Jakarta Eucharistic Revival 2026: Bangunkan Generasi Muda yang “Tertidur”

Pelita586 Views

Jakarta Eucharistic Revival (JER) 2026 menjadi momentum “membangun” iman umat Katolik di tengah perubahan zaman. JER 2026 diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) berkolaborasi dengan Komunitas Heaven Mikael, bertempat di Plenary Hall Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan dan dihadiri sekitar 6.000 peserta.

Kegiatan pada Sabtu, 28 Februari 2026 ini bertujuan meningkatkan pengenalan dan penghayatan umat terhadap Ekaristi sebagai sumber dan puncak iman Katolik.

Revival ini adalah panggilan untuk membangunkan kembali para umat Katolik terutama generasi muda yang mungkin “tertidur”. Membangunkan mereka tentu membutuhkan pemantik yang antimainstream.

JER 2026 menghadirkan pemantik itu melalui kegiatan workshop tematik yang berbicara tentang generasi muda hingga LGBT. Melalui pendekatan musik pop sinematik dan visual dengan sentuhan teknologi dan artificial intelligence (AI), JER 2026 berhasil menghadirkan berbagai kisah di Alkitab dengan video cinematic bantuan AI.

Dimulai dari pertanyaan yang Jujur

Rm. Yustinus Ardianto, Pr selaku seksi acara menjelaskan acara ini berangkat pertanyaan mendasar: “Apa masalah yang sedang dialami umat Katolik saat ini?”

Imam yang akrab disapa Rm. Yus ini mengungkapkan, di tengah kesulitan ekonomi, kesulitan mencari pekerjaan, kesepian para lansia, hingga krisis identitas bagi GenZ di era digital, Gereja mencoba hadir untuk memberi solusi, tidak hanya secara liturgi, tetapi juga secara sosial.

Tradisi Katolik mengajarkan bahwa kita adalah peziarah pengharapan. Keenam tema workshop yang diangkat menjadi kelanjutan semangat Tahun Yubileum dengan satu pesan utama, yaitu orang Katolik dipanggil untuk memiliki harapan dan menjadi pembawa harapan.

Bagaimana kaum muda yang kesulitan mencari pekerjaan tetap bangkit? Bagaimana generasi lansia yang mengalami kesepian tetap menemukan makna? Bagaimana iman tetap relevan di tengah arus teknologi?

Yang muda yang bergaya

Di samping berbagai rangkaian workshop dan pelayanan Sakramen Rekonsiliasi, JER diakhiri dengan Adorasi Sakramen Mahakudus yang dipimpin Uskup Keuskupan Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunyamin, OSC sedangkan Perayaan Ekaristi dipimpin Mgr. Ignasius Kardinal Suharyo.

Dalam suasana doa yang mendalam, umat diajak mengalami kembali perjumpaan pribadi dengan Kristus.

Rm. Deodatus Salto, Pr (Romo Salto) bersama stand up comedian Priska Baru Segu hadir dalam sesi workshop berjudul “Yang Muda Yang Bergaya”. Dalam workshop ini, Priska Baru Segu menceritakan pengalaman iman yang merasakan suara dan rencana Tuhan melalui keluarga.

Sementara itu, Rm. Salto yang menceritakan panggilan menjadi imam melalui orang-orang di sekitarnya. Ia mengungkapkan dua kalimat atau yang lebih dikenal “quotes” bagi para Gen Z, yaitu “Kalau ada waktu untuk skincare, harus ada waktu batin care” dan “Di ruang adorasi kita bisa menangis, karena Tuhan tidak menghakimi. Di Gua Maria ada kasih keibuan dari Bunda Maria.”

Mode diam dan mode bicara

Dalam homilinya, Mgr. Anton mengajak umat berefleksi  bahwa Ekaristi adalah “mode diam”—mendengarkan Tuhan.

Saat imam berkata, “Pergilah, saudara-saudari diutus,” itu adalah “mode bicara”—saat umat dipanggil mewartakan Sabda Tuhan melalui tindakan nyata.

Mgr. Anton mengajak umat untuk tidak berhenti pada sebuah formalitas atau kewajiban, tetapi mengimani dan menghayati Ekaristi sebagai energi hidup sehari-hari.

Gereja berevolusi tanpa kehilangan akar

Salah satu “pembeda” JER 2026 adalah pendekatan visual imersif yang mengangkat narasi sejarah keselamatan manusia dari kejadian lama, kejadian baru, hingga Kisah Bunda Maria. Instalasi digital, ruang imersif, dan visual yang dikerjakan oleh anak-anak muda dengan bantuan AI menghadirkan pengalaman kontekstual bagi generasi digital.

Musik pop sinematik mengiringi perjalanan JER menjadi jembatan antara tradisi Gereja dan perubahan zaman.

Gereja Katolik memang dikenal berhati-hati dalam merespons perubahan. Sejarah menunjukkan bagaimana pembaruan besar terjadi melalui Konsili Vatikan II. Rm. Yus mengungkapkan Ecclesia semper reformanda—Gereja yang selalu diperbarui.

Hal ini juga menjadi perhatian Bapa Suci, yaitu Paus Leo XIV, yang memilih nama Leo. Bapa Suci terinspirasi dari Paus Leo XIII yang hidup pada era revolusi industri. Gereja hari ini pun terbuka untuk berdialog dengan revolusi teknologi, tanpa menghilangkan tradisi.

Christopher Hadrian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *