Mengenang Perjumpaan dengan Romo Prier, SJ: Musik untuk Hidup

Cermin, Sosok2345 Views

Saya bertemu dengan Romo Karl Edmund Prier, SJ pertama kali tahun 1973 atau 50 tahun lalu ketika mengikuti kuliah Filsafat Teologi di Kentungan, Yogyakarta.

Waktu itu, demi ujian akhir untuk mendapatkan gelar Sarjana Muda, saya membuat paper tentang Musik Gereja dengan dibimbing oleh pastor asli Jerman yang akrab dipanggil Romo Prier. Kuliah tersebut adalah salah satu syarat kelulusan.

Selanjutnya, ketika menyelesaikan sarjana di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, di sore hari tahun 1974 dan 1975 saya mengikuti kursus organ di Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta. Kursus ini dibimbing Romo Prier.

Saya yang berasal dari Flores ini bagaikan katak dalam tempurung. Saya berpikir sudah menjadi seorang musikus hebat. Namun, setelah mengikuti kursus organ di PML, saya sadar bakat alamiah itu belum apa-apa. Ternyata di atas langit, masih ada langit. Iringan organ dengan accord statis C, F, G, pun diperbaiki dan ditingkatkan menjadi iringan berjalan dinamis dengan not balok.

Setelah kursus organ, saya pun dipercaya oleh Romo Prier menjadi pembimbing organis kursus dasar di PML selama 1 tahun. Saya turut juga dalam diskusi-diskusi awal tentang musik Inkulturasi. Saya sadar diperlukan pengetahuan musik dan khususnya tentang Liturgi.

Setelah itu saya pun bekerja di Jakarta. Selama bekerja di Jakarta, saya selalu mengikuti informasi dari PML melalui buku-buku terbitan PML dan Warta Musik. Saya berbangga dalam rangka Perayaan 50 tahun PML, artikel karangan saya berjudul “Untuk Mencapai Selera Musik Perlu Pendidikan” dimuat dalam buku Kenangan Perjalanan 50 Tahun PML di halaman 31-35.

Di akhir artikel itu saya mengutip Chris Lowney, Heroic Leadership, “Bagi Yesuit, mereka bertekun karena mereka sekaligus penuh kepercayaan, optimistis, bodoh, dan cukup rendah hati untuk berharap dan menantikan bahwa biji-biji upaya mereka akan tumbuh mekar dalam waktu, cara, dan tempat yang tidak dapat mereka ramalkan atau kendalikan.”

Artikel itu pun ditanggapi Romo Prier melalui WhatsApp yang berbunyi, “Terima Kasih, Johan, atas artikelmu. Namun, terlalu meninggikan saya. Ketahuilah, di PML kami bekerja dalam tim.” Itulah kerendahan hati seorang Romo Prier, SJ.

Saya pun dua atau tiga kali mengirim beberapa orang, termasuk beberapa keponakan dan anak saya, untuk mengikuti Penataran Dirigen Intensif di PML dari Jakarta.  Di antara mereka adalah Alfonsia Ema Tadon (dua kali penataran dan sekarang menjadi anggota kor di Paroki Sunter) dan Antonia Humiliata Tukan yang sekarang berhasil menjadi anggota paduan suara Vocalista Sonora di Yogyakarta.

Selanjutnya adalah Merci Corebima yang kemudian menjadi dirigen di Kampung Duri. Tak ketinggalan adiknya, Ineke, pernah mengikuti ujian organis di PML. Sedangkan saudara-saudara yang lain, cukup saja mereka mengerti apa itu musik liturgi yang beda dari lagu rohani dan hiburan lainnya.

Untuk menyambut ulang tahun Romo Prier, 18 September 2023, saya menulis sebuah artikel setelah membaca tulisan Romo Prier saat menerima Gelar Doktor Honoris Kausal dengan judul pidatonya “Hidup untuk Musik”. Saya pun menanggapi tulisan itu dengan judul artikel “Musik untuk Hidup”.

Artikel itu pun saya kirim kepada Romo Prier pada 14 September 2023, tetapi tidak ditanggapi lagi oleh Romo Prier seperti tulisan pertama. Saya berpikir mungkin Romo sudah semakin lansia. Selanjutnya, artikel itu pun saya kirim ke redaksi Warta Musik, tetapi tetap tidak dimuat.

Di akhir artikel itu saya menulis, saya sendiri sangat senang dengan melodi mazmur tanggapan dari Romo Prier: “Hendaklah langit bersukacita, dan bumi bersorak-sorai, di hadapan wajah Tuhan, karena Ia sudah datang” (Puji Syukur 806). Lagu ciptaan Romo Prier tahun 1967 ini menghidupkan hati saya ketika menanggapi bacaan pertama dalam perayaan Ekaristi.

Saya berterima kasih kepada PML dan Romo Prier dengan buku-buku musiknya dan Warta Musik-nya yang selalu saya langgan dan baca. Itulah pertemuan saya dengan Romo Prier tanpa bertemu fisik. Karena pertemuan dengan PML itulah membuat saya selalu kritis terhadap beberapa organis yang main asal bunyi tanpa pengetahuan musik dan liturgi. Mereka lupa bahwa bernyanyi dan bermusik dalam Liturgi adalah doa, bukan show atau unjuk gigi.

Semoga jasa Romo Prier terus dilanjutkan oleh generasi muda masa depan Gereja Indonesia.

Jakarta, 21 Januari 2024

Johan Suban Tukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *