Bawa Daku ke Sion, Lagu Healing Ciptaan Padre Marco

Feature156 Views

Pater Markus Solo Kewuta SVD atau akrab disapa Padre Marco merupakan salah satu putra terbaik Indonesia. Pastor kelahiran Lewouran, Kabupaten Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Agustus 1968 ini menjadi satu-satunya pejabat asal Indonesia di Pemerintahan Takhta Suci (Vatikan), pada Dikasteri (Kementerian) Dialog Antarumat Beragama.

Meraih gelar doktor Teologi Fundamental dengan predikat Summa Cum Laude di Universitas Leopold Franzens di Kota Innsbruck, Austria, pada 2002, Padre Marco mulai bertugas di Vatikan pada Juli 2007, sebagai staf penasihat pada Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama (PCID).

Di sela-sela kesibukannya menempuh pendidikan calon imam di Ledalero, Padre Marco yang ditahbiskan di Rumah Misi SVD Sankt Gabriel, Wina, Austria, 3 Mei 1997 ini juga menciptakan sejumlah lagu rohani.

Salah satu lagunya yang terkenal dan fenomenal adalah Bawa Daku ke Sion. Lagu ini fenomenal karena  memiliki kekuatan untuk menguatkan hati di saat bimbang, memberikan ketenangan jiwa, hingga menyembuhkan dan membuat mukjizat.

Padre Marco pada 3-5 Agustus 2026 berada di kampung halamannya, Lewouran, untuk merayakan ulang tahun. Ia juga dijadwalkan mengikuti sejumlah kegiatan, mulai dari pertemuan bersama keluarga dan umat, Misa Syukur, kunjungan ke sekolah serta asrama yang berada dalam pendampingannya, hingga penyerahan relikui Santo Petrus dari Vatikan kepada Gereja St. Petrus Lewouran.

Ada sejumlah kesaksian beberapa orang tentang kekuatan lagu Bawa Daku ke Sion bagi Padre Marco.

Dalam kesendirian dan sakit, dr. Fitri mendadak ingat lagu Bawa Daku ke Sion.
Saraf terjepit sembuh total

Seorang ibu pensiunan dokter bernama Fitri mengaku mendapatkan kesembuhan dengan menyanyikan terus-menerus lagu ini. Bukan sekadar sembuh, pahanya yang sakit luar biasa karena saraf terjepit tidak perlu dioperasi.

“Saya mengalami sakit di kaki pada 18 Mei 2025 saat inagurasi Paus Leo XIV. Saya merasakan paha saya sangat nyeri. Kram sakit sekali, saya tarik tapi tetap sakit,” ceritanya.

Hingga pukul 18.00, dr. Fitri terus menderita, tidak bisa berjalan dan hanya bisa mengerang serta merintih kesakitan. Di rumah sakit, ia diberi pain killer dosis paling tinggi. Sebagai dokter yang paham, tak semua orang cocok dengan pain killer, karena itu ia juga meminta dokter untuk menyiapkan antinya.

“Betul, saya sangat kesakitan setelah diinjeksi pain killer. Saya merasa kepala membesar dan leher tercekik, susah napas, saya pikir mau mati. Akhirnya, pain killer dihentikan, dan disuntikkan antinya. Kira-kira 10 menit normal lagi. Tapi paha saya tetap sakit,” katanya.

Dua hari ia tidak ditangani dengan baik, cuma dikompres. Begitupun besoknya ketika difisioterapi keadaan tetap tidak membaik. Akhirnya, ia memutuskan pulang dan minta fisioterapi oleh kenalannya di gereja.

Praktis seminggu ia merasakan kesakitan. “Setelah dua tiga kali fisioterapi agak mending. Namun, sakit di paha itu rasanya tidak berubah. Saya tidak bisa tidur telentang,” ucapnya.

Dalam kesendirian dan sakit, dr. Fitri mendadak ingat lagu Bawa Daku ke Sion. “Saya nyanyikan setengah berteriak, ‘Tuhan, oh Tuhan, dengarkanlah keluh kesahku.’ Saya teriak dan bait lagu itu saya nyanyikan berulang-ulang. ‘Dengarkanlah keluh kesahku,’ terus saja saya teriakkan. Setelah seminggu teriak-teriak nyanyi Bawa Daku ke Sion, saya mulai enakan, saya sudah bisa tidur telentang,” jelasnya.

Sebulan lebih, praktis dr. Fitri diganggu rasa sakit di paha. Ia terus berjuang bolak-balik ke RS menjalani berbagai macam terapi. Fisioterapi merupakan salah satu tindakan yang lumayan membantu. Dan atas usulan fisioterapis itu pula ia memeriksakan diri ke dokter Ortopedi, dr. Ajiantoro.

Setelah diperiksa, diketahui paha dr. Fitri mengalami saraf terjepit. “Ya sudah, besok pagi masuk ruang operasi,” kata dr. Aji.

Sebelum operasi dr. Fitri disuntik tiga obat. Ada satu suntikan untuk memastikan lokasi paha yang sakit. Jika setelah 5 menit disuntik rasa sakit hilang, maka dokter akan mengoperasi di titik itu. Karena masih ragu, ia diberi waktu seminggu.

“Kalau sudah tidak sakit ya sudah. Kalau sakitnya muncul lagi, berarti mau tidak mau harus operasi,” jelas dr. Aji.

Seminggu kemudian, dr. Fitri merasakan pahanya sudah membaik. Selesai masalah? Ternyata tidak. Dua bulan kemudian, pahanya kumat. Seperti serangan di awal, tetapi ia cuma menghubungi fisioterapis.

Setelah ditangani dua kali, kondisinya lumayan. Namun, menjelang 17 Agustus 2025, serangan sakit di paha kembali datang. Parahnya, ia tidak bisa menghubungi fisioterapis.

“Saya kecewa. ‘Tuhan tidak ada yang menolong saya. Gimana? Apakah operasi jalan satu-satunya? Saya lapor lagi ke Romo Bebi dan siapkan hati untuk operasi,” katanya.

Ia pun melanjutkan, “Waktu telepon Romo Bebi, beliau bilang ke saya, percaya, percaya tidak akan dioperasi. Mengimani hal itu, lagu Bawa Daku ke Sion menemani hari-hari saya. Saya putar semua versinya di YouTube. Saya kuatkan diri saya, dan teriak kuat-kuat.”

“Saya pasrah dan terus menyanyikan Bawa Daku ke Sion. Seorang teman di gereja menguatkan iman bahwa saya berada di padang gurun dan hanya Tuhan Yesus yang menemani. Ada juga seorang dokter yang kebetulan juga Katolik mengingatkan untuk tidak mengaduh kesakitan, tapi diganti sugesti religius dengan alleluia, amin,” ujarnya.

Seminggu sebelum operasi, kondisi paha dr. Fitri berangsur pulih. Terus mengalami kemajuan, bisa keluar kamar, keluar rumah, bahkan ke rumah tetangga di seberang jalan.

“Saya terus telepon Romo Bebi, ‘Kok kondisi saya membaik? Jadi operasi nggak, ya?’ Romo jawab, ‘Sudahlah, tidak usah, Tuhan sudah tolong.’ Dalam nama Yesus, bilur-bilur-Nya sudah menyembuhkan saya. Saya pikir gitu saja. Tiba waktu operasi, saya dengan tegas bilang batal,” tegasnya.

Batalnya operasi membuat dr. Fitri tercetus ide untuk mendorong Ochel, keponakannya, membuat video cover lagu Bawa Daku ke Sion. “Meski sulit, Ochel harus menyanyikannya karena lagu itu suara hati saya,” ujarnya.

Setelah mendapat izin Padre Marco, dua minggu Ochel latihan nyanyi terus, dan akhirnya suaranya direkam dan dikirimkan kepada Romo Bebi yang membuatkan musiknya. Dua minggu kemudian selesai.

Kini, dr. Fitri sudah sembuh total. Begitu video klip kelar, ia melakukan video call dengan Padre Marco. “Beliau bilang bagus, semoga memberi berkat. Saya bilang sangat, karena berkatnya ke saya. Selama saya nyeri sakit saya teriak, ‘Tuhan, oh Tuhan, dengarlah keluh kesahku, indahkanlah .…’ Itu saja saya terus teriakkan. Pokoknya, ketika nyeri sudah tak tertahan, itu saya teriakkan lagu Bawa Daku ke Sion,” ucap dr. Fitri.

Meski tanpa sengaja dengar lagu itu di TikTok, entah kenapa ketika sakit, ia langsung teringat lagu itu.

“Begitu kesakitan, saya nyalain lagu itu, saya dengerin dan berderailah air mata saya. Dan, itu saya teriakkan terus-menerus. Begitu saya bisa jalan, saya janji harus membuat lagu ini. Karena ini kata hati saya, ini doa saya, teriakan saya, dan Tuhan menjawab saya. Puji Tuhan, sudah setahun ini penyakit saya sudah tidak kambuh lagi. Alleluia,” katanya penuh syukur.

Alfa ingat persis, suatu siang ketika istrinya mencoba menyanyikan lagu itu, sang istri menangis.
Tiga mukjizat

Alfa Edison Bangu yang bekerja di Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, menceritakan berbagai mukjizat yang dialami sang istri, Sipriana Maria Theresia, terkait dengan lagu Bawa Daku ke Sion sehingga ia mendorong istrinya membuat cover lagu tersebut.

“Video Padre Marco sedang menyanyikan lagu itu di dalam mobil mendorong saya untuk membuat lagu ini dinyanyikan dengan emosi bagus dengan refleksi yang dalam dan perlu penjiwaan,” ujarnya.

Alfa lantas merenung, membayangkan aransemen bagaimana ketika orang mendengarkan lagu ini langsung tersentuh. “Saat itulah saya coba membuat beberapa aransemen, dan jadilah instrumen minus one dengan beberapa track,” ucapnya.

Alfa lalu bertanya-tanya dalam hati, siapa yang tepat untuk menyanyikannya. “Banyak orang yang kita kenal bisa nyanyi, tetapi belum tentu bisa memberikan refleksi terhadap lagu ini. Bukan sekadar bernyanyi tapi sekaligus berdoa. Di otak saya itu seolah ada yang bilang, ‘Itu istrimu,’” ungkapnya.

Awalnya, istrinya menolak, tetapi ia “memaksa” dan minta istrinya meresapi lagu tersebut dan akhirnya istrinya mengiyakan.

Alfa ingat persis, suatu siang ketika istrinya mencoba menyanyikan lagu itu, sang istri menangis. “Baru baris pertama belum sampai refrein, dia menangis, menyanyi sambil menangis. Artinya, syair Bawa Daku ke Sion benar-benar menyentuh. Ketika saya proses merekam sampai jadi itu, saya bertanya-tanya, ‘Kok seperti ini, ya? Sesuatu yang tak terbayangkan,” ujarnya.

Theresia mengakui, awalnya tak ingin menyanyikan lagu tersebut untuk direkam karena bukan penyanyi. “Namun, karena syairnya sangat menyentuh dan sesuai dengan perjalanan hidup saya sendiri, baiklah, saya coba untuk menyanyi,” akunya.

Ia kemudian memulai dengan mendengung-dengungkan lagu itu. “Saya sering buka lagu itu di YouTube ketika sedang putus asa. Tapi dengan mendengar lagu itu saya semakin yakin bahwa dalam setiap situasi Tuhan itu pasti menolong kita, seperti di bagian refreinnya itu, ‘Tuhan, oh Tuhan, dengarlah keluh kesahku,’” ucapnya.

Ia menyatakan, dalam doa dirinya selalu berharap kepada Tuhan, dan Tuhan selalu menemani setiap langkahnya. Ia mengaku jika menghadapi masalah dan menyanyikan lagu itu, masalah terselesaikan.

“Jika saya berdoa sambil mendengarkan lagu itu, hati saya perlahan-lahan tenang, menerima kenyataan dan semua situasi. Setelah itu banyak terjadi keajaiban. Ketika saya mencoba untuk pasrah seperti di lagu itu, selalu ada kebaikan. Saat ada orang menyakiti, saya ingin membalas apa yang mereka lakukan. Tapi, dengan mendengarkan lagu itu dan masuk ke refrein, saya berpikir saya tidak perlu membalasnya,” bebernya.

Lebih dalam ia mengungkapkan, ketika berharap sesuatu dan pasrah kepada Tuhan, semua yang dimintanya selalu dipenuhi, bahkan dua kali lipat. Banyak pengalaman rohani yang diperolehnya terkait berpasrah kepada Tuhan seraya terus berdoa dan menyanyikan Bawa Daku ke Sion. Setidaknya ada tiga peristiwa baginya yang merupakan sebuah mukjizat.

Pertama, bertemu dan mencium tangan Paus Fransiskus. Saat mengetahui Paus bakal ke Indonesia, 3-6 September 2024, Theresia ingin sekali dapat bertemu dan mencium tangannya. Didorong hasrat itu, tiga bulan sebelumnya ia berdoa Novena.

“Saya berdoa, ‘Tuhan, saya nggak mungkin bisa ke Vatikan, tidak akan mampu. Tapi kalau Engkau berkenan, izinkan saya bisa mencium tangannya saja di Jakarta,’” tuturnya.

Theresia hingga saat-saat terakhir jelang Misa bersama Paus Fransiskus di Gelora Bung Karno (GBK) masih belum dapat undangan. Ia cemas dan sempat putus asa. “‘Tuhan, masa cuma ikut Misanya saja tidak bisa? Kalau memang Engkau tidak mengabulkan ke Vatikan, bisa mengabulkan saya Misa di GBK.’ Detik-detik terakhirlah saya dapat tempat di GBK,” kisahnya.

Saat mengikuti Misa di GBK itu, kembali ia mengungkapkan doa untuk bisa mencium tangan Paus. “Saat Paus mengangkat hosti, saya berdoa, ‘Ya Tuhan, jika Engkau berkenan, izinkanlah saya untuk mencium tangannya. Saya sudah melihatnya saat ini, tapi saya ingin sekali bisa mencium tangannya.’”

Sepulang dari GBK, Theresia berdoa lagi kepada Bunda Maria. “Saya devosi kepada Bunda Maria, dan berdoa tiga peristiwa. Saya bilang, ‘Bunda Maria, Paus Fransiskus sangat dekat dengan engkau. Bisakah kau pertemukan saya dengan beliau dengan caramu?’” katanya.

Tak lama selesai berdoa, Alfa, suaminya, memberitahukan bahwa dirinya mau mengantar Paus Fransiskus ke bandara. Theresia spontan bilang untuk ikut.

“Saya terus berdoa dengan rosario dan Kerahiman Ilahi supaya saya diizinkan masuk ke dalam. Begitupun ketika bisa masuk ke landasan, rasanya mustahil bisa bertemu dengan Bapa Paus karena tempatnya yang jauh. Namun, tepat pukul 12.00, saya berdoa Angelus. ‘Bunda Maria, tolong, ini kesempatan terakhir.’ Dan, di saat itulah ketika saya berbalik arah mau kembali, datanglah Paus Fransiskus hendak menuju tangga pesawat, dan di situlah saya mendapatkan berkat dan bisa mencium tangan beliau,” katanya lega.

Kedua, mukjizat juga terjadi saat mama Theresia menderita sakit. Sang mama divonis sakit ginjal dan jantung pada Desember 2024. “Mama saya tinggal di Flores, sakit, sedangkan saya di Jakarta. Rasanya sulit untuk saya pergi ke Flores atau bawa mama ke Jakarta,” ujarnya.

Ia pun berdoa dan menyanyikan Bawa Daku ke Sion karena tidak mau kehilangan sang mama. “Saya berdoa setiap malam dan lagu itu menguatkan saya. Puji Tuhan, Mama bisa kami bawa ke Jakarta, semuanya termasuk penggunaan fasilitas BPJS dimudahkan. Transfer dari Flores ke St. Carolus di Jakarta juga lancar. Kami juga bisa mendapatkan dokter yang baik,” katanya.

Tuhan menjawab apa yang dikeluhkesahkan Theresia. “Seperti saya bilang tadi, dua kali lipat dari harapan saya. Ginjal Mama yang sudah parah, kronis, puji Tuhan, setelah dikontrol sekarang jauh membaik. Selama merawat Mama, saya sering menyanyikan Bawa Daku ke Sion di depan Mama. Kebetulan, Mama juga suka dengan lagunya,” ucapnya penuh syukur.

Bersamaan dengan kesembuhan sang mama, Theresia juga menerima mukjizat ketiga. Ia yang terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaan selama merawat mamanya, kembali mendapatkan pekerjaan baru.

“Karena berbagai mukjizat itu, saya minta suami bilang terima kasih kepada Padre Marco atas lagunya, Bawa Daku ke Sion, yang benar-benar menguatkan hati saya dalam kesulitan hidup saya.”

 

Misa Requiem

Selain menyembuhkan, Bawa Daku ke Sion, khususnya di Flores, NTT, juga populer dinyanyikan untuk mengiringi Misa Requiem, mengantar jenazah umat Katolik yang meninggal ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Ini tentu tak lepas dari asal pencipta lagu tersebut.

Seorang ibu bernama Elizabeth Ugut menceritakan pertama kali mengenal lagu Bawa Daku ke Sion saat tantenya meninggal pada 1999. Saat itu, suasana batin keluarga sedih dan sangat membutuhkan pertolongan Tuhan untuk kekuatan.

“Nah, saat jenazah mau dibawa ke pemakaman, saya mendengar lagu Bawa Daku ke Sion diputar dan dinyanyikan. Itu pertama kali saya kenal lagu tersebut,” tuturnya.

Saat itu, jelas Elizabeth, ia benar-benar terangkat hatinya oleh lagu tersebut. Ia bisa pasrah kepada Tuhan dan berdoa, “Tolong Tuhan bawa dan terima tante saya ini untuk berbahagia di surga.”

Ia berdoa sedemikian rupa karena anak-anak tantenya masih kecil-kecil. Sejak itu, setiap hatinya galau, ia menyanyikan lagu Bawa Daku ke Sion. Karena lagu itu menggambarkan kerinduan untuk bersatu dengan Tuhan yang benar-benar menjadi kekuatan.

Kata Elizabeth, bagi masyarakat Kupang, Bawa Daku ke Sion menjadi lagu wajib saat mengalami peristiwa-peristiwa sedih, terutama pada situasi kedukaan.

“Di Kupang itu setiap ada yang meninggal, saat Misa Requiem, pemakaman atau ibadat peringatan malam ketiga, 40 hari, satu tahun, dan sebagainya, lagu itu dinyanyikan,” ujar Elizabeth yang bertemu Padre Marco ketika berziarah ke Vatikan, Januari tahun lalu.

Ia menambahkan, ketika bernyanyi Bawa Daku ke Sion dalam kedukaan atas meninggalnya seseorang, “Kita berharap kepada Tuhan untuk menerima yang meninggal ini. Dan, ada satu kerinduan bahwa kita akan menuju ke sana. Kita berpasrah kepada Tuhan, terimalah dia dan bantulah kami untuk menjalani hidup yang pada waktunya juga akan bertemu Tuhan.”

Lebih jauh, lagu Bawa Daku ke Sion juga menjadi teman dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya sehari-hari. “Setiap kali saya menulis dokumen AMDAL, lagu itu saya putar untuk mengiringi saya menyelesaikan pekerjaan. Lagu itu menjadi penyemangat untuk menyelesaikan tanggung jawab saya. Dan, setiap kali pula Tuhan tolong saya menyelesaikan tugas yang Tuhan percayakan kepada saya,” katanya.

Elizabeth patut bersyukur, meski sudah pensiun sebagai ASN pada 2016, ia masih diberi berkat Tuhan menjadi konsultan AMDAL. “Jasa konsultasi AMDAL saya ini masih diperlukan dalam pembangunan sektor pariwisata, termasuk pembangunan hotel. Saya bersama tim dipercaya menangani pembangunan hotel-hotel di Labuan Bajo, terkait izin AMDAL lingkungan,” ujarnya.

Setiap kali menghadapi kesulitan dan berkeluh kesah kepada Tuhan lewat lagu Bawa Daku ke Sion, Sr. Celestine seolah mendapat kekuatan.
Sumber kekuatan

Sr. Celestine ADM (Amal Kasih Darah Mulia), Kepala Sekolah (TK-SMA) Serafine Bhakti Utama di Gombong, Jawa Tengah, menilai lagu Bawa Daku ke Sion yang dikenalnya sejak kecil sangat menyentuh hati dan pas untuk mengungkapkan perasaan.

