Retret Jalan Hati, Menemukan Suara Hati di Omah Petroek

Feature574 Views
Pagi itu puluhan siswa-siswa Kristen dan Katolik dari SMP Negeri 15 Yogyakarta berjalan menyusuri hutan desa di Padukuhan Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dengan penuh gembira mereka menjalaninya. Gelak tawa dan penuh canda mewarnai perjalanan siswa-siswi ini.

Setelah melewati jalanan di kanan kiri warga, mereka pun memasuki hutan desa. Pepohonan rimbun dan semak-semak menghijau di kanan kiri. Udara terasa sejuk dan asri. Mereka pun berjalan dalam diam. Mereka tak diperkenankan saling senggol atau mengganggu. Kicau burung, suara gemerisik tetumbuhan dan pepohonan mereka dengarkan dan didicatat serta disimpan dalam hatinya.

Dalam jalan diamnya, tentu mereka merasakan sesuatu yang tak biasa. Mereka terbiasa bercanda dan dengan satu dengan lainnya apalagi bagi siswa-siswi Gen Alpha dan Z yang berasal dari perkotaan ini. Mereka harus diam dalam menapaki jalanan desa itu. Mereka mengalami sesuatu yang lain. Namun, mereka bahagia.

Siswa-siswi SMP Negeri 15 Yogyakarta berjalan menyusuri desa dalam Retret Jalan Hati Merawat Bumi dan Mengasihi Sesama di Omah Petroek, Yogyakarta. (Foto-foto: UTUSAN/Slamet Riyadi).

Itulah suasana menyusuri dusun dan hutan desa yang dijalani sekitar 89 siswa-siswi dari Kota Yogyakarta dalam Retret Jalan Hati di Omah Petroek Karang Klethak. Retret Jalan Hati ini berlangsung dua hari.

Bersamaan dengan bulan puasa bagi siswa-siswi Muslim yang mengadakan kegiatan pesantren kilat, siswa-siswi Katolik dan Kristen diajak Retret Jalan Hati di Omah Petroek yang berlokasi di Jogja Utara ini. Siswa-siswi Kristiani ini diajak dalam kegiatan yang berlangsung satu malam dua hari.

Retret Jalan Hati Merawat Bumi dan Mengasihi Sesama adalah program yang diinspirasi dari booklet Jalan Hati, Doa-doa dan Latihan Rohani terbitan Jaringan Doa Bapa Suci Sedunia. Buku ini diolah Rm. Antonius Sumarwan dan SJ, Rm. G.P. Sindhunata, SJ serta Latihan Rohani oleh Rm. L.A. Sardi, SJ. Omah Petroek sebagai rumah budaya dan retret ini menyajikan program yang unik dan menginspirasi bagi siapa pun. Tentu, booklet ini juga tersedia di Omah Petroek serta di penerbitnya.

Menurut Rm. Marwan, hati adalah harta terkaya dan terdalam diri manusia. Alangkah indah dan bahagia bila siapa pun boleh mengenal dan memiliki harta yang bernama hati ini.

“Kenyataannya, kita justru merasa, betapa asing kita terhadap hati kita sendiri. Kita jadi jauh dari harta terkaya dan terdalam kita itu. Kita jadi terjauh dari apa yang terdekat dengan hati kita sendiri,” jelas Rm. Marwan dikutip dari booklet Jalan Hati.

Di tengah aneka tawaran yang datang bertubi-tubi dan masif ini, menurut Rm. Marwan, siapa pun orangnya semakin sulit menemukan hatinya. Jalan ke hati sendiri itu seperti tertutup, dan seringnya, itu atas kemauan manusia itu sendiri.

Buku kecil Jalan Hati  ini mengajak siapa pun untuk membuka kembali jalan hati itu. Dengan Latihan Rohani disediakan, setiap orang akan ditolong untuk langkah demi langkah meniti jalan hati, menuju kepada harta hati yang amat dalam dan kaya. Apalagi dalam booklet ini juga tersaji doa-doa yang membantu siapa pun menemukan hatinya yang disusun oleh Romo G.P. Sindhunata, SJ.

Siswa-siswi dengan gembira dipandu mentor Omah Petroek mengamati pohon kopi yang asing bagi anak-anak zaman sekarang.
Tim Omah Petroek Mengajak Menyusuri Jalan Hati

Di zaman yang semua serba tersaji, baik offline maupun digital ini, setiap orang dari usia balita hingga lansia terbanjiri segala hal yang baik dan buruk. Mata dan telinga penuh dengan jejalan segala hal. Itu semua sering menutup suara hati dan terkunci. Dalam Retret Jalan Hati, siswa dan siswi SMP 15 Yogyakarta mereka diajak untuk mengenal kembali hati mereka.

Di Omah Petroek sebagai ruang publik dan tempat mengasah hati dari Yayasan Basis ini banyak hati diolah. Omah Petroek yang penuh dengan aneka macam kekayaan Rohani dan budaya serta lingkungan yang asri ini menjadi harmoni tersendiri.

Kaki melangkah, dalam sepi dan sunyi.

Agustinus Irawan salah satu mentor dalam retret Jalan Hati ini mengatakan, kualitas pikiran manusia itu ditentukan oleh hati. Pikiran itu logika. Otak itu logika. Hati itu etika.

“Hati yang menawarkan etika ini kemudian keluarannya adalah estetika. Maka, mulai dari perkataan yang baik, gimmick yang sopan, dan seterusnya sehingga muncul ruang-ruang harmoni. Nah, Omah Petroek ini menjadi sumber belajar untuk menemukan itu semua itu. Maka, ide dan konsep jalan hati inspirasi dari buku Jalan Hati itu kita wujud nyatakan dalam olah hati dalam wujud Retret Jalan Hati Merawat Bumi dan Mengasihi Sesama,” terang Irawan.

Setelah mengamati alam dalam perjalanan, mereka diajak sering pengalaman selama perjalanan di lingkungan dan alam.

Semua pola pengolahan diri dan hati dalam aktivitas retret ini mengacu pada identitas Omah Petroek sebagai ruang ekologi dan budaya. Maka, retret ini pun menyatukan itu dalam ruang jalan hati ekologi dan budaya.

Dalam retret ini, mereka yang masih remaja dalam proses menemukan jati diri dan hatinya di tengah gempuran segala macam hal ini diajak untuk mengikuti berbagai kegiatan. Dalam retret ini, sebagai pembuka mereka diajak untuk mengenal materi seperti perkenalan dan game.

Selanjutnya mereka juga diberi bimbingan tentang mengenal diri, refleksi, membangun dan uji kapasitas diri terhadap lingkungan dan alam. Pada hari kedua, mereka diajak olahraga di pagi hari. Tak kalah menarik, mereka pun diajak untuk mengenal alam, membangun niat kolektif, dan dipungkasi dengan ibadat penutup.

 

Siswa-siswi berdiskusi dalam kelompok dalam Retret Jalan Hati di Omah Petroek.
Kesaksian Mengikuti Retreat Jalan Hati

Risang, seorang siswa kelas IX, mengatakan retret kali ini lebih seru, mendalam, dan mengasyikan. Itulah pengalamannya mengikuti retret jalan hati yang diselenggarakan Omah Petroek kali ini kepada UTUSAN.NET.

“Selama dua hari mengikuti retret ini saya merasa senang. Tak terbayang sebelumnya kegiatannya akan seenak dan semenyenangkan kali ini. Pokoknya seru! Beda dengan dua tahun yang lalu. Oleh mentor-mentor, kami diajak untuk bisa lebih disiplin, lebih tahu jati diri. Ngobrol boleh, tapi kami lebih diajak untuk bisa lebih agak dewasa dikit,” kesakian Risang mengikuti retret jalan hati ini.

Sambil berjalan mereka mencatat hal-hal yang dijumpainya.

Sementara itu, Harjanti, salah satu guru dari SMP Negeri 15 Yogyakarta yang mendampingi siswa-siswi selama retret jalan hati ini mengatakan senang. Terlebih, siswa-siswi yang sedang bertumbuh ini diajak untuk lebih mengenal diri dan hatinya.

Janti yang pengagum semangat Ignasian ini mengatakan merasa senang dengan siswa-siswinya berkegiatan di Omah Petroek.

“Kegiatan di Omah Petroek bagi kami sudah tidak asing. Sebab, bagi kami, ada kalanya anak-anak mesti diajak di luar sekolah. Hal ini akan bermanfaat untuk mengolah karakter itu akan efektif. Maka, ini dinamikanya kontekstual. Dengan dibawa keluar dan berdinamika bersama teman-temannya, maka pembentukan karakter itu lebih efektif. Selain karakter hati mereka, rohani mereka pun perlu diasah dan diolah sehingga menjadi lebih selaras serta seimbang,” kata alumnus Pendidikan Kateketik Universitas Sanata Dharma ini.

Membangun niat, itulah refleksi akhir dari Retret Jalan Hati ini. Siswa-siswi peserta retret pada akhir sesi menyepakati sejumlah niatan. Mereka menyepakati dan terbuka hatinya untuk membuat rencana aksi di ruang personal, keluarga, dan sekolah.

Sambil berjalan mereka diminta mencatat hal-hal yang mereka lihat, dengar, dan amati.

Setidaknya, seperti dalam kesaksian mereka setelah menjalani retret dua hari Kawasan lereng Gunung Merapi ini mereka mempunyai banyak kesan dan harapan untuk membangun niat untuk kebaikan bersama. Hal itu bisa terlihat dari ungkapan hati mereka seperti:

  • Lingkungan yang banyak pohon membuat udara segar.
  • Kota Jogja perlu banyak menanam pohon.
  • Perlu pengaturan air karena kota sering banjir jika hujan.
  • Di desa masih bisa dengar suara burung berkicauan yang terbang bebas.
  • Ada banyak tetes embun di dedaunan.
  • Merasakan semilir angin yang sejuk

Anda, komunitas Anda, atau sekolah Anda tertarik mengikuti kegiatan semacam ini dan di Omah Petroek? Tentu dipersilakan dan Anda akan menemukan makna mendalam dalam diri Anda.

Slamet Riyadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed