Dari Rabu Trewa sampai Sabtu Santo, Tradisi Jelang Paskah di Larantuka

Jendela628 Views

Pekan Suci dimulai dari Minggu Palma atau Dominggo Ramu hingga Minggu Paskah. Selain upacara Liturgi Ritus Roma Katolik, di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, juga terdapat upacara tradisional dalam pekan ini yang terjadi sejak hari Rabu Trewa hingga hari Minggu Paskah.

Rabu Trewa

Rabu Trewa merupakan hari terakhir Mengaji Semana yang telah berlangsung selama enam minggu, terhitung sejak Rabu Abu. Mengaji Semana dilakukan oleh 13 Suku Semana secara bergilir setiap Minggu selama masa puasa.

Secara berturut-turut, suku-suku yang akan melakukan Mengaji Semana tersebut ialah Suku Kabelen, Suku Kabu – Laveri, Suku Diaz Viera de Godinho/Raja dan kerabatnya, Suku Diaz Aliandu, Suku Ama Kelen/Blanterang de Rosari, Suku Ama Maran, Suku Diaz Pohon Asam, Suku Riberu dan Dagomes/Mestri da Campo, Suku Ama Kelen/Balela, Suku Ama Hurint, Suku Mulowato, dan Suku Lawerang.

Pada hari Rabu Trewa ini juga berlangsung Mengaji Semana Penutupan Masa Puasa oleh Kapitan Jentera di Kapela Tuan Ma. Sementara itu, di gereja akan dilakukan Lamentasi, ratapan Nabi Yeremia, yang dinyanyikan oleh Confreria.

Dulu setelah Lamentasi, terjadi “kegaduhan” sebagai tanda mengusir roh-roh jahat, membersihkan kampung dari hal-hal najis untuk masuk dalam keheningan, batiniah maupun lahiriah. Bunyi-bunyian itu sebagai tanda peralihan dari keramaian duniawi kepada keheningan batiniah.

Sejak saat itu Larantuka jadi kota mati, larut dalam sunyi mengenang sengsara dan wafat Kristus. Kiranya hal ini perlu dimaknai sebagai nilai tradisi. Jadi, kegaduhan atau bunyi- bunyian itu bukan peringatan peristiwa penangkapan Yesus, sebagaimana dipersepsi orang.

Hingga kini, tradisi ini masih dijaga. Pada hari Rabu Trewa, orang muda terutama laki-laki akan membuat bunyi-bunyian dengan cara menyeret-nyeret dan memukul-mukul seng, tiang listrik, atau lonceng. Peristiwa ini selalu ramai dilakukan di depan Kapela Tuan Ma, Kapela Tuan Ana, dan Kapela Tuan Meninu.

Tikam Turo

Sebagai persiapan dan perlengkapan prosesi dilaksanakan kegiatan Tikam Turo. Kata Turo termasuk bahasa Melayu dialek Larantuka, yang dalam bahasa Melayu disebut turus, yang berarti tiang yang ditancap di tanah sebagai sandaran pohon. Turo adalah tiang pagar lilin sepanjang jalan prosesi.

Teknologi ini sederhana. Bahan dari kayu keras, biasanya kayu kukung, keras dan lurus, belahan bambu, dan tali gebang. Tikam Turo dikerjakan orang sekampung secara gotong royong, difasilitasi yang angkat mardomu.

Mereka menanggung bahan dan menyiapkan konsumsi. Tikam Turo mengemas nilai budaya kesatuan dan gotong royong komunitas sekampung, juga kewajiban setiap warga lelaki dewasa untuk serewi Deo dan serewi Nagi, melayani Tuhan dan sesama. Nilai ini patut dilestarikan dengan kemasan baru sesuai tuntutan zaman.

Kamis Putih

Kegiatan yang menonjol hari Kamis Putih, yakni acara Cium Tuan. Pada hari ini umat berbondong-bondong datang di Kapela Tuan Ma, Tuan Ana, dan Tuan Meninu untuk Cium Tuan, sebagai wujud hormat, sembah, dan bakti. Pekan Suci akan terasa kurang kalau tidak melakukan Cium Tuan yang waktunya hanya disediakan sekali setahun.

Sebelum Cium Tuan, diadakan upacara Muda Tuan. Pada acara ini, Patung Tuan Ma, Tuan Ana, Yesus Tersalib (bukan Tuan Meninu) dikeluarkan dari persemayamannya, dibersihkan dan dimandikan, kemudian ditakhtakan.

Uniknya, air mandi itu tidak dibuang begitu saja, melainkan dibawa pulang sebagai air berkat, air yang disucikan. Berkaitan dengan kepercayaan arkais, terkesan ada mistifikasi, memperlakukan air itu secara mistik seperti berkhasiat menyembuhkan penyakit, melindung diri dari pengaruh Roh jahat, dan lain-lain.

Mungkin sama juga apresiasinya dengan Air Lourdes. Memang sesuatu yang tak berwujud selalu mencari bentuk, demikian keyakinan diekspresikan ke dalam simbol, untuk tidak mengatakan orang sedang menyembah berhala.

Jumat Agung

Sejak hari Kamis hingga Jumat siang masih berlangsung acara Cium Tuan. Jadi bisa dibayangkan ribuan umat dari berbagai penjuru datang bergiliran ke Kapela, menyampaikan hormat, sembah dan bakti, juga promesa (permohonan).

Hal yang menjadi fokus perhatian pada hari ini ialah Prosesi. Ada prosesi kecil (Persisan Kece) mengantar Tuan Tersalib dari Kapela Tuan Meninu ke Pohon Sirih untuk ditakhtakan di Armida, Prosesi mengantar Tuan Ma, dan Tuan Ana dari Kapela ke Gereja Katedral.

Prosesi dari Kapela Micecordia di Pante Besar ke Armida, Prosesi Suku Diaz Pohon Sirih, Prosesi Suku Ama Kelen Balela, hingga Prosesi Besar (Persisan Besa) di malam hari keliling kota Larantuka.

Sudah banyak cerita tentang prosesi-prosesi itu sehingga tidak perlu diulang kembali. Menariknya, prosesi itu semarak, sangat disukai umat, dan sangat mentradisi. Hal ini ditumbuhsuburkan oleh budaya prosesi dalam masyarakat.

Hajatan perkawinan ditandai dengan prosesi “Anta Sire Pina”, prosesi kecil dari suku antar bagian “Ba Muka” kepada tuan pesta. Intinya, prosesi merupakan budaya masyarakat. Itulah sebabnya, Pater Fransisco Joao Das Chagas memulai kegiatan prosesi ini pada tahun 1617 untuk menyemangati kekatolikan di Kota Larantuka.

Pada tahun 1642, Prosesi Semana Santa dilengkapi dan disemarakkan oleh pengungsi dari Malaka, akibat negeri yang diduduki Portugis selama 130 tahun itu jatuh ke tangan Belanda pada 14 Januari 1641.

Selain prosesi, di hari Jumat Agung ini juga terdapat tradisi “Baka Kubo”. Tentu maksudnya ziarah ke kubur, menyalakan lilin dan berdoa bagi jiwa segenap anggota keluarga dan semua orang yg dikasihi.

Lilin yang bernyala dengan doa yang didaraskan merupakan media perjumpaan antara yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Indah sungguh, memperingati wafat Kristus, serentak mengenang semua mereka yang sudah berpulang.

Jumat Agung di Larantuka, hari berkabung dengan berjuta lilin bernyala di jalan prosesi, di kapela dan gereja, dan di kuburan. Konsepsi masyarakat tentang Nagi atau Lewo, bukan sebatas keterangan tempat atau tempat tinggal, melainkan disikapi sebagai kosmos atau jagat kehidupan, asal dan muara segala kembara. Di sini letak kedalaman makna, Bale Nagi atau Balik Lewo, kembali pada yang asli.

Sabtu Santo

Sabtu Santo Tradisi devosional selama Pekan Suci di Larantuka mencapai klimaksnya pada Prosesi Jumat Agung. Tidak ada kegiatan tradisional, selain prosesi, persisa kece, mengantar pulang arca Tuan Ma dan Tuan Ana dari Gereja Katedral ke Kapela, juga patung lainnya dari Armida ke Kapela.

Semua patung itu disimpan kembali pada tempat semula untuk jumpa lagi tahun depan. Banyak umat beristirahat lantaran lelah bergiat selama beberapa hari, terutama mengikuti prosesi semalam hingga larut.

Tenaga dikumpul kembali untuk merayakan Misa Malam Paskah yang menyita waktu sekitar empat jam. Demikian pula pada Minggu Paskah umat berbondong-bondong ke Gereja untuk merayakan Minggu Paskah.

Demikian umat Katolik di Larantuka, Nagi Serani, menjalankan tradisi devosional serentak Liturgi Gereja Katolik secara bersamaan dengan penuh hikmat.

Foto: Dok. Pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *