Kita tentu akrab dengan kisah tentang anak yang hilang dalam Injil Lukas. Anak itu meminta hak warisan dari bapanya, lalu dia berfoya-foya dengan warisan itu. Karena ada musibah bencana kelaparan, dia terdampak dan menjadi miskin.
Dia mencari perkerjaan tetapi tetap tidak bisa membuatnya menghindari bencana kelaparan itu, sampai-sampai ampas untuk makanan babi tak bisa dimintanya untuk mengisi perutnya. Akhirnya, tumbuh sebuah ide dalam dirinya untuk kembali kepada bapanya. Bukan sebagai anak, melainkan sebagai seorang hamba atau upahan yang bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
Pada zaman modern seperti saat ini, entah sadar atau tidak, terkadang kita mengikuti jejak anak yang hilang itu. Karena banyak tuntutan, target yang ingin kita capai, seperti ingin mendapat hasil ujian yang bagus, mendapat juara dalam pelajaran atau dalam perlombaan tertentu, dalam dunia pekerjaan ingin cepat sukses, mendapat gaji atau bonus yang jumlahnya banyak, mendapat keuntungan yang melebihi target, memiliki dana tabungan yang bisa menjamin dihari tua, memiliki perusahaan yang besar, dan lain sebagainya.
Untuk mendapatkan itu semua, pastilah harus berusaha keras dan mau berkorban banyak hal, termasuk waktu yang kita punyai. Seperti pepatah “time is money” (waktu adalah uang) dalam esai Benjamin Franklin yang berjudul Advice to a Young Tradesman, apakah benar kita bisa mendapat kebahagiaan yang sejati dari situ tanpa memperhatikan yang lain?
Tujuan anak yang hilang itu bisa jadi ingin bebas, lalu bersenang-senang. Bisa jadi juga, target yang ingin kita capai kadang juga sama, yaitu ingin bersenang-senang dan bahagia. Namun, apa yang terjadi? Anak yang hilang itu hanya dapat menikmati rasa senang dengan berfoya-foya sesaat saja. Setelah itu, dia harus berjuang lagi dari nol. Mimpinya untuk bersenang-senang sudah lenyap dengan tragedi bencana kelaparan yang menimpa seluruh kota itu.
Aku pernah mengalami hal yang sama seperti anak yang hilang itu ketika ingin mencapai kesuksesan dengan bekerja. Aku bergabung dalam sebuah perusahan garmen luar negeri. Aku terus mengambil lembur supaya mendapat gaji yang besar. Gaji itu aku gunakan untuk bersenang-senang seperti belajar, ke dokter kecantikan untuk skincare-an, menonton film atau konser, dan hal-hal menyenangkan lainnya.
Seiring berjalannya waktu, aku menyadari aku tidak pernah pulang ke rumah yang sesungguhnya. Aku kira dengan bersenang-senang, aku menemukan kebahagiaan, tetapi ternyata tidak. Belanja, nonton, dan skincare-an hanya memberiku kabahagiaan sesaat. Walau aku terus mengulanginya, tetap saja aku merasa ada sisi ruang hatiku yang kosong.
Suatu ketika, aku mengambil cuti untuk istirahat di rumah. Aku matikan ponselku. Aku bangun pagi, lalu aku buka pintu kamarku. Di meja makan, aku melihat ibuku menyiapkan makanan untuk sarapan. Lalu, di ruang tamu bapakku bersiap diri untuk berangkat kerja. Di sebelahnya, adikku sedang mengenakan sepatu untuk berangkat sekolah. Di ruang televisi, aku melihat keponakanku yang asyik bermain dengan bonekanya.
Aku tidak pernah melihat pemadangan ini. Mereka ada, tetapi mataku tertutupi oleh target pekerjaan dan jadwalku untuk bersenang-senang.
Sebuah tangan mungil menarik bajuku dan berkata, “Ayo makan, Aunty. Makanan sudah siap.”
Itu suara keponakanku.
Pagi itu, kami makan bersama. Ada suasana kehangatan dalam jiwaku. Ruang hati yang kosong terisi oleh canda tawa Bapak, Ibu, Adik, dan keponakkanku. “Inilah kebahagiaan sesungguhnya,” kataku dalam hati setelah menikmati makan bersama.
Anak yang hilang kini sudah pulang. Sadar telah terlalu jauh pergi untuk bersenang-senang dan mencari kebahagiaan fana. Kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan sejati ada di sekitar kita. Keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar kita. Kebersamaan yang membawa sukacita, canda tawa, dan kasih yang mengeratkan persaudaraan, itulah kebahagiaan sejati.
Kebahagiaan tidak tentang apa, tetapi tentang rasa yang tumbuh dalam kerbersamaan, seperti hujan yang datang ketika musim kering, memberi kesejukkan jiwa, dirindukan, dan takkan pernah tergantikan apa pun.








