Sleman. Untuk pertama kalinya, LP3KD (Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman mengadakan Gelar Seni Pesparani yang diadakan pada Sabtu, 30 November 2024 di Aula Fakultas Teologi Wedhabakti (FTW) Universitas Sanata Dharma (USD), Jl. Kaliurang Km. 7, Kentungan, Depok, Sleman, D.I. Yogyakarta.
Gelar seni tersebut menjadi rangkaian akhir dari festival perlombaan Pesparani yang sebelumnya diadakan pada 6 Juli 2024. Ketua LP3K Daerah Kabupaten Sleman, Bambang Sigit Sulaksono mengatakan, LP3KD Kabupaten Sleman sendiri sudah menwadahi kegiatan Pesparani setingkat kabupaten/kota pada tahun 2023 sejak mulai dibentuk pada tahun 2022.
Untuk penyelenggaraan Pesparani tahun ini, LP3KD mengadakan rangkaian acara lanjutan berupa gelar seni Pesparani dengan mengundang seluruh peserta lomba Pesparani 2024, umat paroki di Kabupaten Sleman, wakil dari Keuskupan Agung Semarang (KAS), serta sederet pemangku jabatan pemerintah di Kabupaten Sleman.
Gelar seni ini dilakukan sebagai wadah apresiasi bagi para pemenang perlombaan Pesparani 2024 serta persiapan menuju festival Pesparani 2025. Festival Pesparani tahun ini lebih dikhususkan untuk perlombaan kategori anak-anak dan remaja yang diantaranya terdiri dari enam lomba, yaitu Mazmur Anak, Mazmur Remaja, Mazmur Dewasa, Cerdas Cermat Rohani (CCR) Anak, CCR Remaja, serta Tutur Kitab Suci Anak.
Sementara untuk Pesparani tahun 2025 mendatang, LP3KD akan mengkhususkan untuk perlombaan kelompok paduan suara. Ini selaras dengan agenda LP3KD yang memberikan pembeda antar tahun genap untuk lomba perseorangan serta tahun ganjil untuk lomba kelompok paduan suara.

Acara gelar seni ini menampilkan beberapa tampilan dari pemenang lomba Pesparani serta sajian kebudayaan umat paroki di Kabupaten Sleman. Lala, Juara 1 Tutur Kitab Suci Anak dari Paroki Petrus dan Paulus Minomartani menampilkan sajian kisah Nabi Nuh dan air bah lewat gayanya yang ekspresif. Selain itu, sajian budaya teater jawa dengan kolaborasi kisah spiritual dipentaskan oleh kelompok Teater Jaran Iman yang semua pemerannya adalah frater Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan.
Paduan Suara (Padus) Anak Brayut, Kelompok Kor Banteng, dan Tari Kridha Tresna Budaya dari Paroki Gamping turut andil memeriahkan jalannya acara. Hingga akhirnya, acara ditutup pertunjukan musik kelompok Angklung Wani Wirang yang dipersembahkan oleh seluruh panitia gelar seni Pesparani.
Bersatu Membangun Bangsa untuk Memuji dan Memuliakan Tuhan dipilih menjadi tema dalam gelar seni Pesparani. CB. Ismulyadi selaku Ketua 3 bagian Humas dalam acara tersebut mengatakan, tema itu dipilih sebagai bentuk sinergitas antara umat paroki dengan Pemerintah Kabupaten Sleman.
“Dari tema itu ada unsur spiritual dan partisipasi kenegaranan yang ingin didukung oleh umat Katolik dari seluruh paroki di Kabupaten Sleman,” ungkap Ismul.
Rangkaian acara Pesparani tahun ini sendiri sepenuhnya didanai dari anggaran Pemerintahan Kabupatan Sleman. Sejak tahun 2022, Pesparani telah menjadi agenda dari Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Sleman. Kolaborasi aktif antara Pemerintah dan LP3KD dalam mengusung meriahnya Pesparani 2024 menjadi bentuk sinergitas dan cara dalam membangun hubungan persaudaraan.

Sejumlah pemangku jabatan di Pemerintah Daerah Kabupatan Sleman turut hadir dalam memberikan arahan dan harapan pada gelar seni Pesparani tersebut. Danang Maharsa, selaku Wakil Bupati Sleman 2021 – 2026 mengatakan bahwa Pesparani merupakan bagian rujukan yang membuktikan bahwa Sleman sebagai rumah bersama bisa terwujud.
“Nantinya kegiatan kontinuitas seperti ini (Pesparani) semakin hari semakin menjadi perwujudan dari tagline ‘Sleman sebagai Rumah Bersama’, dengan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh umat beragama di Kabupaten Sleman,” terang Danang.
Selain itu, wakil dari Keuskupan Agung Semarang turut hadir dalam acara tersebut. Sekretaris Jendral (Sekjen) Keuskupan Agung Semarang Rm. Silvester Susianto, MSF bersama Vikaris Jendral (Vikjen) Keuskupan Agung Semarang Rm. FX. Sugiyana, Pr memberikan pengantar bahwa Pesparani adalah wadah strategis iman dikembangkan lewat berbagai cara.
“Tidak hanya didukung oleh seluruh umat Katolik, gelar seni adalah aspek kolaboratif antara pemerintah dan umat di Keuskupan Agung Semarang. Malam ini menjadi tampilan spiritual lewat gelar seni yang mengembangkan seni dan kebudayaan,” ungkap Rm. Sugiyana.
Slogan 100 % Katolik 100 % Indonesia digemakan oleh Ketua Definitif Kabupaten Sleman Periode 2025 – 2029, Gustan Ganda. Ia mengatakan dengan mengingat kisah Yesus ketika ditanya perihal membayar pajak kepada kaisar. Berikan kepada kaisar apa yang memang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah. Rasa bertanggung jawab akan negara dan Tuhan adalah sesuatu yang diperlukan oleh seluruh umat Katolik di Kabupaten Sleman.

“Jangan terkukung oleh stigma minoritas, sebagai seorang Katolik harus bisa berpartisipasi mewarnai kebijakan di Kabupaten Sleman, salah satunya lewat Pesparani ini,” tegas Gustan.
Baginya, Pesparani ini adalah sebuah wadah dalam mendulang potensi umat terkhusus anak-anak lewat pembinaan karakter, yang nantinya dapat membangun dan berpartisipasi di lingkungan masyarakat Kabupaten Sleman.
Selaras dengan Gustan, Danang memperjelas pada kalimat akhir sambutannya bahwa tidak hanya membangun “Sleman Sebagai Rumah Bersama”, tetapi menambahkannya menjadi “Sleman Ngerangkul Kabeh” (Sleman Merangkul Semua)sebuah visi politis dari Harda-Danang pasangan Bupati-Wakil Bupati Kabupaten Sleman periode berikutnya.
“Nanti semua umat, ras, suku, dan agama di seluruh Sleman menjalin hubungan komunikasi lewat rasa persatuan, kesatuan, serta persaudaraan,” pungkas Danang.
Pesparani ini adalah sebuah wujud dari salah satu visi rohani terkenal Nyecep Sabda, Neges Karsa, Ngemban Dhawuh. Sebuah perwujudan dari mengecap isi Kitab Suci, merasakannya secara batin, serta menjalankannya sebagai sebuah ajaran dan perintah.














