Paradoks Kebebasan dalam Ketaatan Seminaris sebagai Calon Imam

Pelita804 Views

Kegelisahan umum seorang yang bergabung dalam seminari sebagai seorang formandi adalah perasaan “hilangnya kebebasan”. Idealnya, setiap manusia bebas untuk menentukan sendiri jalan hidupnya.

Dalam sebuah definisi yang terdapat dalam buku karya Rm. Armada Riyanto, CM berjudul Menjadi-Mencintai (2010), manusia adalah dia yang mencari, mengejar, menyerahkan diri, bermimpi, dan menciptakan sejarah hidupnya sendiri. Kata “sendiri” menjadi penting, karena manusia mempunyai kebebasan mutlak, paling tidak atas dirinya sendiri.

Kondisi ideal tersebut terpatahkan oleh kondisi riil yang dialami. Ketika masuk ke dalam sebuah seminari, seseorang, secara sadar, harus memberikan kebebasannya dan menyerahkannya kepada pimpinan setempat. Itulah yang dialami hampir oleh setiap pribadi yang menjalani masa formasi di seminari. Pergulatan nyata tersebut kadangkala membuat orang memberontak, karena ia merasa bahwa kebebasannya terusik.

Topik ini menjadi relevan untuk dibahas karena adanya fenomena para seminaris yang menunjukkan indikasi pemberontakan terhadap staf seminari yang mendidik mereka. Pemberontakan tersebut didasari rasa tidak puas yang dirasakan oleh para seminaris sebagai tanggapan atas suatu kebijakan dan/atau perlakuan para staf seminari.

Para seminaris adalah mereka yang sedang berada dalam masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Gejolak idealisme dan hormon turut menyertai proses formasi seminaris. Masa tersebut juga menjadi masa seseorang mencari jawaban atas pertanyaan “Siapakah aku?” Proses eksplorasi makin hebat seiring makin luasnya lingkup sosial yang ditinggalinya.

Kehidupan yang ada di dalam tembok seminari, pada nyatanya, tidak luput dari intrik dan persoalan. Komunitas laki-laki menjadi komunitas yang cukup alot, karena sering kali terjadi gesekan idealisme di sana. Intrik dan gesekan sering kali muncul dari suatu rasa ketidakpuasan seminaris terhadap aturan seminari atau kebijakan para staf seminari. Di masa muda, idealisme manusia sedang dalam masa mekar-mekarnya, maka pertentangan idealisme adalah sesuatu yang terjadi secara alamiah.

Alam mempunyai hukumnya sendiri-sendiri. Tidak ada, di seluruh tempat di bumi, yang tidak memiliki peraturan. Semua tempat memiliki peraturan, tidak terkecuali seminari. Para seminaris diundang untuk taat pada Allah melalui bentuk-bentuk aturan yang ada di komunitasnya, karena orang beriman selalu diundang untuk taat pada Allah melalui bentuk-bentuk aturan (Suwito, 2022). Para seminaris jugalah kelompok orang beriman.

Banyak pihak menganggap bahwa ketaatan mengaburkan kebebasan manusia sama sekali. Beberapa memahami ketaatan sebagai suatu upaya untuk menekan kehendak pribadi supaya visi pimpinan dapat tercapai. “Menekan” adalah diksi yang sangat sempit untuk menggambarkan ketaatan. Konotasi yang ditimbulkan oleh diksi tersebut justru merusak pribadi itu sendiri. Pada akhirnya, seorang menjadi lelah dengan definisi sempit yang dipahaminya itu.

Lantas, apa itu ketaatan? Ketaatan berasal dari kosakata bahasa Latin oboedire yang merupakan gabungan dari prefiks ob dan kata kerja audire,bahasa Yunani hyp-akuo,dan bahasa Ibrani shama yang berarti mendengarkan dengan sungguh-sungguh, membuka telinga seseorang, dan melaksanakan tindakan praktis (Paredes, 2016). Dalam pemahaman yang lain, ketaatan adalah bentuk istimewa dari mendengarkan yang hanya dapat dilakukan seorang anak kepada bapanya (Rosalina, 2020).

Menjadi jelas kiranya bahwa ketaatan bukan pertama-tama menekan, melainkan mendengarkan. Dalam seminari, para seminaris memiliki para staf yang mendidik mereka. Paham mengenai ketaatan hendaknya sampai pada kesadaran bahwa “bapanya” hanya memiliki hal-hal baik untuk dikatakan dan diberikan kepadanya. Maka, seorang seminaris diharapkan memiliki kemampuan untuk mendengarkan dengan dilengkapi dengan rasa percaya yang tulus sehingga ia mampu menerima kehendak bapanya, dengan keyakinan bahwa itu dilakukan demi kebaikannya (Rosalina, 2020).

Seminaris yang kritis lalu bertanya, “Lantas, kebebasan saya hilang dong kalau saya taat?” Secara logis, taat pada kehendak orang lain berarti secara sadar mengurangi kebebasannya. Namun, dokumen Vatikan, El Servicio De La Autoridad Y La Obediencia (2008) yang membahas instruksi kongregasi untuk tarekat hidup bakti dan serikat hidup kerasulan, memberikan pencerahan. Ketaatan adalah satu-satunya cara yang dimiliki oleh pribadi manusia, makhluk berakal budi dan bebas, untuk dapat mencapai realisasi diri sepenuhnya (Rosalina, 2020).

Manusia bertendensi untuk memberontak apabila di sana tiada kesempatan bagi kehendaknya untuk mengambil tempat. Namun, menurut dokumen Gereja tersebut, manusia justru akan membahayakan rencana Allah, mengerdilkan dirinya, dan ditakdirkan untuk gagal apabila ia mengatakan “tidak” pada kehendak Allah (Rosalina, 2020).

Ada sebuah paradoks antara kebebasan dengan ketaatan. Apakah benar-benar ada kebebasan dalam ketaatan? Ketaatan pada Allah adalah sebuah jalan pertumbuhan, sekaligus kebebasan pribadi tersebut. Pada saat yang sama, kebebasan adalah sebuah jalan untuk mencapai ketaatan, sebab orang beriman mewujudkan kebebasannya dengan menaati rencana Bapa (Rosalina, 2020).

Dengan uraian demikian, kita bisa bertanya, “Benarkah pemberontakan terhadap staf seminari tersebut?” Kalau ditinjau dari uraian di atas, maka pemberontakan tersebut tidaklah benar. Para staf seminari diandaikan adalah perpanjangan tangan Allah yang mengetahui apa yang baik bagi seminaris. Maka, pemberontakan yang ditujukan pada para staf seminari bukan sebuah pilihan yang formatif.

Sikap kerendahan hati untuk dibentuk sepertinya masih perlu untuk terus dilatihkan. Apabila coba ditinjau secara logis, maka tampaknya akan sangat sulit untuk melatihkannya, karena manusia ingin bebas; tentu dengan definisinya masing-masing. Maka, para seminaris diharapkan untuk tidak hanya mengandalkan rasionalitas dalam berformasi, tetapi juga harus melibatkan rasa dan terutama rahmat Allah.

Gusti Kresna Wisnusiwi (Seminaris Seminari Menengah Mertoyudan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *