“…dan Mereka Hidup Berbahagia—Selama-lamanya?” (2)

Pertobatan—Proses yang Berkesinambungan:  Orientasi pada Proses yang Manusiawi

Cermin585 Views
Jika pertobatan tidak menghapus kerentanan manusia, maka kehidupan sesudah pertobatan perlu dipahami sebagai proses yang terus berlangsung. Walaupun seseorang telah menjadi “saleh”, banyak berdoa, dan bertobat, tidak semua doa yang dipanjatkan otomatis akan dikabulkan. Terkadang, keadaan yang tidak sesuai harapan dianggap sebagai suatu ketidakberesan.

 

Doa yang tidak segera dikabulkan dapat melahirkan kekecewaan kepada diri sendiri, orang lain, bahkan kepada Allah yang dianggap tidak peduli. “Toleransi” terhadap realitas pun menjadi rapuh. Kesalehan dapat menjadi narsistik dan kurang manusiawi ketika seseorang tidak lagi mampu menerima realitas yang tidak berjalan sebagaimana yang diharapkannya. Kekecewaan itu kemudian dapat berubah menjadi kemarahan.

Kejatuhan kembali setelah pertobatan menunjukkan bahwa kehidupan rohani perlu dipahami sebagai proses manusiawi yang terus berlangsung, bukan hasil akhir yang sekali dicapai. Manusia masih dapat marah, terluka, tergoda, bahkan jatuh kembali. Karena itu, kehidupan rohani membutuhkan keterbukaan yang terus-menerus terhadap transformasi.

Proses yang Berkesinambungan

Kejatuhan kembali dapat terjadi bila ada hasrat tak teratur serta kesempatan. Allah menganugerahkan kehendak bebas kepada manusia, sehingga mengetahui risiko dan konsekuensinya. Allah tidak menghendaki dosa. Tetapi, kebebasan itu membuat manusia dapat memilih untuk menolak atau menanggapi rahmat.

Pertobatan bukan peristiwa sekali jadi. Pengalaman spiritual tidak menghapus hasrat yang tidak teratur, kerentanan psikologis, maupun kemungkinan jatuh kembali. Oleh karena itu, dibutuhkan usaha manusia dalam menanggapi rahmat, supaya terhindar dari kejatuhan.

Pertama, dibutuhkan kesadaran akan adanya kerentanan. Dalam suatu retret, Romo Krispurwana SJ mengajarkan bahwa kita perlu membuat peta kerentanan yang menggambarkan situasi di mana kita bisa jatuh. Peta ini dapat memuat kebutuhan emosional, dorongan, situasi pemicu, kesempatan, dan pembenaran yang biasa kita gunakan. Mengakui kerentanan bukan berarti menyerah pada kelemahan.

Kedua, kita butuh belajar untuk melakukan diskresi. Diskresi Santo Ignatius dapat membantu kita memperhatikan gerak batin yang berupa pikiran, emosi, daya tarik, dan penolakan. Kita menilai dari mana gerak itu berasal dan ke mana ia akan membawa. Tidak semua pengalaman yang terasa kuat, damai, atau “rohani” dengan sendirinya berasal dari Allah.

Ketiga, kontrol sosial dibutuhkan untuk mencegah dan mengatasi kejatuhan kembali. Kontrol sosial bukan hanya berupa penghukuman atau pengawasan tanpa batas, melainkan keberadaan aturan, koreksi, akuntabilitas, dan orang lain yang berani mengatakan bahwa seseorang sedang melangkah terlalu jauh. Kontrol sosial yang manusiawi hanya dapat terwujud melalui kerja sama. Seseorang tetap perlu dilibatkan dalam keputusan, dibantu untuk memilih, dan dimintai tanggung jawab sesuai kapasitasnya.

Thomas Merton, seorang rahib Trapis dan penulis rohani terkemuka, menulis buku “Seven Storey Mountain” yang berisi kisah pertobatannya saat muda. Namun, di usia 51 tahun, beliau menjalin hubungan asmara dengan seorang perawat muda. Setelah seorang rahib mendengar percakapan teleponnya dan melaporkannya kepada kepala biara, Merton diminta mengakhiri hubungan tersebut. Peristiwa ini dicatat dalam volume keenam otobiografinya yang berjudul “Learning to Love”. Pelajaran penting dari peristiwa ini bukan hanya mengenai kejatuhan Merton, tetapi juga keberadaan komunitas yang tidak membiarkannya berkembang tanpa koreksi. Ada akuntabilitas dan persaudaraan yang berani mengatakan bahwa ia telah melangkah terlalu jauh.

Komunitas serta para tokoh religius tidak cukup hanya menampilkan kisah pertobatan di atas panggung. Setelah lampu dimatikan, orang tetap membutuhkan persahabatan, batas yang sehat, pendampingan profesional, serta ruang untuk mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Kesaksian bukanlah jaminan bahwa seseorang tidak dapat jatuh kembali. Kasih tidak hanya bekerja pada saat klimaks pertobatan. Kasih juga bekerja melalui koreksi, pengobatan, pendampingan, dan kesediaan menemani proses yang panjang tanpa menyematkan stigma.

Keempat, dibutuhkan rahmat Allah supaya kehendak manusia senantiasa dapat dimurnikan. Sesuai dengan apa yang tertulis dalam perjanjian lama, Allah ingin manusia selamat. Oleh karena itu, Allah memberi Taurat dan sepuluh perintah Allah, serta mengutus para nabi untuk memperingatkan manusia.

Dalam perjanjian baru, Yesus turun ke dunia untuk menjadi teladan dan panutan mengenai bagaimana membuat pilihan yang tepat. Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, agar kita memohon kepada Allah untuk menghindarkan kita dari pencobaan. Pilihan untuk meneladani Yesus artinya menapaki jalan salib. Roh Kudus dicurahkan agar kita bisa membuat pilihan bebas yang sesuai dengan kehendak Allah.

Rahmat bukan kekuatan ajaib searah yang seketika menghapus kelemahan manusia. Rahmat mengundang tanggapan manusia dengan cara membuka hati untuk melihat diri dengan jujur, menerima pertolongan, bangkit setelah jatuh, dan kembali memilih yang baik. Oleh karena itu, kita perlu selalu menata dan menjernihkan hati agar terang bimbingan Roh Kudus dapat menuntun pilihan-pilihan kita.

Kisah St. Ignatius dan Thomas Merton menunjukkan bahwa pertobatan berkembang melalui perjalanan panjang dalam memahami diri, mengenali karya Allah, dan terus memilih-Nya di tengah dinamika kehidupan. Ketika seseorang merasa dirinya sudah selesai, justru di situlah ia berisiko berhenti membiarkan dirinya ditransformasikan.

Allah memang Maha Pengampun. Namun, pengampunan bukan izin untuk berbuat sesuka hati. Kerentanan tidak boleh dipermalukan, tetapi juga tidak boleh diromantisasi. Rahmat tidak meniadakan kehendak, disiplin, pengobatan, maupun kontrol sosial. Rahmat bekerja melalui semuanya itu. Rahmat bekerja bukan sebagai pengganti usaha manusia, melainkan melalui usaha manusia: melalui dokter, sahabat, komunitas, disiplin, sakramen, serta keberanian untuk bersedia memulai kembali.

Penutup

Kehidupan sesungguhnya diuji bukan hanya pada detik pertobatan. Ujian sesungguhnya terjadi ketika panggung telah kosong, sorak-sorai berhenti, dan seseorang kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan tubuh serta bekas luka yang masih dibawanya. Kekudusan bukanlah hidup yang tidak pernah retak, melainkan kesediaan untuk terus kembali kepada Allah dalam apa pun situasi yang terjadi dalam kehidupannya.

  • Penulis menggunakan bantuan AI untuk membantu penelusuran referensi serta memperbaiki tata bahasa. Penulis berterima kasih kepada Romo Krispurwana, SJ, yang telah memberikan inspirasi, koreksi, dan masukan atas tulisan ini.

 

Tulisan sebelumnya Bagian 1:

“…dan Mereka Hidup Berbahagia—Selama-lamanya?”

Sleman, 8 Agustus 2026
Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi RS Bethesda Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *