Dari Lapangan Piala Dunia Menuju Lapangan Kehidupan

Pesan Paus Leo XIV tentang Piala Dunia Saat Berkunjung di Barcelona Spanyol

Jendela337 Views

Spanyol yang sudah pasti bertiket ke final Piala Dunia FIFA 2026 setelah menundukkan Prancis 2-0 pada semifinal yang berlangsung di Dallas Stadium, Selasa, 15 Juli 2026 02.00 WIB. Pada pertandingan ini La Roja tampil disiplin dengan pertahanan yang kokoh sehingga mampu meredam serangan Les Bleus. Dua gol kemenangan dicetak oleh Mikel Oyarzabal dan Pedro Porro, mengantarkan Spanyol selangkah lagi menuju gelar juara dunia.

Akhirnya pertandingan partai final, Spanyol akan menghadapi Argentina yang berhasil mengalahkan Inggris dengan skor 2-1 di Stadion Atlanta, Kamis, 16 Juli 2026 dini hari waktu Indonesia bagian barat. Pada pertandingan ini Inggris sempat unggul melalui Anthony Gordon pada menit ke-58, tetapi Argentina bangkit lewat gol Enzo Fernández pada menit ke-85 dan Lautaro Martínez pada masa tambahan waktu (90+2). Kebangkitan Albiceleste terjadi setelah Inggris memilih bermain lebih bertahan seusai unggul.

Final pun akan berlangsung Senin dini hari, 20 Juli 2026. Pertandingan final Spanyol vs Argentina ini menjadi kesempatan bagi Spanyol untuk mengulang kejayaan Piala Dunia 2010. Bagi Argentina permainan dengan penuh strategi dalam kebersamaan yang apik pun digadang-gadang untuk menambah koleksi gelar dunia dalam duel yang diprediksi berlangsung sengit selama 90 menit.

Namun, beberapa waktu sebelum bergulirnya rangkaian Piala Dunia, perhatian dunia juga tertuju ke Barcelona, Spanyol. Paus Leo XIV pada tanggal 26 Juni 2026 tiba di kota tersebut dan menyampaikan sebuah pesan yang menarik. Berawal dari pertanyaan sederhana seorang anak tentang sepak bola, Paus memberikan refleksi yang jauh melampaui lapangan hijau.

Dikutip dari media sosial instagram EWTN, Paus Leo XIV mengenang pengalamannya di Gereja Santo Agustinus di kawasan Raval. Ia membagikan kisah masa mudanya serta pengalaman sebagai imam, lalu menutupnya dengan sebuah “katekese sepak bola” tentang kehidupan Kristiani dan pentingnya hidup sebagai sebuah tim.

Seorang anak laki-laki berusia enam tahun bertanya apakah Paus Leo menyukai sepak bola.

“Saya dulu bermain sepak bola, bahkan juga sepak bola Amerika,” ujar Paus sambil tersenyum. “Sedikit lebih keras. Sekarang semua orang tahu saya bermain tenis. Ketika masih muda saya bermain sepak bola, juga sepak bola Amerika, bahkan bersama para seminaris.”

Paus Leo juga menceritakan pengalamannya mengikuti Piala Dunia. Ia menyaksikan Piala Dunia 1982 ketika tinggal di Roma. Saat bertugas di Peru, ia juga kerap bermain sepak bola bersama para seminaris.

“Ketika saya di Trujillo, saya bermain sebagai pemain bertahan, kalau Anda ingin tahu. Saya bukan pencetak gol yang hebat. Sebelumnya, ketika tinggal di Roma, saya mengalami Piala Dunia pertama saya pada tahun 1982 yang diadakan di Spanyol. Kemudian di Peru, saya mengikuti tim-tim lokal dengan saksama dan bermain bersama para seminaris.”

