Menabur Iman Sejak Dini: Pelayanan Reti di Sekolah Minggu St. Marta

Kesaksian754 Views

Di tengah kesibukannya sebagai siswi SMK Gonzaga Mbay, Reti menunjukkan komitmen yang luar biasa dalam pelayanan Sekolah Minggu di Komunitas Umat Basis St. Marta.

SMK Gonzaga Mbay sendiri merupakan sekolah milik Yayasan Solidaritas yang dikelola oleh para Bruder dari Kongregasi Santo Aloisius. Sekolah ini tidak hanya menekankan pendidikan akademik dan keterampilan, tetapi juga pembentukan karakter serta semangat pelayanan. Nilai-nilai tersebut tampak nyata dalam diri Reti melalui keterlibatannya di tengah komunitas Gereja.

Setiap Sabtu sore, Reti datang lebih awal untuk menyiapkan ruangan Sekolah Minggu. Ia menyusun alat peraga sederhana dan melatih lagu-lagu rohani yang akan dinyanyikan bersama anak-anak. Bagi Reti, pelayanan ini bukan sekadar rutinitas. Ia melihatnya sebagai panggilan hati untuk berbagi kasih dan perhatian.

Saat ini sekitar 14 anak aktif mengikuti kegiatan Sekolah Minggu di komunitas tersebut. Meskipun jumlahnya tidak banyak, bagi Reti setiap anak adalah pribadi yang unik dan berharga.

Ia mengenal mereka satu per satu. Ada yang aktif dan penuh semangat, ada yang pemalu, dan ada pula yang membutuhkan perhatian lebih. Dengan pendekatan yang sabar dan penuh kasih, Reti berusaha membuat setiap anak merasa diterima dan dicintai.

Pelayanan ini juga menjadi wujud kepedulian Reti terhadap masa depan Gereja. Ia menyadari bahwa anak-anak adalah generasi penerus yang akan melanjutkan kehidupan dan pelayanan Gereja.

Melalui kegiatan Sekolah Minggu, ia berusaha menanamkan nilai iman, kebersamaan, dan kasih sejak usia dini. Ia berharap anak-anak yang didampinginya dapat bertumbuh menjadi pribadi yang beriman, berkarakter baik, dan siap mengambil bagian dalam kehidupan Gereja ketika dewasa.

Dalam pelayanannya, Reti tidak berjalan sendiri. Ia didampingi oleh Bruder Viktor yang dengan setia membimbing jalannya kegiatan Sekolah Minggu.

Peran Bruder Viktor sangat penting. Ia tidak hanya mengawasi kegiatan, tetapi juga menjadi pembina iman bagi para pelayan muda. Ia membantu Reti menyusun materi yang sesuai dengan usia anak-anak, memberikan arahan tentang metode pembelajaran yang ramah anak, serta mengevaluasi setiap pertemuan agar pelayanan semakin berkembang.

Bruder Viktor sering mengingatkan bahwa pelayanan kepada anak-anak adalah tugas mulia karena menyangkut masa depan Gereja. Ia juga menekankan pentingnya keteladanan hidup. Menurutnya, anak-anak lebih banyak belajar dari sikap dan tindakan daripada dari kata-kata.

Kesabaran menjadi kunci utama dalam mendampingi anak usia dini. Ketika ada anak yang sulit diatur atau mudah menangis, pendekatan yang lembut dan penuh empati menjadi jalan terbaik.

Dalam setiap pertemuan, Reti dan Bruder Viktor menyampaikan materi yang sederhana namun bermakna. Tema yang diajarkan antara lain Yesus Penolongku, pentingnya kejujuran, serta ajakan menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak juga dilatih untuk berdoa dengan baik, belajar menghargai sesama, serta menghormati orang tua sebagai wujud iman yang nyata.

Untuk menjaga semangat anak-anak, Reti melakukan berbagai usaha sederhana namun penuh ketulusan. Ia membuat grup WhatsApp bersama para orang tua agar komunikasi mengenai kegiatan Sekolah Minggu dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, sebelum kegiatan dimulai, Reti sering berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengajak anak-anak datang mengikuti pertemuan. Bahkan, kadang-kadang ia menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli permen bagi anak-anak agar mereka semakin bersemangat mengikuti kegiatan.

Keprihatinan terhadap perkembangan anak di era teknologi juga menjadi motivasi bagi Reti. Ia melihat banyak anak yang lebih akrab dengan gawai daripada dengan doa atau kebersamaan keluarga.

Hal ini membuatnya semakin terdorong untuk terus melayani dan menanamkan nilai iman serta karakter yang kuat sejak dini.

Pelayanan Reti bersama Bruder Viktor menunjukkan bahwa kepedulian terhadap anak usia dini bukan sekadar wacana, tetapi tindakan nyata. Dari ruang sederhana Sekolah Minggu, melalui doa-doa kecil dan nyanyian penuh sukacita, masa depan Gereja sedang dipersiapkan.

Ketika kaum muda dibimbing oleh pendamping yang bijaksana, lahirlah pelayanan yang penuh makna dan harapan.

Lestiana Dua, S.Pd
Guru SMK Gonzaga Mbay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *