Kala itu saat makan siang bersama teman kampusku, ia bercerita tentang kematian ayahnya yang kira-kira sudah genap 10 bulan yang lalu. Terdengar biasa ketika di umur 20-an mendengar kabar kematian orang tua teman sebayaku.
Ia bercerita bahwa ayahnya sudah menderita sakit kronis sejak satu tahun sebelum kematiannya. Penyakit kronisnya merupakan tabungan gaya hidup buruknya semasa muda. Kebiasaan merokok, mabuk-mabukan, bahkan sampai penggunaan obat terlarang menjadikan itu seperti bom waktu di hari tuanya.
Beberapa kali temanku harus mengantar ayahnya pergi ke Malaysia untuk melanjutkan pengobatan intens, tetapi nihil perkembangan kesehatannya. Akhirnya, pada April 2024, ia harus tabah kehilangan ayahnya.
Menariknya, ia bercerita bahwa sebelum hari terakhir kematian ayahnya, ibunya mengatakan bahwa ayahnya seolah seperti orang sehat pada umumnya. Ayahnya banyak berkata, menceritakan masa-masa dahulu bersama keluarga kecilnya, bahkan sampai meminta maaf atas kesalahannya dahulu. Seolah dirasa ia telah menang atas penyakitnya. Namun, nyatanya tidak. Esoknya, ia meninggal.
Kala menceritakan hal tersebut, teringat dalam benakku sebuah tulisan singkat dari Quora mengenai istilah terminal lucidity. Ini merupakan sebuah istilah untuk menjelaskan fenomena meningkatnya ketajaman dan kejernihan mental pasien beberapa saat sebelum meninggal dunia.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Michael Nahm, seorang peneliti dan ahli biologi asal Jerman, bersama Bruce Greyson, Emily Williams, dan Erlendur Haralddson dalam jurnal yang berjudul Terminal lucidity: A review and a case collection (2012). Sesuai dengan istilah tersebut, lucidity dapat dikatakan sebagai kejernihan, sedangkan terminal mengacu kepada situasi sesaat sebelum kematian.
Dalam jurnal tersebut, Nahm menuliskan bahwa fenomena terminal lucidity paling banyak ditemui oleh pasien yang menderita gangguan otak, sistem syaraf, bahkan gangguan kejiwaan dalam periode waktu yang lama. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa fenomena ini dapat terjadi pada pasien yang mengidap penyakit kronis lainnya.
Kejernihan prakematian dapat terjadi dan diidentifikasikan lewat perilaku pasien yang menunjukkan perkembangan kesehatan dan mentalnya. Pasien biasa lebih komunikatif dan bergairah dari sebelumnya. Yang biasa pasien terlihat tidak nafsu makan, lambat laun menunjukan perilaku sebaliknya.
Biasanya pula pasien akan mengingat memori-memori tempo dulu dan lebih sering bercerita dengan orang-orang terdekatnya. Pada momen-momen inilah orang terdekat biasa memberikan waktu dan ruang untuk menemani sisa hidupnya.
Walaupun dalam beberapa kasus fenomena ini pernah terjadi, dalam beberapa literatur belum ada jawaban pasti yang dapat menjelaskan secara empiris fenomena tersebut. Apakah fenomena ini dapat terjadi di semua pasien pengidap penyakit kronis atau tidak? Apa penyebab awal terjadinya fenomena ini? Semua belum 100% dapat menjawabnya. Oleh sebab itu, istilah ini tidak dimasukan dalam istilah medis dan masih bersifat spekulatif.
Namun, yang menarik bagi saya pribadi, fenomena ini dapat dijadikan sebagai semacam “anugerah terakhir sebelum berakhir” atau lebih kerap saya memanggilnya dengan kiasan metafora, The Last Dopamine. Bagaimana tubuh memaksakan dirinya mencari kebahagiaan terakhir di sisa-sisa hidupnya.
Ilmiah atau tidaknya fenomena terminal lucidity bukan menjadi permasalahan utama dalam tulisan ini, tetapi bagaimana melihat fenomena ini sebagai kajian filosofis dan momentum untuk mengakhiri hidup dengan baik adalah tendensi utamanya.
