Guru, Memberi Bermula dari Hati

Papan Tulis359 Views

Menurut Driyarkara, tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiaan manusia muda. Tujuan ini tidaklah semata-mata mengarahkan pendidikan untuk mencetak wujud manusia yang hanya mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) atau memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi semata. Tetapi harus diimbangi oleh penguasaan dan kemampuan mengamalkan nilai-nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam memperkembangkan manusia muda harus sesuai dengan kodrat manusia. Karena bagi Driyarkara, pendidikan merupakan kegiatan sadar untuk memanusiakan manusia muda, yang dia sebut sebagai hominisasi dan humanisasi.

Berhadapan dengan situasi global yang membawa serta kapitalisme dan juga kecenderungan industrialisasi pendidikan, pemikiran Driyarkara mengenai pendidikan kiranya relevan. Driyarkara menegaskan suatu pendidikan humanis, yakni pendidikan mesti diarahkan pada kodrat rohani manusia. Jadi, pembentukkan manusia yang berkeahlian saja tidak cukup, melainkan pemanusiaan manusia secara utuh.

Sedangkan M.J. Langeveld mengatakan bahwa pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan. Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya agar bisa mandiri, akil baliq, dan bertanggung jawab secara susila. Pendidikan adalah usaha mencapai penentuan diri, susila, dan tanggung jawab.

Untuk mencapai apa yang disampaikan oleh Driyarkara maupun M.J. Langeveld, dibutuhkan guru yang memiliki “hati” seorang guru. Namun, sayang, masih ada guru yang belum memilikinya. Masih ada guru yang penting mengajar dan pada akhir bulan dapat gaji. Waktu, tenaga, dan pikiran yang diberikan serba dihitung dengan materi.

Syarat utama bisa memberi adalah punya sesuatu yang akan diberikan. Namun, tidak semua orang yang punya sesuatu bisa memberi karena kunci utama memberi adalah hati. Memberi bermula dari hati. Hal inilah yang akan aku sharing-kan kepada teman-teman guru.

Aku memiliki sedikit kemampuan dalam hal menulis, baik menulis artikel, cerita, maupun puisi. Tulisan-tulisanku ini pernah dibuktikan dalam lomba tingkat lokal maupun nasional. Terbukti pernah menang tingkat lokal maupun nasional. Tulisan-tulisanku juga dimuat di media lokal maupun nasional. Kemampuanku dalam menulis inilah yang aku berikan kepada murid-muridku.

Aku mempunyai belasan murid yang berminat di bidang menulis. Mereka tergabung dalam Ekstrakurikuler Majalah Sekolah. Seminggu sekali kami berkumpul untuk belajar menulis dan menerbitkan majalah sekolah. Mereka juga aku dorong untuk mengikuti lomba menulis maupun mengirimkan tulisannya ke media massa.

Akhirnya, ada beberapa anak yang meraih juara lomba menulis tingkat nasional atau lokal. Ada juga yang menulis cerpen untuk Majalah UTUSAN. Bahkan, ada anak yang sekarang sudah bukan muridku lagi karena pindah kota, tetapi tetap minta bimbinganku. Setiap membuat tulisan, sebelum dikirim ke media massa atau diikutkan lomba, selalu dikirim kepadaku terlebih dahulu untuk aku periksa.

Aku berkata kepada murid-muridku, “Bapak akan selalu punya waktu untuk membimbingmu dalam menulis. Juga memeriksa tulisanmu.” Sampai hari ini aku masih konsekuen dengan kata-kataku. Sesibuk apa pun, setiap ada murid yang minta memeriksa tulisannya, aku akan meluangkan waktu untuk memeriksanya. Aku selalu punya hati untuk diberikan kepada mereka.

Aku berharap dengan pemberian hati yang tulus ini, mereka juga akan memiliki hati untuk memberi. Bukan hanya memberikan kemampuannya menulis, tetapi memberikan hal-hal lain untuk menolong siapa saja yang membutuhkan.

Akan muncul efek domino kebaikan Ripple Effect. Bayangkan melempar batu ke kolam tenang; satu titik jatuh menciptakan riak yang terus menjalar ke luar. Dalam psikologi sosial, satu tindakan baik dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa, menciptakan gelombang kebaikan yang luas.

Menurut Alkitab, memberi adalah tindakan ibadah yang menunjukkan kepercayaan kita kepada Tuhan. Alkitab juga mengatakan bahwa memberi adalah kemurahan hati yang penuh pengorbanan, ketika seseorang melepaskan sesuatu yang berharga demi orang lain.

Lebih jauh lagi, ketika kita memberi kepada orang lain, kita menjadi saksi karakter Tuhan. Kita menunjukkan sifat-sifat kasih Tuhan untuk semua orang di bumi. Kita menunjukkan kemurahan hati Tuhan dalam memberkati umat-Nya. Kita juga menunjukkan kesetiaan Tuhan dalam memelihara anak-anak-Nya.

Semakin banyak orang Kristen memberi, semakin mereka meniru teladan kemurahan hati yang tertinggi: Yesus memberikan nyawa-Nya untuk dosa-dosa kita. Ketika Ia mati, Ia memberi kita karunia pengampunan dan hidup kekal (Yohanes 3:16).

Y. Jaka Prastana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *