“Basis majalah budaya yang menembus fakta,
menjaga pertanda cahaya bagi gulita.
Menjaga akal sehat dengan penuh martabat.
Bagi jiwa-jiwa yang bebas dan merdeka.
Basis…Basis biar kecil tetap eksis.
Basis…Basis menjaga api kritis”
Lirik Jingle Majalah BASIS itu mengalun ritmis selama tiga hari penuh mengisi suasana Omah Petroek Karangklethak di Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, DIY. Lagu ciptaan Romo GP.Sindhunata dan di aransemen Marzuki “Kill the DJ” ini menjadi penyemangat peserta, pembicara dan panitia selama Sekolah Basis Musim Ke-6 berlangsung.
Tema Sekolah Basis musim ke-6 yang berlangsung dari Jumat, 31 Juli hingga 2 Agustus ini bertema “Azimat Magnis-Suseno dan Legacy BASIS.” Perhelatan ini sungguh istimewa karena bersamaan dengan ungkapan syukur 75 tahun Majalah BASIS dan syukur 90 tahun Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ pembina Majalah Basis.
Sekolah Basis tidak sekadar menjadi ruang diskusi akademik. Diskusi di luar ruang yang menyatu alam lereng Gunung Merapi ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai pentingnya menjaga tradisi berpikir kritis, kebebasan intelektual, kemanusiaan, dan kebangsaan yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas dan roh Majalah BASIS.
Selama tiga hari, suana keakrapan dan kegembiraan sungguh terasa. Pemimpin redaksi Majalah BASIS , Romo A. Setyo Wibowo, SJ pun menyebutnya sebagai Gaudeamus atau bergembira bersama.
Menurutnya bergembira karena Majalah BASIS diberi usia panjang hingga 75 dan sekaligus tentu saja merayakan Romo Magniz Suseno pembina Majalah BASIS yang berusia 90 tahun.
“Kita bergembira bersama karena Majalah BASIS diberi usia panjang hingga 75 dan sekaligus tentu saja merayakan Romo Magniz Suseno pembina Majalah BASIS yang berusia 90 tahun. Kami merasa senang, seluruh acara berlangsung lancar dan para peserta menikmati dari awal hingga akhir. Secara umum semuanya menjadi momen yang membahagiakan,” ungkap Romo Setyo kepada utusan.net Minggu siang, 2 Agustus 2026 seusai penutupan Sekolah Basis.
Menurut Romo Setyo, Kualitas para pembicara menjadi kekuatan utama dalam Sekolah Basis ini. Mereka memiliki rekam jejak kuat dalam bidangnya masing-masing.
Mereka adalah Gita Wirjawan, Rosianna Silalahi, Johanes Haryatmoko, Edy Supratno, Sri Wahyaningsih, Yustinus Prastowo, Chryshnanda Dwi Laksana, Zainal Arifin Mochtar, Yanuar Nugroho. Romo G.P. Sindhunata, SJ, Franz Magnis-Suseno, SJ. Dari para narasumber tersebut, peserta memperoleh beragam perspektif, gagasan, dan inspirasi yang memperkaya cara pandang mereka terhadap berbagai persoalan bangsa.
Romo Setyo juga mengatakan bahwa seluruh rangkaian acara bisa berjalan lancar. Salah satu momen dialog yang istimewa adalah yang dipandu Rosiana Silalahi bersama Romo Magnis Suseno dan Mantan Menteri Kelautan Susi Pujiastuti. Dalam suasana hangat dan penuh kegembiraan, jurnalis senior yang dikenal melalui program Rosi itu berbincang langsung dengan Romo Magnis dan Mantan Menteri Kelautan di Era Joko Widodo. Rosi berdialog tentang Romo Magnis mengenai mengenai perjalanan hidup, pemikiran, dan kontribusinya bagi Indonesia.
Tiga Hari Menyalakan Apri Kritis
Nyala api kritis dinyalakan oleh panitia dalam rupa susunan acara yang diikuti ratusan peserta. Berisi sajian yang padat namun tidak pernah menjemukan bagi peserta. Semua peserta senantiasa larut dalam setiap sesi. Walaupun disajikan secara padat namun tetap berimbang dan menarik.
Hari pertama, diawali dengan Kelas Menulis, dilanjutkan Salam dari BASIS, Lyceum X BASIS, Book Signing, sesi What It Takes, diskusi “75 Tahun BASIS: Dunia Tanpa Teks, Membaca, Menulis, dan Tulang Punggung Kebudayaan”, serta seremoni peringatan 75 tahun Majalah BASIS dengan perfomance Tarian Seribu Mata dari Sanggar Dewi Buwono Wonorejo dan potong tumpeng 75 tahun Majalah Basis.
Hari kedua diisi dengan Silent Reading, diskusi “Polisi Kok Sipil?”, “Warga yang Kritis atau Publik yang Lelah?”, Pidato Kebudayaan 90 Tahun Franz Magnis-Suseno, hingga Pentas Budaya pada malam harinya.
Sementara itu, hari ketiga menghadirkan diskusi “Kapitalisme Pemangsa Bangkai”, Analisis Figurasi dan Jaringan, sebelum akhirnya ditutup dengan refleksi bersama seluruh peserta.
Romo Setyo mengungkapkan materi yang disampaikan narasumber tidak saja memperluasa wawasan peserta tetapi juga mendidik dan menginspirasi peserta untuk terus berpikir kritias. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Majalah Basis untuk menyajikan dengan tema-tema baru ke depannya.
“Kami ingin terus mengenalkan Majalah Basis kepada generasi muda. Lebih penting lagi, kami ingin mengenalkan kedalaman berpikir kritis dan kedalaman alalisis. Harapan kami, para teman-teman muda kita memiliki perangkat critical thinking yang sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat,” harap Romo Setyo.
Pada sesi salam dari Basis, Ketua Yayasan Basis, Romo Antonius Sudiarja, SJ, menyambut penuh kehangatan kepada para peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ia pun mengajak mereka menikmati tiga hari Sekolah Basis ini dalam suasana kekeluargaan.
“Saya mewakili Yayasan Basis mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta Sekolah Basis Musim Ke-6. Semoga Anda dapat menikmati dinamika pemikirandi alam yang terbuka ini. Yayasan Basis adalah yayasan yang menaungi Majalah BASIS, Majalah UTUSAN, Majalah ROHANI, dan Omah Petroek,” ujar Pastor yang juga Guru Besar di Sekolah Tinggi Driyarkara Jakarta ini.
Tak hanya itu, Romo Sudiarja pun pada momen ini juga menegaskan, bahwa sejak pertama kali diterbitkan, Majalah BASIS senantiasa berupaya menghadirkan artikel-artikel kritis, mendalam, dan relevan dengan perkembangan zaman. Majalah BASIS adalah benteng pikiran sehat. Ia hadir untuk terus menjaga daya nalar dan berpikir kritis. Semangat itu sejalan dengan moto Majalah BASIS “Jurnalisme Seribu Mata, Menembus Fakta.”
Sumbangan Pemikiran untuk Indonesia
Sekolah Basis tidak sekadar memberikan edukasi bagi peserta. Menurut Romo Setyo Pemimpin Redaksi Majalah BASIS sekaligus dosen Filsafat Sekolah Tinggi Driyarkara ini Sekolah Basis juga menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat dan para pemikir yang selama ini berkontribusi besar bagi kehidupan intelektual di Indonesia.
Dengan menghadirkan tokoh-tokoh seperti Yanuar Nugroho, Zainal Arifin Mochtar, Yustinus Prastowo, Romo G.P. Sindhunata, hingga Romo Magnis-Suseno dan lainnya para peserta memperoleh kesempatan berdialog secara langsung.
“Selama ini orang mungkin hanya mengenal mereka melalui televisi, media sosial, atau tulisan. Di Sekolah Basis mereka bisa bertemu langsung, berdiskusi, dan merasakan bagaimana para pemikir ini memiliki perhatian yang sangat mendalam terhadap masa depan Republik Indonesia,” jelas Romo Setyo dan menegaskan bahwa interaksi langsung seperti ini akan memberi dampak yang jauh lebih kuat dan menumbuhkan komitmen untuk ikut membangun bangsa,” ujarnya.
Tetap Kecil dan Menjaga Api Kristis
Memasuki usia ke-75, Majalah BASIS terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai majalah pemikiran.
Menurut Romo Setyo, sejak masa Romo Driyarkara hingga sekarang, Basis terus mengalami perubahan dalam format dan penyajian. Namun satu hal yang tidak berubah adalah semangat menjaga kedalaman berpikir. BASIS memang tidak bercita-cita menjadi besar secara kuantitas.
“Kami ingin tetap setia seperti tertuang dalam jingle kami, Biar kecil tetap eksis. Yang paling penting adalah kehadiran Basis tetap bermakna bagi orang-orang yang ingin berpikir lebih dalam, menjaga akal sehat, dan merawat tradisi berpikir kritis,” ungkap Romo Setyo.
Majalah Basis tidak pernah sepi dari pemikiran dan sajian kritis setiap edisinya. Maka di tengah derasnya arus informasi dan media sosial yang serba cepat, maka semangatlah yang terus disajikan dan terasa masih tetap terus relevan. Majalah Basis terus memilih menjadi ruang bagi mereka yang tidak sekadar mencari jawaban. Seperti mengalun dan dalam diskusi sepanjang tiga hari ini dalam Sekolah Basis musim ke-6 ini Majalah Basis senantiasa tetap berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang manusia, kebudayaan, demokrasi, dan masa depan Indonesia.
Lagu ‘Basis… Basis… menjaga api kritis’ terus berkumandang. Semangat itulah yang terus menjadi semangat dan sumbangan pemikiran Majalah yang lahir di tahun 1951 ini. Seperti terang yang tak pernah padam yang senantiasa menyinari kegelapan BASIS akan terus hidup. Majalah BASIS menjadi cahaya kecil yang tak pernah padam bagi siapa pun yang masih percaya bahwa pikiran kritis adalah fondasi sebuah bangsa yang bermartabat.
Pulang dengan Lima Mutiara Perasaan Bangsa
Siang hari pun Sekolah Basis berakhir. Romo G.P. Sindhunata, SJ pemimpin umum Majalah BASIS dan sekalig Omah Petroek menutup acara bergengsi ini dan mengajak seluruh peserta membawa pulang bukan hanya pengetahuan. Ia menegaskan bahwa inspirasi juga lahir dari keheningan alam, kesederhanaan hidup, dan kemurahan hati. Omah Petroek yang dibangun bukan oleh proyek besar, melainkan oleh semangat gotong royong dan kerelaan banyak orang. Mereka, para peserta ditempat yang sederhana ini diajak menyadari bahwa tradisi intelektual sejati bertumbuh dari ketekunan, kerendahan hati, dan keberanian berbagi demi kebaikan bersama.
“Perjuangan para tokoh bangsa, budayawan, dan intelektual yang jejaknya hadir di Omah Petroek merupakan sumber inspirasi untuk terus merawat Indonesia. Saya mengajak Anda memaknai Pancasila bukan semata sebagai ideologi, melainkan sebagai “lima mutiara perasaan bangsa” yang hidup di dalam hati. Dengan kesadaran akan misteri kehidupan, kejernihan berpikir, dan keberanian menjaga nurani, saya berharap pulanglah membawa semangat baru untuk terus menyalakan akal sehat, kebudayaan, dan kemanusiaan di tengah masyarakat. Terima kasih atas kehadiran dan kesetiaan Anda selama mengikuti Sekolah Basis ini,” pungkas Romo Sindhu.








