Dalam pengalaman misi keliling Montfortan di Paroki Santo Yusuf Blitar, Jawa Timur, ada suatu momen yang sangat bersejarah dan perdana bagi kami, anggota komunitas Seminari Pondok Kebijaksanaan Malang, Jawa Timur.
Pengalaman misi keliling ini menyadarkan kami akan suatu kebenaran iman bahwa Allah sering kali menampakkan wajah-Nya justru dalam kesederhanaan dan kesunyian hidup umat. Di tengah kondisi umat yang sedikit dan tersebar di beberapa wilayah, kami belajar bahwa iman tidak hanya bertumbuh dalam kelimpahan, melainkan dipelihara oleh kesetiaan yang sunyi serta ketekunan yang dijalani dengan kesabaran.
Kunjungan yang dilakukan oleh para frater dan bruder dari rumah ke rumah, bahkan ada yang mengunjungi dari desa ke desa, adalah suatu pengalaman iman dan panggilan yang membawa berkat tersendiri.
Pengalaman duduk di ruang-ruang sederhana, mendengarkan kisah hidup umat, dan berdoa bersama, membuka mata kami bahwa pewartaan tidak selalu dimulai dari mimbar atau program besar pastoral.
Kehadiran tulus di tengah umat memiliki telinga yang mau mendengarkan dan hati yang terbuka sering kali menjadi sarana utama dalam mewujudkan kehadiran Allah. Dalam iman umat yang hidup sebagai minoritas, kami menemukan keberanian untuk tetap percaya, berharap, dan mencintai Tuhan tanpa banyak sorotan dan tanpa jaminan kenyamanan.
Kami menjumpai umat yang setia hadir dalam doa lingkungan meskipun jumlahnya tidak banyak. Namun, kami melihat partisipasi dan sukacita umat dalam memelihara iman di tengah keluarga yang berbeda keyakinan.
Dari mereka kami belajar bahwa iman bukan sekadar pengetahuan, melainkan pilihan hidup yang dijalani dengan sabar dan setia. Dalam kesederhanaan itulah, wajah Allah menjadi nyata, yakni Allah yang dekat, mendengarkan, dan berjalan bersama umat-Nya.
Dalam kegiatan misi keliling ini, kami juga tidak hanya datang untuk mendengarkan umat, melainkan ikut serta dalam dinamika aktivitas keluarga yang kami tempati. Salah satu tujuan dari misi ini ialah bagaimana kami melihat dan mengalami apa yang dilakukan umat setia hari dalam hidupnya. Maka dari itu, kami dalam beberapa hari melaksanakan misi ikut serta dalam kegiatan umat seperti membersihkan umat, pergi ke kebun dan ladang, menjaga lansia, menjaga toko, dan masih banyak hal yang kami lakukan.
Kegiatan sederhana yang kami lakukan ini menyadarkan kami bahwa dalam menjalani hidup ini perlu perjuangan dan kerja keras dalam mewujudkan suatu tujuan atau cita-cita.
Bagi kami, para Montfortan, pengalaman bermisi ini semakin meneguhkan spiritualitas kami untuk berjalan bersama Maria menuju Yesus. Seperti Maria yang hadir dengan sederhana tetapi setia dalam seluruh perjalanan keselamatan, umat Blitar pun menghidupi iman mereka dengan ketekunan yang tenang.
Iman itu tidak banyak diungkapkan dengan kata-kata, melainkan dihidupi melalui doa yang setia, kerja sehari-hari, dan kesungguhan menjalani hidup apa adanya. Doa lingkungan dan katekese yang sederhana menjadi ruang Allah berkarya secara lembut tanpa gemerlap, tetapi sarat makna.
Kami dalam kegiatan ini mewartakan suatu jalan baru yang ditawarkan oleh St. Montfort, yakni jalan pembaktian diri kepada Yesus melalui Bunda Maria. Konsep dasar dari pembaktian diri kepada Yesus dalam tangan Maria berakar pada pemahaman akan totalitas penyerahan diri Tuhan.
Pembaktian diri ini bukan suatu tindakan lahiriah atau devosi kepada Maria tetapi merupakan bentuk penyerahan diri secara utuh jiwa, raga, hati, pikiran, dan kehendak kepada Yesus Kristus melalui Bunda Maria.
St. Montfort menegaskan bahwa Maria adalah jalan yang paling pendek, termudah, tersuci, dan paling sempurna untuk sampai kepada Yesus Kristus. Oleh karena itu, semakin seseorang membiarkan Maria membimbing dan membentuk dirinya, semakin ia dipersatukan secara intim dengan Kristus.
Dalam perjumpaan-perjumpaan yang tampak biasa itu, kami justru sampai pada kesadaran bahwa bukan kami yang sepenuhnya membentuk umat, melainkan umatlah yang perlahan membentuk kami.
Kesetiaan iman mereka menjadi cermin yang menegur cara pandang kami, menyucikan niat pelayanan kami, dan mengantar kami kembali pada inti panggilan, yakni melayani dengan hati yang rendah dan setia.
Kami belajar bahwa misi tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kami bawa, melainkan oleh kesediaan untuk hadir, tinggal, dan berjalan bersama umat. Pengalaman misi keliling ini juga memperdalam pemahaman kami tentang makna pelayanan.
Pelayanan bukan terutama soal banyaknya kegiatan, keteraturan program, atau keberhasilan yang tampak di mata manusia. Pelayanan sejati lahir dari kesediaan untuk berbagi hidup, mendengarkan cerita dan keluh kesah, tertawa bersama dalam kesederhanaan, dan menemani umat dalam sunyi dan keterbatasan.
Dalam kebersamaan itulah, pelayanan menjadi ruang perjumpaan yang menghidupkan, baik bagi umat maupun bagi para pelayan. Melalui pengalaman ini, kami semakin diyakinkan bahwa Allah tidak selalu menampakkan diri dalam hal-hal besar dan mengesankan. Ia justru hadir dalam rumah-rumah sederhana, dalam doa yang diucapkan dengan terbata-bata, dalam sapaan hangat umat, dan dalam kesetiaan yang jarang diperhatikan.
Wajah Allah kami temukan dalam iman umat yang sederhana tetapi kukuh, dalam hidup yang mungkin tampak biasa, tetapi dijalani dengan cinta dan penyerahan diri. Misi keliling Montfortan di Blitar akhirnya menjadi cermin bagi perjalanan panggilan kami sebagai frater dan bruder.
Kami diingatkan untuk terus belajar menjadi pelayan yang rendah hati, siap diutus ke mana pun, dan berani tinggal bersama umat dalam kesederhanaan hidup. Dalam kebersamaan itulah, kami percaya bahwa Allah terus berkarya, menyapa, meneguhkan, dan menumbuhkan iman, bukan melalui kemegahan, melainkan lewat kesetiaan yang hening dan kasih yang sederhana.
Edelbertus Edwardo Engso