Kita tahu bahwa kematian merupakan bentuk deterministik bagi sesuatu yang hidup. Pendekatan biologi akan mengatakan bahwa kematian adalah batas entropi maksimum. Sistem biologi akan tunduk pada hukum kedua termodinamika yang berarti bahwa kerusakan dan kehancuran tidak bisa dihindari.

Mungkin dalam pendekatan filosofi eksistensialisme, kematian dianggap tidak hanya sebagai kejadian biologis, melainkan sebuah momen eksistensial ketika manusia memberi arti sendiri di akhir kehidupanya.
Bagaimana dengan pendekatan teologis yang sering diungkapkan bahwa kematian bukanlah akhir dunia, tapi awal dari kehidupan kekal? Segala jenis pendekatan tersebut memang benar adanya bila diyakini secara personal, tetapi yang terutama dan mutlak adalah bahwa pada akhirnya secara jasmaniah tubuh akan mati dan berakhir.
Satu frasa bahasa latin yang berakar dari filsafat klasik adalah konsep memento mori yang berarti “Ingatlah bahwa kamu pasti mati”. Pengingat akan keniscayaan kematian telah berkembang sejak zaman filsafat kuno.
Plato dalam risalah berjudul Phaedo yang menceritakan tentang kematian Socrates memperkenalkan gagasan bahwa praktik filsafat yang tepat adalah about nothing else but dying and being dead (tidak ada yang lain selain mati dan menjadi mayat). Begitupun figure Stoik, Marcus Aurelius dalam jurnal pribadinya Meditations mengatakan, “Consider how ephemeral and mean all mortal things are” (Pertimbangkan betapa sementara dan fana segala sesuatu yang bersifat fana ini).
Dalam teologi Kristen, memento mori merupakan bagian penting dari disiplin asketis yang menekankan mengenai pelepasan dari segala hal hal duniawi dan pengarahan terhadap keabadian jiwa serta kehidupan setelah kematian. Ini selaras dengan apa yang tertulis dalam Kitab Yesus Bin Sirakh 7:36 yang menggambarkan pola hidup asketisme, “Dalam segala urusanmu ingatlah akan akhir hidupmu, maka tak pernah engkau akan berdosa.”
Memento mori kerap dikaitkan dengan simbolisasi artistik berupa objek kiasan seperti tengkorak manusia, patung, lilin yang padam, serta peti mati. Simbol-simbol kematian tersebut mendorong manusia merefleksikan makna dan kefanaan dari hidupnya sendiri.
Kembali pada apa yang saya sebut sebagai The Last Dopamine. Dalam kondisi sakit kronis berkepanjangan, fenomena terminal lucidity menjadi semacam anugerah terakhir untuk menyadari bahwa kematian adalah keniscayaan.
Manusia mulai menyadari bahwa eksistensinya di dunia sedikitnya akan berakhir, dan tubuh memaksakan dirinya untuk mendapat kebahagiaan terakhir. Kebahagiaan itu tidak dalam bentuk jasmaniah, ini adalah perihal refleksi makna dari kefanaan hidupnya.
Namun, pertanyaannya, apakah kita harus menunggu saat terakhir untuk setidaknya berdamai dengan Tuhan dan sesama? Tentu jawabannya adalah tidak. Namun, pada akhirnya itu kembali ke dalam pilihan pribadi masing-masing.
Pada akhirnya, fenomena terminal lucidity mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak hanya diakhiri oleh kematian, tetapi juga oleh kesadaran terakhir yang mungkin diberikan sebagai anugerah.
Ingatlah bahwa kamu akan mati, adalah sebuah ajakan untuk hidup dengan mulia sebelum kematian datang. Jika ia disebut sebagai The Last Dopamine, maka mungkin kebahagiaan bukan tentang menghindari kematian, melainkan tentang menemukan makna dalam hidup dan menutupnya dengan damai.
Seperti kisah temanku, mungkin kedamaian terakhir ayahnya adalah dengan mengingat momen-momen bersama keluarga kecilnya dan meminta maaf atas segala kesalahannya, sehingga ia bisa menutup mata dan berbaring dengan damai.
Yutta Sihing Gusti








