Hidup Tanpa Bacaan adalah Mati

Papan Tulis308 Views

Peringkat kualitas pendidikan Indonesia yang dikeluarkan PISA (Program for Internatioanl Student Assesment) tahun 2022 yang menempatkan Indonesia di sepuluh besar papan bawah membuat banyak praktisi pendidikan di tanah bertanya-tanya, “Apa yang salah dengan dunia pendidikan di Indonesia?”

Jawaban sederhana dari pertanyaan tersebut dikarenakan adanya ketidaklinearan antara proses pendidikian dengan assesment yang diberikan. PISA lebih mengukur bagaimana siswa mampu berolah literasi dan numerasi dalam dunia sains.

Untuk menggiatkan siswa berlatih literasi dan numerasi yang menjadi peresoalan esensial siswa, SMA Kolese Gonzaga menyelenggarakan kegiatan ilmiah yang berbasis pada proses pembelajaran yang mengedepankan kegemaran membaca dan menuangkan apa yang dibaca dalam bentuk penelitian, penulisan dan mempresentasikannya di hadapan khalayak.

Pepatah dalam bahasa Latin, vita sine litteris mors est, yang menjadi tema kegiatan ilmiah bermakna, hidup tanpa bacaan adalah mati, rupanya bisa mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak banyak siswa dalam menyelesaikan tugas sekolah dan membuat mereka semakin giat dalam pembelajaran yang lebih mendalam (deep learning).

Tugas sekolah ini telah diselesaikan dan dipresentasikan pada 7-10 April 2026 di kompleks sekolah Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan adalah presentasi hasil karya ilmiah di hadapan para guru penguji, akademisi seperti Prof. Dr. Ir. Eko Indrajit, Rektor Pradita University, Dr. Avanti Fontana dari FEB Universitas Indonesia, para praktisi Rm. Dr. Baskara Tulus Wardaya, SJ termasuk Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi RI, Todotua Pasaribu, S.T., mahasiswa, para siswa dan guru dari SMA lain, serta siswa dari SMA Kolese Gonzaga sendiri.

Semua hadirin diperbolehkan mengajukan pertanyaan dan tanggapan kritis setelah pemaparan makalah oleh kelompok.

Deep Learning yang dilakukan siswa adalah pembelajaran secara magis, yaitu pembelajaran yang membuat siswa bisa terpacu semakin berkualitas selama berproses pada pembelajaran yang berpusat pada Paradigma Pedagogi Ignasian yang menjadikan kegiatan refleksi sebagai inti dari semua proses pembelajaran.

Rangkaian kegiatan ilmiah, yang oleh sekolah disebut sebagai G-REFLEX, Gonzaga Reflective Learning Experiences Exhibitions, dijadikan sebagai puncak dari seluruh kegiatan pembelajaran selama siswa belajar di sekolah. Para siswa harus menyelesaikan tugas akhir itu dalam pembuatan  research paper dan mempresentasikan dalam siding akademis terbuka.

Penelitian dan penulisan karya ilmiah yang dibuat 273 siswa kelas XII dan dibagi ke dalam 89 kelompok  selama 6 bulan mengangkat topik beragam seperti  STEAM, IoT, science, social, dan art, yang pemilihan topiknya ditentukan oleh minat kelompok.

Salah satu kelompok yang menggunakan IoT (Internet of Things) membuat penelitian tentang efektivitas penyiraman tanaman yang berbasis IoT di Wonosari, Yogyakarta dalam  karyanya yang berjudul  Sistem Penyiraman Otomatis Berbasis Internet of Things: Upaya Optimalisasi Penggunaan Sumber Daya Air Melalui Sistem Drip Irrigation.

Dalam penelitiannya, kelompok itu mendapatkan kesimpulan bahwa Sistem IoT Sensor Soil Moisture dapat bekerja lebih efektif, mudah dipahami dan terjangkau untuk masyarakat perdesaan. Penyiraman otomatis berbasis IoT dengan menggunakan sistem drip irigation dapat menghemat penggunaan air hingga 30%.