Ia mengatakan, setelah mulai bekerja, dirinya selalu mendengarkan lagu itu. “Saya bisa mengungkapkan apa adanya di hadapan Tuhan, saya yang hina dan rapuh. Tuhan selalu menggenggam tangan saya, membimbing saya ke bukit Sion. Saya bisa mengungkapkan kejujuran hati,” jelasnya.

“Lagu itu memiliki kekuatan roh yang meneguhkan saya di dalam suka dan duka, terutama di saat menghadapi pergulatan dalam karya. Ketika pindah dari sekolah yang kecil ke sekolah lebih besar dengan berbagai tantangan yang lebih berat dengan murid banyak, saya sering menemui kesulitan. Tapi dengan lagu itu ada kekuatan roh yang meneguhkan dan menyembuhkan hati saya sehingga dihibur dan dikuatkan untuk tidak menyerah,” bebernya.

Setiap kali menghadapi kesulitan dan berkeluh kesah kepada Tuhan lewat lagu Bawa Daku ke Sion, Sr. Celestine seolah mendapat kekuatan. “Setiap keluh kesah saya selalu didengar Tuhan, saya bersyukur selama satu tahun di tempat baru ini saya merasakan benar penyertaan-Nya sehingga di akhir tahun pelajaran ini semuanya menggembirakan,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, setiap hari selalu menyanyikan lagu itu. “Dalam pergulatan dan tantangan, kebisingan di saat sibuk kerja dari pagi hingga sore, begitu mendengarkan lagu itu saya mengalami keheningan batin. Terlebih setiap malam saya juga selalu visitasi ke Sakramen Maha Kudus, saya selalu dibimbing ke Sion, Tuhan itu tujuan hidup saya. Sebelum tidur malam, saya selalu berdoa dulu di kapel, saat bangun pagi saya merasa segar dan punya kekuatan baru,” ujar Sr. Celestine yang sudah hidup membiara 25 tahun lebih.

Penguatan juga diperoleh Sr. Celestine saat setahun lalu ibunya mendahuluinya pulang ke rumah Bapa di surga. “Mama dipanggil Tuhan dan saya merasa tidak siap. Tapi mengingat lagu itu, saya yakin bahwa Mama dibawa ke Sion, ke rumah Tuhan, lagu itu menguatkan dan menyembuhkan hati sehingga saya bisa menerima,” ujarnya.

Sebagai penanggung jawab sekolah dengan tantangan berat, Sr. Celestine sering ingin mundur. Namun, saat mendengarkan lagu ini, niat itu selalu pupus karena ia langsung sadar untuk maju terus. “Saya harus bertahan meski tidak mudah. Dengan mendengarkan lagu Bawa Daku ke Sion terus-menerus, saya kembali semangat dan tidak menyerah sebagai kepala sekolah. Ia menyadarkan bahwa Tuhan selalu menggenggam tangan saya,” katanya.

 

Doa-doa terpendam

Padre Marco mengungkapkan, lagu yang memiliki napas, roh sangat panjang dan kuat itu diciptakan tahun 1992, saat menempuh pendidikan seminari tinggi, calon imam SVD, di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Flores.

Saat itu ia menggubah lagu ini untuk digunakan pada kegiatan jalan salib. Namun, sebenarnya ada konsep-konsep atau doa-doa tertentu yang sudah lama tersimpan di dalam hatinya.

“Sebuah kerinduan, sebuah hasrat yang sangat dalam, akan situasi baru di dalam hidup saya. Pengalaman diselamatkan, pengalaman untuk bertransendensi baik secara fisik maupun spiritual,” ujarnya.

Lagu Bawa Daku ke Sion menyebar begitu luas, jelas Padre Marco, karena memiliki karakter sangat kuat, pesan nuansa teologi dan spiritual yang sangat mendalam, didukung oleh melodi serta lekak-lekuk alunan yang sangat tepat. “Oleh karena itu, lagu ini telah menjadi pusat atau sumber inspirasi iman atau spiritual iman banyak orang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *