Kita hidup pada zaman ketika kepemilikan dianggap sebagai identitas. Gaya hidup konsumerisme mendorong kita untuk terus membeli, menumpuk, dan mencari kebahagiaan dari barang-barang duniawi. Namun, sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk hidup sederhana, berbagi, dan memusatkan hidup kita pada Kristus.
Aku lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik. Sejak kecil, aku diajarkan untuk rajin berdoa, pergi ke gereja, dan mengikuti Misa. Namun, ketika menginjak usia remaja, aku mulai terpengaruh oleh gaya hidup modern yang serbamaterialistis. Aku berpikir bahwa memiliki barang-barang mewah atau mengikuti tren terkini adalah cara untuk mendapatkan pengakuan dan kebahagiaan.
Semuanya berubah ketika aku mengikuti keluargaku untuk bepergian ke Korea Selatan pada Februari 2024. Di sana, aku bertemu dengan seseorang yang mengajak aku berbicara di kereta. Dari pembicaraan, aku mengetahui dia beragama Kristen dan sedang membahas terkait keagamaan dan ajaran Tuhan.
Beberapa waktu berselang dia bertanya, “Mengapa kamu bepergian ke Korea?”
Aku menjawab, “Saya ingin merasakan kebahagiaan dan membeli beberapa suvenir Korea.”
Kemudian dia berkata, “Hidup bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang (kepada) siapa kita melayani.”
Kata-kata itu menamparku. Aku menyadari selama ini aku lebih mementingkan barang-barang daripada relasi dengan Tuhan dan sesama.
Setelah pulang dari Korea Selatan, aku mencoba mengubah gaya hidupku. Aku mulai memilah barang-barang yang tidak aku butuhkan dan memberikannya kepada mereka yang membutuhkan. Aku juga belajar untuk tidak mudah tergoda dengan iklan dan promosi yang memaksaku membeli sesuatu hanya demi gengsi.
Yang paling berharga dari perubahan ini adalah kedamaian batin yang aku rasakan. Aku menjadi lebih bersyukur atas apa yang aku miliki, lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidup, dan lebih dekat dengan Tuhan. Hidup sederhana ternyata jauh lebih bermakna. Pilihanku untuk meninggalkan gaya hidup konsumerisme ini tidak selalu mudah, tetapi aku percaya ini adalah jalan yang benar.
Apakah kita hidup untuk menyenangkan Tuhan atau untuk memuaskan keinginan duniawi? Yesus mengajarkan kita bahwa hidup yang berkenan di mata-Nya adalah hidup yang penuh kasih, berbagi, dan kesederhanaan.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, sudahkah aku hidup sesuai dengan kehendak-Nya? Hidup sederhana adalah tanda cinta kita kepada Tuhan dan sesama. Mampukah kita untuk bertobat dan membenarkan diri untuk mengikuti kehendak-Nya? Tuhan Memberkati.
Jaysen Wesley (SMA Citra Berkat Citra Indah)