Selain research paper yang dipresentasikan dalam sidang akademis terbuka, siswa juga  membuat eksposisi tentang  penelitian yang dilakukannya dalam bentuk poster infografis hasil penelitian, Roda Ilmu Pengetahuan, Business Model Canvas sebagai konsep kerangka penelitian dan prototype penelitian.

G-REFLEX (2025). Puncak dari seluruh kegiatan pembelajaran selama siswa belajar di sekolah.
Apa yang menarik dari kegiatan G-REFLEX di SMA Kolese Gonzaga?. 

Masyarakat yang datang dan mengikuti kegiatan G-REFLEX merasa puas dan bangga dengan apa yang disuguhkan siswa SMA Kolese Gonzaga kepada audiens. Pembahasan topik yang diangkat oleh siswa tidak lagi terpaku pada pembahasan dari satu bidang studi saja, kelompok harus mampu membahas satu topik dengan sudut pandang lintas bidang studi. Siswa harus bisa mencari konektivitas antar disiplin ilmu dalam pembahasan suatu topik sehingga siswa bisa mengupas secara holistik dan lebih bermakna.

Dengan menyelesaikan kegiatan G-REFLEX ini, siswa merasakan ada manfaat dalam kecakapannya, yaitu lebih mahir dengan pola algoritma, design thinking, berpikir kritis, menjawab suatu persoalan secara holistik dan lebih fasih dalam menyampaikan hasil pemikirannya kepada khalayak luas dengan performa  eloquentia perfecta. 

Kefasihan dan keterampilan berbicara yang ditampilkan saat presentasi, menunjukkan bahwa siswa memiliki kompetensi akademis yang relevan dengan kehidupan nyata. Kecakapan itu membuat  siswa semakin sadar bahwa bacaan yang memiliki ilmu pengetahuan (litteris) merupakan hal yang sangat esensial dalam kehidupan manusia ketika dirinya melakukan olah literasi dan bernumerasi secara terus-menerus sehingga dirinya mampu berpikir kritis, berkembang sebagai pribadi yang utuh dan cakap memahami dunia.

Kemampuan siswa  dalam menyelesaikan tugas G-REFLEX mengantar siswa bisa belajar secara holistik dan mampu menempatkan diri bahwa belajar bukan saja saat mereka sekolah dan sekolah bukan saja sekadar mendapatkan ijazah, tetapi dengan belajar, siswa bisa hidup menjadi lebih bermakna bagi masyarakat dan lingkungannya, seperti layaknya semboyan sebuah  Kolese Jesuit, to be man and woman for and with others. 

Refleksi yang selalu disampaikan di akhir presentasi, siswa, akhirnya, sampai pada kesadaran bahwa tanpa belajar, sesungguhnya orang tidak akan hidup secara utuh. Sebaliknya, dengan tekun mengikuti pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakan di sekolah, siswa bisa mengaktualkan diri dan menjadi relevan dengan kenyataan hidup yang dihadapi dalam keseharian bersama orang lain.

Meski para siswa berada di tengah godaan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam mengerjakan seluruh karya ilmiah mereka, tetapi sekolah terus mendorong, dan mengontrol agar siswa terhindar dari plagiarisme, siswa terus mengasah kemampuan diri dalam mengembangkan Human Intelligence, baik saat proses pembuatan maupun ketika mempresentasikannya di hadapan audiens, yang akhirnya, lewat kegiatan G-REFLEX  siswa  bisa  memahami berbagai bidang studi yang dipelajari secara integral, utuh, dan bermakna.

Kegiatan seperti G-REFLEX adalah kegiatan yang bisa menjadi percontohan, bagaimana siswa setingkat SMA sudah mulai dilatih menggunakan design thinking, berpikir kritis, bersikap jujur dan adil, kepedulian terhadap sesama maupun lingkungan  dan memiliki integritas, seperti layaknya semboyan dan semangat Kolese Gonzaga 4CHI (competence, conscience, compassion, commitment, Humble and Integrity).

Bukankah membentuk manusia pemikir dan bernurani jauh lebih penting daripada pembelajaran yang sekedar  menghafal fakta dan rumus-rumus yang ada? “Education is not the learning of facts, but the training of the mind,” demikian Albert Einstein berpesan.

Albertus Bambang Utomo
Guru SMA Kolese Gonzaga Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *