Doa adalah sebuah perjumpaan personal yang komunikatif dengan Tuhan. Tidak hanya berkomunikasi, tetapi juga merasakan kehadiran-Nya melalui pancaindra yang kita miliki.
Beberapa fenomena di lapangan, kalangan anak muda atau Gen Z kini menggunakan Large Language Model (LLM) seperti Chat GPT, ataupun situs web yang lain. Tak hanya doa, mereka juga menggunakan LLM untuk curhat dan saling terbuka hingga menemukan solusi yang dapat membantu suatu permasalahan. Kemudian, mereka melanjutkan cerita ini sampai mencari dasar iman yang mungkin salah dan tidak menyadari setiap pernyataan.
Kalangan muda menggunakan Chat GPT untuk mencari tempat yang aman dan tidak diketahui oleh orang-orang, terutama para imam. AI tidak hanya memberikan ruang aman, tetapi juga doa serta solusi yang instan tanpa pertimbangan tertentu.
Kalangan muda atau OMK (Orang Muda Katolik) harus tahu bahwa AI (artificial intelligence) bukan manusia yang bisa memilih sesuatu keputusan. Kecemasan yang dialami OMK kerap ingin diselesaikan secara instan melalui AI. Segala hal yang dituliskan ke dalam AI dijawab dengan berbagai sumber dan bukan pengalaman personal dengan Tuhan. AI hanya situs web online yang tidak memiliki hati nurani dan kesadaran akan apa yang kita alami secara nyata.
Pandangan Gereja
Dalam pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-58 dinyatakan bahwa AI tidak memiliki jiwa dan hati. Tema yang dibawakan adalah “Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Hati: Demi Komunikasi yang Sepenuhnya Manusiawi”.
Dari judul ini dapat digarisbawahi bahwa dalam berkomunikasi kita harus menggunakan kebijakan hati hingga dapat merasakan menjadi manusia. Kebijaksanaan hati itu bermula dari kesadaran batin melalui pancaindra manusia.
Olah data dan algoritma yang dibuat AI bukan dijadikan bahan untuk menentukan pilihan karena setiap pilihan yang kita putuskan akan berdampak bagi diri kita sendiri, bukan AI.
Paus mengatakan, mesin atau robot ini hanya bisa menghasilkan data, bukan memahami data yang telah AI buat. Manusia diberi akal budi untuk berpikir dan dapat memahami makna dari sesuatu hal. Kemudian, simulasi digital tidak bisa menggantikan perjumpaan personal dengan Tuhan yang nyata dan dalam.
Salah satu pidato Paus Fransiskus ketika di KTT G7 menegaskan pula algoritma tidak bisa mengubah keputusan manusia. Pilihan AI tidak bisa diutamakan karena manusia itu sendiri yang dapat mengambil suatu keputusan untuk moral bagi sesamanya.
Manusia memiliki diskresi atau discernment spiritual pribadi. Setiap hal yang dipilih pasti memiliki konsekuensi masing-masing. Selayaknya manusia mengambil keputusan sesuai dengan keputusan moral dan rohani. Pilihan moral ini harus merujuk pada sifat normal kemanusiaan yang memanusiakan manusia. Lalu pilihan rohani dipertimbangkan dengan pengamalan personal dengan Tuhan. Kedua bagian ini seharusnya bisa digunakan sebelum memilih AI sebagai pilihan pertama.
Dalam salah satu landasan teologi disebutkan, iman Katolik selalu bersifat sakramental atau membutuhkan pancaindra dan komunitas yang nyata. Perjumpaan secara langsung pun disebutkan dalam Alkitab. Iman Katolik pun percaya, hanya imam yang dapat memberikan absolusi. AI tidak bisa memberikan pengampunan jika ada curhatan yang “jahat”, mungkin hanya memberikan solusi yang instan dan tidak membuahkan pertobatan.
Misi Gereja
Sebenarnya, Gereja sudah mengaplikasikan platform digital ini ke dalam sebuah aplikasi elektronik seperti e-Katolik, e-Bible, dan sebagainya. Selain itu terdapat berbagai situs web yang sudah tepercaya, seperti UTUSAN.NET, imankatolik.or.id, hidupkatolik.com, kawali.org, dan lain-lain.
Aplikasi dan situs web ini sudah cukup kredibel karena terdapat keterlibatan aktif para pelayan Gereja dalam memperluas jangkauan ini, yang bertujuan untuk mengembangkan iman spiritualitas umat Katolik dalam era digital. Gereja Katolik tidak pernah menutup mata pada setiap perkembangan teknologi global yang terjadi di dunia.
Matius 18:15-20 (tentang menasihati sesama saudara) mengajak kita untuk berani bertatapan empat mata dengan seseorang. Bacaan ini juga ingin memberikan pesan bahwa kita, sesama manusia, juga perlu bimbingan satu sama lain.
Di seminari, kami diberi kualitas rohani yang lengkap, salah satunya adalah bimbingan rohani. Kesempatan ini menjadi proses keterbukaan kami dalam menjalani hidup panggilan selanjutnya. Kami butuh teman lain untuk mengambil keputusan ke depan lainnya.
Bimbingan rohani dapat menjadi solusi dari permasalahan ketidakketerbukaan diri. Romo atau imam menguasai bidang ini dan dapat memberikan solusi konkret dan kreatif. Doa yang dibuat oleh imam justru dari pengalaman personal sehingga OMK dapat meminta pendampingan khusus.
Karol Kenji Kelas XII-I 11 SMA Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan








