Reuni dengan tajuk “Kembali ke Arke” yang diselenggarakan oleh siswa Seminari Wacana Bhakti (SWB) Jakarta angkatan 3 di Pusat Pastoral Samadi pada 30 – 31 Mei 2026 lalu dan dihadiri oleh para guru, romo pamong, dan frater pendamping mereka, dapat ditarik benang merah bahwa pendidikan yang didapatnya selama tiga tahun di seminari dan SMA Kolese Gonzaga, dua lembaga pendidikan yang menyatu itu, adalah pendidikan yang membebaskan.
Formatio seminaris SWB memang agak unik apabila dibandingkan dengan pendidikan seminaris pada umumnya. Unik, karena para seminaris dileburkan menjadi satu bersama para Gonzagawan dan Gonzagawati pada pagi hari saat mereka mengikuti sekolah dengan kurikulum SMA dan pada sore hari dalam mengikuti program belajar seminari setelah seminaris pulang sekolah yang tinggal di asrama.
Namun demikian, untuk tiga angkatan awal, SMA Kolese Gonzaga belum menerima murid putri sehingga seminaris angkatan 3 mengalami pertemanan, satu tahun berteman dengan cowok semua, dengan Gonzagawan saat mereka belajar di sekolah. Baru dua tahun berikutnya, setelah sekolah menerima murid putri, seminaris baru berteman dengan siswa dan siswi, Gonzagawan dan Gonzagawati di sekolah.
Satu tahun berteman dengan dua angkatan yang muridnya cowok semua, seminaris mendapatkan banyak pengalaman berharga bisa berjumpa dengan berbagai tipe orang, banyak teman yang baik tetapi juga ada teman yang “nakal”.
Perjumpaan dengan siswa nakal, ternyata memberikan warna tersendiri bagi seminaris dalam seluruh proses pembentukan dirinya. Demikian pula, kehadiran siswi di dua angkatan berikutnya sebagai adik kelas, membuat seminaris semakin lengkap dalam formasi diri.
Kenakalan menonjol siswa Gonzaga angkatan 3 seperti ngerjain guru muda atau guru baru yang sedang mengajar di kelas atau cabut dari kelas maupun sekolah kadang menginspirasi para seminaris untuk membuat kenakalan serupa saat mereka berada di asrama.
Demikian pula, saat sekolah menerima putri sebagai adik kelas, seminaris tidak mau ketinggalan dengan teman cowok SMA lainnya untuk mencari perhatian dari siswi dengan cara rajin memberikan pelayanan informasi atau mengajari materi pelajaran kepada para siswi baru.
“Kami tadi malam sudah mulai sharing, mengenang masa lalu, siapa yang nakal dan saya jatuh cinta kepada siapa, rahasianya yang tahu guru-guru saya ini,” demikian sebagian prolog yang disampaikan Direktur Pusat Pastoral Samadi Jakarta Rm. Yustinus Ardianto, Pr yang menjadi Selebran Utama dan salah satu alumni SWB angkatan 3 dalam Misa Hari Raya Tritunggal di Ballroom OKS Samadi Klender yang dihadiri oleh peserta reuni dan lebih dari 500 umat Paroki St. Anna.
Banyak orang mengatakan bahwa kenakalan dan keisengan yang dilakukan anak SMA, seperti iseng kepada guru, cabut belajar, merokok di sekolah dan kenakalan lain sejenisnya itu wajar, dan kenakalan itu hampir terjadi di sekolah lain.
Namun demikian, anggapan kenakalan tidak akan terjadi pada seminaris, tidak sepenuhnya benar, ternyata seminaris SWB angkatan 3 memiliki kenakalan serupa. Seminaris mengaku bahwa kenakalannya karena ada peran pergaulan mereka dengan teman SMA Gonzaga.
Sebuah pengalaman, suatu ketika saya terjadwal mengajar di kelas 3Fis2 yang memiliki 2 seminaris. Pada saat saya masuk, kelas kosong. Setelah saya cari, ternyata mereka semua bermain sepak bola di lapangan.
Usut punya usut, setelah mereka ditanya mengapa melewatkan belajar, ngakunya tidak mendengar bunyi bel. Beberapa saat kemudian di antara mereka mengaku telah sepakat secara bersama-sama menghindar belajar fisika. Seminaris pun ikut larut dalam persekongkolan ini.
Seminaris yang memiliki keunggulan belajar dan memiliki kepandaian lebih kadang tampak akrab memberikan tutorial kepada beberapa siswi adik kelasnya. Beberapa waktu kemudian baru terungkap bahwa di dalam tutorial itu tersirat upaya caper (cari perhatian) para seminaris kepada para siswi. Memberikan tutorial pelajaran atau bimbingan lain kepada cewek adik kelas menjadi modus siswa, termasuk para seminaris untuk mencari perhatian dari para siswi cantik adik kelasnya.
Bagi sekolah, bukan upaya membungkam kenakalan yang terjadi, tetapi sedari awal pendidikan di SMA Gonzaga memberikan ruang kebebasan dalam berekspresi kepada semua siswa.
Siswa boleh berambut gondrong tanpa syarat, tidak berseragam penuh dalam seminggu, boleh mendebat guru dengan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga sering kali terlihat tidak ada jarak antara guru dan murid.
Sekolah terus melatih siswa dalam menggunakan suara hati, bisa ber-discernment sebelum membuat keputusan dan bertindak.
Situasi belajar yang demikian sering kali membawa siswa ke dalam kebebasan berpikir, berucap dan bertindak seperti apa yang ada di benaknya. Seminaris dan siswa SMA Gonzaga merasa bisa mengembangkan bakat dan talentanya lebih awal ketika mereka masih duduk di bangku sekolah.
Bila akhirnya ada bias dari suasana kebebasan selama mereka belajar dan mengimplementasikan dalam bentuk kenakalan siswa, ini menjadi langkah yang harus segera diluruskan oleh guru dan pamong sekolah.
Kenakalan yang dilihat di sekolah dan dibawa pulang ke asrama dan diterapkan ketika seminaris tergoda kabur keluar kompleks asrama pada malam hari yang hanya sekedar ingin jajan mi instan rebus yang dijual di angkringan, merupakan bias kebebasan.
“Fr. Pamungkas itu baik, sehingga kalau kami cabut, lompat pagar keluar selalu diizinkan,” ungkap Rm. Aria Dewanto, SJ bersaksi dalam khotbahnya.
Rm. Pamungkas, Pr adalah frater pamong ketika seminaris angkatan 3 ini menempuh pendidikan di SWB dan SMA Gonzaga. “Mereka saya izinkan, karena sesungguhnya saya juga ingin cabut. Tetapi jangan lupa, titip gorengan, ya. Ssst … tapi jangan bilang romo pamong,” kilah Frater Pamungkas menanggapi kenakalan seminaris, karena keyakinan yang dimiliki pamong, para seminaris sudah bisa ber-discernment secara dewasa.
Kenakalan seminaris pada zamannya ternyata ikut andil dalam formasi pribadi, bukan saja untuk ketujuh romo, seminaris lain, frater pamong, maupun romo pamong, tetapi juga untuk para guru. “Meskipun kami ini guru mereka, tetapi kami juga banyak belajar dari para murid dan seminaris,” demikian kesaksian guru dalam reuni itu.
Tahun Ajaran 1989/1980, ada 43 seminaris angkatan 3 yang diterima di SWB, kini masih ada 7 yang tetap setia dalam panggilan imamatnya, ada 6 seminaris yang telah meninggal, dan 2 seminaris yang belum ditemukan keberadaannya.
Selain Rm. Yustinus Ardianto, imam yang lain adalah Rm. Aria Dewanto, SJ (berkarya di Yayasan Kanisius Semarang), Rm. Alb. Mediyanto, O.Carm (berkarya di Malang), Rm. Andreas Kurniawan, OP (berkarya di Keuskupan Pontianak), Rm. Purwo Suranto, OSC (Vikjen Keuskupan Sibolga), Rm. Johan Ferdinand Wijshijer, Pr (Pastor Kepala Paroki Lubang Buaya), dan Rm. Saverius Vastival, SVD (berkarya di Keuskupan Surabaya).
“Kembali ke Arke” yang menjadi tajuk dalam reuni singkat itu ternyata bisa membawa kenangan akan dinamika pendidikan saat itu. Ada kenakalan, ada momen jatuh cinta, dan banyak juga peristiwa menyenangkan maupun yang menyedihkan. Tetapi saat ini, kenangan kebebasan itu telah berbuah manis penuh sukacita. Para seminaris bisa mengenang dan berterima kasih kepada semua guru, baik yang galak maupun yang sabar.
Sekolah yang terus memberikan ruang kebebasan berpikir dan berimajinasi kepada seluruh siswa dengan terus melatih dan mengasah suara hati telah menghasilkan imam-imam yang andal sebagai produk pendidikan.
Kritik tajam yang disampaikan oleh Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of The Oppressed bahwa pendidikan tidak cukup menjejali ilmu pengetahuan kepada para murid yang membuat murid merasa tertindas, tetapi murid terus diajak dialog untuk mengembangkan kemartabatannya menjadi sejalan dalam pedagogi pendidikan Ignasian yang terus menghadirkan konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi dengan apa yang dilakukannya menjadi metode yang lebih dipilih dalam mendampingi anak muda, para seminaris dan Gonzagawan. Itulah makna pendidikan yang memberi kebebasan untuk memacu kreativitas.
“Kembali ke Arke” bukan saja peristiwa nostalgia semata, tetapi ungkapan refleksi perjalanan pendidikan calon imam yang dalam segala bisa diberi makna.
Albertus Bambang Utomo Guru SMA Kolese Gonzaga Jakarta