Pesan Paus Leo XIV di Barcelona   

“Sedikit olahraga itu baik untuk semua orang. Kita harus menemukan cara untuk menjaga kesehatan tubuh, pikiran, dan jiwa. Sepak bola juga mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat penting: hidup bukanlah perlombaan yang dijalani sendirian. Hidup dimainkan sebagai sebuah tim dan kita harus belajar berlari bersama. Seseorang mungkin menjadi bintang, tetapi bila ia tidak pernah mengoper bola, ia akan menghalangi orang lain untuk ikut bermain, dan kemungkinan besar timnya akan kalah.”

Pesan Paus Leo XIV sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang olahraga. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan yang sangat luas, mulai dari kesehatan, kebersamaan, kepemimpinan, solidaritas, hingga spiritualitas. Sepak bola menjadi sebuah analogi bahwa hidup bukanlah tentang mengejar keberhasilan pribadi, melainkan membangun keberhasilan bersama.

Keluarga: Tim Pertama dalam Kehidupan

Bagi sebuah keluarga, rumah adalah tim pertama tempat seseorang belajar bekerja sama, berbagi, dan saling mendukung. Di sanalah orang tua dipanggil untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan rohani seluruh anggota keluarga.

Anak-anak pun perlu diajak belajar bekerja sama sejak dini, mengurangi sikap egois, dan membangun kepedulian terhadap sesama anggota keluarga. Komunikasi yang terbuka, jujur, dan penuh kasih menjadi fondasi terciptanya keluarga yang harmonis.

Keluarga yang mampu berjalan sebagai sebuah tim akan lebih siap menghadapi persoalan hidup. Setiap anggota tidak merasa berjalan sendiri, tetapi saling menguatkan dalam suka maupun duka.

Gereja: Tubuh Kristus yang Berjalan Bersama

Dalam pesan Paus Leo XIV, sepak bola juga menjadi gambaran kehidupan Gereja. Gereja bukanlah kumpulan individu yang ingin menjadi bintang, melainkan Tubuh Kristus yang terdiri atas banyak anggota dengan satu Roh.

Tidak semua dipanggil menjadi imam, uskup, atau pemimpin. Namun, setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda. Semua dipanggil untuk mengambil bagian dalam perutusan Gereja sesuai panggilannya masing-masing.

Analogi mengoper bola menjadi sangat menarik. Mengoper bola berarti memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertumbuh, melayani, dan mengambil tanggung jawab. Gereja dipanggil untuk membina kader, mempercayai kaum muda, berbagi tugas pastoral, dan berjalan bersama.

Sebaliknya, apabila seseorang hanya ingin menjadi pusat perhatian dan tidak pernah memberi ruang kepada orang lain, kehidupan Gereja akan kehilangan dinamika. Regenerasi terhambat, umat menjadi pasif, dan semangat persaudaraan perlahan memudar.

Pelayanan yang rendah hati justru melahirkan kebersamaan. Umat merasa dilibatkan dalam “pertandingan iman” dan menjadi bagian dari misi Gereja. Inilah semangat sinodalitas yang terus ditekankan Gereja Katolik: berjalan bersama, saling mendengarkan, saling mempercayai, dan bersama-sama mewartakan Injil, bukan mencari popularitas pribadi.

Karena itu, Gereja dipanggil untuk terus hadir sebagai gembala yang penuh kasih, solider, dan berbelarasa. Kepemimpinan Paus Leo XIV mengingatkan bahwa seorang pemimpin sejati bukanlah mereka yang selalu ingin menjadi pencetak gol, melainkan mereka yang mampu membuat seluruh tim bertumbuh dan mencapai tujuan bersama.

Barangkali itulah makna terdalam dari sepak bola menurut Paus Leo XIV. Sebuah pertandingan memang hanya berlangsung sembilan puluh menit, tetapi nilai-nilai yang dikandungnya dapat menjadi pelajaran seumur hidup. Di lapangan, kemenangan diraih karena kerja sama. Dalam kehidupan pun demikian. Tidak ada seorang pun yang dapat mencapai tujuan sendirian. Kita dipanggil untuk berjalan, berlari, dan menang bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *