Menampilkan Wajah Katolik dengan Rasionalitas

Jendela647 Views

Tahun politik 2024 akan datang tidak lebih dari delapan bulan lagi. Masih lekat dalam ingatan, situasi politik dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 dan Pemilu 2019. Residu kedua peristiwa politik tersebut masih terasa hingga menjadi kerak di masyarakat sampai sekarang.

Isu polarisasi di masyarakat semakin terlihat jelas setiap kali tahun politik datang. Hal tersebut sebagai akibat adanya perbedaan pandangan dan pendapat yang berlebihan antara dua kubu dalam menjunjung para pasangan calon pemimpinnya.

Perbedaan pandangan, kebijakan, sikap politik dan agama, kerap dituding menjadi penyebab mengkristalnya isu polarisasi di tengah masyarakat. Namun, Indonesia tidak berjalan sendiri dalam menghadapi isu polarisasi. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, India, Turki, Venezuela, Bolivia, Kolombia, dan Brasil juga tengah menghadapi isu polarisasi.

Bapa Suci Paus Fransiskus dalam pesan untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-57 juga menyinggung isu polarisasi. Bapa Suci menyebutkan bahwa saat ini masyarakat internasional tengah berada dalam periode sejarah ketika isu polarisasi dan pertentangan tumbuh dan menyebar.

“Polarisasi bukanlah wajah Katolik,” ucap Bapa Suci ketika beliau menjawab pertanyaan media Jesuit America di Santa Marta Vatikan pada November 2022. Lalu, bagaimana Gereja Katolik menyikapi isu polarisasi? Apa yang dapat dilakukan oleh Gereja untuk mencegah makin meluasnya polarisasi di tengah masyarakat?

Gereja Katolik selalu membiasakan diri untuk berdialog. Dalam tiga tahun terakhir, Bapa Suci mengajak kita untuk belajar berdialog. Berkomunikasi dengan hati, dari hati ke hati. Pertama, kita diajak untuk merefleksikan pesan “datang dan melihat”, menyaksikan kebenaran berita dengan datang dan melihat langsung ke sumber berita, dengan tidak mempersepsikan berita berdasar sumber yang kurang dapat dipercaya.

Kedua, kita diminta untuk selalu “mendengarkan dengan telinga hati”, lebih banyak untuk mendengarkan sebelum kita mengajukan jawaban atau komentar. Ketiga, kita sampai pada ajakan untuk selalu “berbicara dengan hati”, mengajukan jawaban atas apa yang kita dengar dengan kejernihan pikiran dan hati yang penuh kasih agar tercipta ruang dialog yang hangat dan terbuka. 

Namun, membuka ruang dialog sekarang ini tentu saja berbeda dengan masa di saat teknologi digital belum bergerak cepat seperti sekarang ini. Bagaimana menciptakan ruang dialog di era teknologi media digital?

Kemajuan teknologi media digital bergerak sangat cepat. Masyarakat kita pun harus tergagap-gagap mencerna kemajuan teknologi media digital, terlebih saat pandemi Covid-19. Ketidaksiapan masyarakat dan masih rendahnya kemampuan literasi digital, seakan memudahkan penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan penyebaran berita yang salah/misleading information, yang memicu benih-benih polarisasi di masyarakat.

Opini yang berkembang, dengan mudahnya dipelintir oleh sebagian orang guna menggiring pembenaran yang belum tentu benar di tengah masyarakat.

Teknologi media digital dan media sosial di Indonesia pergerakannya sungguh cepat. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia dan We Are Social pada Januari 2023 menyebutkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 212.9 juta orang dengan rata-rata pemakaian internet selama 7 jam 42 menit; 167 juta orang di antaranya menghabiskan rata-rata 3 jam 18 menit per hari untuk mengakses media sosial.

Media sosial, menurut data Litbang Kompas, banyak digunakan oleh masyarakat untuk mengakses berita. Sekitar 91.4% pengguna menyatakan puas dengan informasi yang ada di media sosial. Artinya, mayoritas pengguna tidak teliti dengan kebenaran berita yang ada di media sosial tersebut.

Bagaimana Gereja akan menggunakan media sosial dalam mewartakan kebenaran dan Kabar Keselamatan di masyarakat?

Inter Mirifica menyebutkan bahwa Gereja berkewajiban untuk memanfaatkan media komunikasi sosial untuk mewartakan Warta Keselamatan dan mengajarkan bagaimana dapat memakai media itu dengan tepat. Nasihat apostolik Evangelii Nuntiandi pun menegaskan bahwa Gereja merasa bersalah di hadapan Tuhan jika gagal menggunakan media komunikasi untuk evangelisasi (art.45).

Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Kata Data Insight Center mengeluarkan laporan bertajuk Status Literasi Digital di Indonesia Tahun 2022 atas survei pada bulan Agustus – September 2022 terhadap 10.000 responden dari 34 provinsi. Survei tersebut menyebutkan bahwa peran pemimpin agama “hanya” 3% dalam pemberantasan penyebaran hoaks. Lalu, siapa yang berperan lebih penting selain Kominfo? Dengan hasil survei 31%, semua warga disebutkan berperan, berpengaruh, dan bertanggung jawab dalam pemberantasan penyebaran hoaks.

Dengan tanggung jawab untuk mewartakan Warta Keselamatan melalui media komunikasi, maka peran media komunikasi Gereja (sebagai bagian dari warga negara), juga turut berperan dalam “mencerdaskan” umat untuk selalu berpikir rasional saat menerima pesan atau berita.

Media komunikasi Gereja dengan menggunakan media digital dan media sosial, dapat “berbicara dengan hati” kepada umat secara luas mengenai berita-berita yang benar dan bertanggung jawab, serta mengedukasi umat mengenai bagaimana cara-cara agar dapat menyaring berita dan informasi dengan lebih bijak, agar penggiringan opini untuk menuju pada polarisasi dapat dihindari.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi digital. Kemajuan teknologi dengan algoritma digitalnya mampu menarik tiap-tiap orang untuk hidup dalam gelembung-gelembung informasi.

Sentimen yang dibentuk oleh opini-opini dari banyak pihak dan kepentingan, jika tidak dikendalikan, akan memperjelas (dan mempermudah) timbulnya polarisasi di masyarakat.

Sebagai penutup, pegiat media komunikasi sosial Gereja diharapkan terus mewartakan (berbicara) hal-hal positif dan bertanggung jawab (setelah melihat dan mendengar dengan kebenaran fakta) agar umat dan masyarakat dapat selalu dan terbiasa untuk berpikir rasional.

Jalan dialog juga terus dibuka dengan pemikiran dan pemahaman yang benar untuk terus menjaga keutuhan antarumat.

Semoga dengan terus berbicara dengan hati, kita dapat mencegah polarisasi yang terus menggerus kerekatan antarumat sehingga wajah Katolik dapat terus kita tampilkan.

Agustinus Hario Prabowo (Pengurus Berkhat Santo Yusup/BKSY Periode 2021 – 2024)

Ilustrasi: triblive.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *