Memanusiakan Indonesia

Jendela488 Views

Ada beberapa hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran berharga dari kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia beberapa waktu lalu. Bagaimana konsep manusia secara utuh yang harus diterjemahkan dengan bahasa tubuh (sikap), telah diperlihatkan oleh Paus Fransiskus. Bukan hanya menjadi teladan bagi sesama manusia, tetapi sekaligus juga menjadi perenungan dan permenungan mendalam, yang menempatkan sikap toleransi pada dimensi universal.

Manusia adalah sebuah definisi yang tidak pernah habis dibicarakan di atas bumi ini. Dalam perspektif ilmu dan agama, manusia menjadi tokoh sentral yang meletakkan dasar-dasar dan prinsip hakiki kebenaran.

Dalam konstruksi kenegaraan, Pancasila menjadi pandangan normatif yang digunakan sebagai instrumen sendi-sendi kehidupan dalam berbangsa, bernegara, dan bertanah air. Konsep di dalamnya telah melandasi tujuan kebersamaan dan persatuan dari keberagaman masyarakat Indonesia.

Apakah nilai-nilai Pancasila ini mampu dipertahankan secara konsekuen bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia? Tentu, dengan transformasi dunia global ke arah dunia yang makin modern, tantangan yang dihadapi semakin besar. Revolusi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, seyogianya menempatkan manusia tetap menjadi manusia yang humanis.

Secara geografis, Indonesia menjadi salah satu bangsa yang memiliki keunikan terutama dari struktur adat dan budaya. Keberagaman ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-negara lain untuk mengenal lebih dekat dengan Indonesia. Bahkan, acap kali Indonesia menjadi sorotan dunia terutama karena sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara lain.

Terlepas dari tekstur sosial dan budaya, persoalan-persoalan menyangkut kemanusiaan selalu saja menjadi isu penting. Prinsip toleransi yang menjadi dasar dalam interaksi sosial, bukan berarti kita aman dan terlepas dari persoalan kemanusiaan. Ada banyak hal-hal kecil, yang kemudian menggumpal seperti bom waktu karena pembiaran dan makin rendahnya sikap empati sesama masyarakat.

Sudah seharusnya menjadi refleksi bagi seluruh masyarakat (tanpa terkecuali) untuk mengembalikan dasar pandangan hidup (falsafah) bangsa. Ada apa dengan tanah-tanah negeri ini? Bukankah hidup itu ibarat kata-kata puitis, mengarungi perjalanan hidup, dan tanah-tanah ini adalah kumpulan kata-kata yang bermakna? Esensi dari hidup adalah seberapa banyak kita temukan cinta dan kasih sayang. Hidup ini bukan untuk menunda perjalanan.

Munculnya diskursus hegemoni (pertukaran gagasan kepemimpinan) yang berorientasi pada subjektivitas pemikiran, menjadi bentuk-bentuk kekuatan (kekuasaan) baru yang meniscayakan toleransi. (UTUSAN/Slamet Riyadi)

Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada awal September 2024 tentu bukan untuk kepentingan politis. Sebagai pemimpin Gereja Katolik sedunia, ada misi dan pesan kemanusiaan serta perdamaian dunia. Pesan kemanusiaan dan perdamaian harus selalu didengungkan, ibarat embun pagi yang mendinginkan kegerahan malam. Juga menjadi cahaya matahari pagi, pada saat kita masih lelap berselimut dingin.

Dinamika politik Indonesia, khususnya tahun ini yang terus menghangat, tentu juga menjadi perhatian dunia. Sebagai bangsa yang terlahir dari keberagaman budaya dan agama, ada banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan berat yang harus dilalui adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masa yang dikenal sebagai era globalisasi digital, akan berpotensi menggerus instrumen dasar; yakni nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Makin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berdampak juga pada penurunan kualitas interaksi sosial. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih rendah dalam memahami karakteristik dan analisis sebab akibat dari kemajuan zaman ini.

Munculnya diskursus hegemoni (pertukaran gagasan kepemimpinan) yang berorientasi pada subjektivitas pemikiran, menjadi bentuk-bentuk kekuatan (kekuasaan) baru yang meniscayakan toleransi.

Sebuah paradigma dunia modern yang digambarkan sebagai perang logika dan budaya, menjadi persoalan yang terus-menerus mengiringi perjalanan hidup seseorang. Pada titik tertentu, kita kehilangan sejarah peradaban manusia yang merupakan kontemplasi humanistis, yang berakar pada prinsip-prinsip persamaan hak.

Seyogianya, revolusi logika harus memberi arti positif yang berorientasi kepada pemikiran-pemikiran kritis serta perenungan mendalam. Maka, untuk menguatkan nilai-nilai kemanusiaan, terutama bagi rakyat Indonesia, diperlukan pendekatan-pendekatan nonmaterial berupa keyakinan dan agama. Indonesia dengan keberagaman suku serta agama, telah membuktikan bagaimana menyatukan nilai-nilai tersebut, tanpa benturan fisik yang berakibat perpecahan.

Dibutuhkan komitmen yang kuat sebagai momentum untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia secara utuh. Bagaimana memanusiakan Indonesia. Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia tentunya salah satu komitmen dalam membawa misi kemanusiaan dan perdamaian, serta lingkungan untuk berbagi rasa pada sesama.

Dalam masyarakat heterogen Indonesia, sejatinya masih ada oasis yang mampu menjadi sumber air di tengah padang pasir. Bagaimana dahaga itu bisa terbasuh, tanpa melihat siapa yang membutuhkan. Memanusiakan manusia berarti peduli kepada sesama, tanpa ada dikotomi perbedaan. Masyarakat yang lemah, miskin, terpinggirkan, menderita, dan difabel masih membutuhkan banyak perhatian.

Sikap untuk menghargai keberadaan masyarakat lemah, miskin, terpinggirkan, menderita, dan difabel, seharusnya menjadi kepedulian dan rasa empati yang besar. Ini tidak akan mungkin datang tiba-tiba, tetapi harus dibentuk dengan prinsip toleransi, kebinekaan dan kasih sayang.

Satu hal juga yang menjadi perhatian kita bersama, kelompok-kelompok marjinal harus diberikan ruang yang cukup untuk tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya sebagai manusia. Ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama, apa pun kondisi kelompok marjinal, mereka tetap menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kerangka bangsa. Mereka juga memiliki hak konstitusional sebagai warga negara. Termasuk kepada generasi penerus bangsa (usia sekolah), sesulit apa pun kondisinya, mereka berhak atas pendidikan yang layak.

Kita berharap banyak bahwa kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia akan memberi pelajaran yang sangat berarti bagi bangsa kita, tidak hanya dianggap sebagai simbolitas tanpa ada perubahan. Bangsa ini harus berani untuk mengembalikan nilai-nilai humanistik dalam berbangsa dan bernegara. Kita adalah bangsa yang bermartabat dan berbudaya, tentu tidak sulit untuk memanusiakan Indonesia.

Vito Prasetyo (Sastrawan dan Peminat Pendidikan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *