Rm. Bimo, MSF: Kekuatan Jalani Panggilan Berasal dari Kristus

Feature415 Views

Pekan lalu, tepatnya Selasa, 14 Juli 2026, keluarga besar Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF) menerima anugerah istimewa melalui Tahbisan Imamat bagi Diakon Filipus Bimo Perbowo, MSF di Gereja Keluarga Kudus Banteng, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Perayaan Ekaristi dipimpin Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang (KAS) Mgr. Robertus Rubiyatmoko  sebagai selebaran utama, didampingi Rm. Yohanes Risdiyanto, MSF (Provinsial MSF Jawa) serta Rm. Ignatus Triatmoko, MSF (Rektor Skolastikat MSF Jawa).

Rm. Bimo berasal dari Paroki St. Paulus Sendangguwo, Semarang, yang merupakan salah satu paroki pelayanan imam religius MSF Provinsi Jawa. Dalam perjalanan panggilannya, ia memilih moto imamat yang diambil dari Galatia 2:20, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

Moto ini menjadi dasar spiritualitas yang menuntun seluruh perjalanan hidup dan pelayanannya sebagai imam.

Sejak kecil, Romo Bimo telah dibiasakan berdoa bersama dalam keluarga. Pengalaman sederhana itu menumbuhkan kerinduan mendalam untuk menjadi seorang pendoa. “Doa bukan sekadar kewajiban, melainkan sumber kekuatan utama dalam menjalani hidup dan panggilan,” tuturnya.

Kerinduan untuk melayani umat juga tumbuh sejak masa kanak-kanak ketika ia aktif di Stasi Santo Ignatius Loyola Banjardowo. Kesempatan membantu menjemput para imam yang datang melayani umat membangkitkan keinginannya untuk turut ambil bagian dalam karya pewartaan Injil. Dari pengalaman ini, ia menyadari bahwa imamat bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk melayani umat Allah.

Rm. Bimo diharapkan makin setia menghadirkan kasih Kristus melalui pelayanan imamatnya di tengah Gereja dan masyarakat.

Dalam proses pembinaan hingga masa orientasi pastoral, khususnya ketika menjalani pelayanan di Paroki Santo Bonifasius Alasa, Nias Utara, Rm. Bimo semakin diyakinkan bahwa kekuatan untuk menjalani panggilan bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Kristus yang berkarya dalam hidupnya.

“Saya membayangkan perjalanan yang jauh dan tidak mudah. Kalau hanya Bimo yang ada dalam diri saya, saya tidak akan kuat. Tetapi sungguh saya merasakan Kristus yang tinggal dalam diri saya, dalam hidup saya, sehingga sungguh menguatkan saya,” ungkap Rm. Bimo.

Pada kesempatan itu pula, Mgr. Rubi mengingatkan bahwa seorang imam harus selalu menjadikan Kristus sebagai pusat seluruh hidup dan pelayanannya.

“Dalam menghadapi berbagai tantangan, godaan, ataupun ketika semangat pelayanan mulai memudar, seorang imam harus selalu menjadikan Kristus sebagai pusat seluruh kehidupannya. Bahaya terbesar bagi seorang imam adalah menjadi sekadar pemimpin perayaan atau pelayan tanpa menghayati apa yang dirayakannya,” ujar Mgr. Rubi.

Ia juga menegaskan, perjalanan formasi selama kurang lebih sepuluh hingga tiga belas tahun telah menjadi kesempatan bagi para calon imam untuk mengalami kasih Allah secara nyata.

Tahbisan ini menjadi sukacita bagi Kongregasi MSF, keluarga Rm. Bimo, serta seluruh umat yang mendukung perjalanan panggilannya. Dengan menghidupi moto “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”, Rm. Bimo diharapkan makin setia menghadirkan kasih Kristus melalui pelayanan imamatnya di tengah Gereja dan masyarakat.

Dalam pengumuman perutusan yang dibacakan Rm. Risdi, Rm. Bimo akan menjalankan tugas perutusannya sebagai Vikaris Paroki di Gereja Katolik Santo Petrus Purwosari Solo.

Fr. Dominico Palma Caritas Devinanto, MSF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *