Sleman. Jumat, 30 Januari 2026, semangat kegembiraan, persaudaraan, dan kekayaan budaya Nusantara mewarnai Pentas Budaya Kubina 2026 yang diselenggarakan di Aula Syantikara, Jl. Colombo, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kegiatan ini menghadirkan 21 penampilan dari para postulan suster, bruder, dan romo yang berasal dari berbagai kongregasi, dengan menampilkan aneka ekspresi budaya seperti tarian tradisional, drama, dan nyanyian.
Acara yang diselenggarakan setiap tahun ini adalah bagian dari proses pembinaan tahap dasar para calon biarawan-biarawati yang belajar bersama dalam program Kursus Bina Awal (KUBINA). Pada tahun ini, acara ini mengambil tema, “Budaya: Melayani dalam Keberagaman, Memancarkan yang Inklusif”.
Pentas budaya ini merupakan bagian integral dari proses pembinaan dan pendidikan para calon pelayan Gereja, sekaligus menjadi ruang perjumpaan antarbudaya yang hidup dan bermakna. Sejak pagi hingga sore hari, aula dipenuhi oleh antusiasme peserta dan para pendukung yang menyaksikan beragam latar budaya dihadirkan secara kreatif dan reflektif.
Rangkaian acara diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Rm. Wisnu Agung, MSC. Dalam perayaan tersebut, homili disampaikan Rm. Martinus Joko Lelono, Pr sebagai pengampu perkuliahan Antropologi Budaya dalam program ini.
Rm. Joko menegaskan, Pentas Budaya Kubina 2026 tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan dengan perkuliahan Antropologi Budaya yang diberikan kepada para postulan pada Semester I.
Kemudian, ia menjelaskan terdapat dua tujuan utama dari perkuliahan dan penyelenggaraan pentas budaya ini. Pertama, para calon pastor, bruder, dan suster diajak untuk mengenali, menghayati, dan mensyukuri budaya asal mereka sendiri sebagai anugerah Allah.
“Kesadaran akan akar budaya ini dipandang penting agar identitas pribadi dan panggilan dapat bertumbuh secara utuh,” tutur Rm. Joko.

Kedua, melalui proses pembelajaran dan pengalaman konkret dalam pentas budaya, para postulan dipersiapkan untuk terbuka dan siap dimasukkan ke dalam budaya baru ketika kelak diutus berkarya di berbagai wilayah dengan latar sosial dan budaya yang beragam.
“Pelayanan yang kontekstual hanya mungkin terwujud jika seorang pelayan Gereja memiliki kepekaan budaya dan sikap rendah hati untuk belajar dari masyarakat tempat ia diutus,” tandas Rm. Joko.
Sementara itu. Ketua Kubina Rm. Leonardus Suharno, Pr menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari para peserta, panitia, dosen, hingga para pendukung kegiatan.
Ia menegaskan bahwa keterbukaan terhadap budaya lain bukan sekadar keterampilan sosial, melainkan ungkapan keterbukaan hati untuk menerima kehendak Tuhan. “Kesiapsediaan untuk diutus ke mana pun berarti kesiapsediaan untuk mendengarkan, belajar, dan menghargai budaya orang lain,” ungkapnya.
Dengan demikian, pembinaan di Kubina tidak hanya membentuk kemampuan intelektual dan spiritual, tetapi juga kepekaan budaya sebagai bekal perutusan.
Pentas Budaya Kubina 2026 dihadiri Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur Rm. Adrianus Maradiyo, Pr serta para suster, bruder, dan romo lain yang turut memberikan dukungan dan semangat bagi para peserta.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang seni dan kreativitas, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran iman, budaya, dan panggilan yang meneguhkan para calon pelayan Gereja untuk melangkah dengan hati terbuka dalam perutusan mereka di tengah masyarakat yang majemuk.








