Teladan Gus Dur dan Rama Mangun dalam Merawat Toleransi dalam Kemanusiaan

Bingkai316 Views

Beberapa waktu yang lalu pemerintah menetapkan KUHP baru yang mengatur bahwa tindakan mengganggu ibadah agama lain dapat dikenakan pidana. Rasa-rasanya ini menjadi cara
pemerintah untuk menjamin adanya kebebasan beragama di Indonesia. Selain itu ini juga menjadi bentuk pelaksanaan toleransi di Indoensia.

Indonesia sendiri merupakan negara yang pluralitas agama. Ada enam agama resmi dan puluhan kepercayaan. Hal ini menunjukkan bahwa negara Indonesia dihuni oleh ratusan ribu jiwa dengan yang tidak semuanya sama.

Namun, yang menjadi keprihatinan adalah di tengah situasi arus zaman ini, perbedaan-perbedaan itu justru seringkali menjadi bahan konflik dan perpecahan. Karena banyaknya agama, Indoensia dijuluki menjadi salah satu negara yang mempunyai jargon “toleransi”.

Dalam sejarah bangsa Indonesia, kita dapat menemukan tokoh-tokoh yang dengan semangat mengajarkan dan meneladankan makna dari toleransi tersebut. Dari banyaknya tokoh,
ada dua orang yang dikenal dan dikenang karena komitmennya dalam merawat toleransi.

Kedua tokoh tersebut adalah Abdurrahman Wahid dan Y.B. Mangunwijaya. Keduanya memang memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama yaitu membela
kemanusiaan tanpa memandang agama.

Tulisan ini akan mengajak pembaca untuk melihat bagaimana kedua tokoh ini memperjuangkan nilai kemanusiaan di tengah perbedaan. Sekadar catatan, bahwa tulisan ini memang dibuat dari
sudut pandang iman Katolik. Namun demikian tulisan ini tidak akan menyinggung ajaran teologis iman Katolik, namun melihat semangat kedua tokoh besar ini.

Gus Dur Sang Pembela Kaum Minoritas

Siapa yang tidak mengenal dengan tokoh ini. Abdurrahman Wahid atau yang akbrab disapa Gus Dur merupakan presiden Indonesia keempat. Ia merupakan tokoh yang dikenal karena
perjuangannya merawat keberagaman yang ada di Indonesia.

Sebagai seorang tokoh agama, ia memiliki keprihatinan terhadap keadaaan Indonesia pada saat itu. Gus Dur menunjukkan kepada semua rakyat bahwa iman yang matang tidak membuat seseorang eksklusif, melainkan justru semakin terbuka dan manusiawi.

Yang mengenal Gus Dur tidak hanya orang yang seagama dengan beliau, namun juga datang dari semua golongan agama. Gus Dur dikenal karena keberaniannya dalam membela kelompok
minoritas yang mendapat tekanan dan dalam kesulitan.

Salah satu hal yang sampai hari ini masih diingat oleh banyak orang adalah tindakan Gus Dur yang mengizinkan kembali budaya Tionghoa di ruang publik. Baginya yang pada saat itu menjabat sebagai presiden, tindakan ini menjadi pesan bahwa negara harus bisa bersikap adil kepada rakyatnya.

Gur Dur memiliki ciri khas bahwa ia selalu memperhatikan mereka yang terpinggirkan meskipun berbeda dengannya. Kata-kata yang selalu dikutip oleh Gus Dur adalah “Tidak penting apa
agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Ini jelas menjadi bukti bahwa Gus Dur merupakan tokoh
yang patut untuk diteladani.

Gus Dur menunjukkan bahwa religiusitas sejati selalu berbuah pada pembelaan terhadap yang lemah. Ia berani mengambil risiko politik dan reputasi demi
mempertahankan prinsip kemanusiaan.

Romo Mangun dan Spritualitas Membumi

Selain Gus Dur, ada satu tokoh lagi yang juga semangat dalam menjaga toleransi dan kemanusiaan, yaitu Rama Y.B. Mangunwijaya (selanjutnya ditulis Rm. Mangun). Sama halnya
dengan Gus Dur, ia memiliki sikap kepedulian yang besar terhadap mereka yang terpinggirkan.

Dalam karya pelayanannya, Rm. Mangun tidak pernah mempersoalkan tentang agama. Dengan semangat yang membara ia mendampingi mereka yang terpinggirkan tanpa melihat agamanya
apa.

Dalam karyanya, Rm. Mangun selalu memiliki prinsip bahwa orang tidak perlu untuk melihat agama untuk membantu yang membutuhkan. Salah satu kiprah Rm. Mangun yang sangat
terkenal adalah perjuangannya dalam mendampingi masyarakat di sekitar bantaran kali Code, Yogyakarta. Rm. Mangun tidak peduli apa agamanya, sukunya, dan warna kulitnya. Ia dengan
semangat mendampingi warga yang terancam akan tergusur.

Toleransi dan kemanusiaan yang dimiliki oleh Rm. Mangun lahir dari perjumpaannya dengan banyak orang yang berbeda dengan dirinya. Ia bisa bersahabat dengan siapa saja tanpa melihat
latar agamanya. Bagi Rm. Mangun, semua adalah saudara. Perjuangan Rm. Mangun mencerminkan bahwa Gereja harus menjadi institusi yang bersahaja, membumi, dan berani.

Gereja harus memiliki sikap yang tidak takut untuk berdialog dan tidak menutup mata terhadap mereka yang menderita.

Ketika Dua Pahlawan Kemanusiaan Bertemu

Baik Gus Dur maupun Rm. Mangun sama-sama memiliki semangat kemanusiaan yang toleransi yang tinggi. Dalam karya pelayanan, keduanya tidak pernah bertanya “Apa agamamu?” atau
“Dari suku mana kamu?” Inilah yang menjadi kekhasan dari kedua tokoh besar ini.

Mereka menunjukkan bahwa toleransi menemukan makna yang sungguh mendalam. Bagi mereka toleransi dipahami sebagai sikap yang saling menerima meskipun berbeda.

Dalam Iman Kristiani, ini jelas sangat berhubungan dengan martabat manusia sebagai ciptaan. Keyakinan bahwa setiap pribadi adalah citra Allah sungguh menjadi slogan yang nyata bagi
kedua tokoh ini. Gus Dur membela minoritas yang terdiskriminasi, dan Rm. Mangun mendampingi warga miskin yang terancam penggusuran, keduanya sedang melakukan hal yang
sama, yaitu mengembalikan martabat manusia yang terluka.

Dialog pada dasarnya tidak boleh dipandang sebagai ancaman iman. Itulah yang senantiasa menjadi prinsip bagi Gus Dur dan Rm. Mangun. Dalam sudut pandang iman Katolik, semangat
ini juga selaras dengan spiritualitas yang selalu ditekankan oleh mendiang Paus Fransiskus. Dialog merupakan kesempatan untuk mendengarkan dan belajar dari yang lain.

Tantangan Untuk Melanjutkan Api Toleransi

Meskipun kedua tokoh ini tinggal dalam kenangan, namun warisan akan semangatnya dalam memperjuangkan martabat manusia masih sangat relevan di zaman sekarang. Warisan yang
mereka tinggalkan kini menjadi tanggungjawab kita di zaman yang semakin berkembang ini.

Sebagai generasi penerus bangsa, kita diajak untuk meneladani semangat Gus Dur dan Rm. Mangun. Selain itu kita juga memiliki tugas untuk melanjutkan perjuangan mereka berdua.
Tantangan yang dihadapi oleh Gus Dur dan Rm. Mangun tentu berbeda dengan tantangan di zaman ini.

Banyak konflik yang terjadi karena kurangnya kesadaran akan toleransi ini. Zaman yang semakin berkembang juga menuntut untuk berjuang lebih keras lagi. Politik identitas
menjadi tantangan yang tidak mudah dalam berdialog.

Satu hal yang harus selalu menjadi ingatan kita bersama, bahwa Gus Dur dan Rm. Mangun sudah menyalakan api semangat toleransi dengan cara mereka, maka tugas kita adalah menjaga
api itu agar tidak padam. Merawat toleransi menjadi cara untuk memurnikan iman.

Dialog harus sungguh menyentuh sisi kemanusiaan, terlebih mereka yang terpinggirkan. Ini panggilan kita bersama untuk berjuang bersama.

Rio Hardianto, SCJ
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *