di pengujung malam, semuanya adalah cara orang muda Warak menjaga nyala api itu tetap hidup.
Gereja adalah rumah mereka. Dan dari rumah itulah, setelah menerima cinta, setelah mengenal diri, setelah dipulihkan, mereka berangkat. Bukan untuk diri sendiri. Melainkan untuk dunia.
Hans Salvatore








