Setiap orang ketika bekerja tentu sering merasakan kejenuhan dan rasa penat. Apalagi pekerjaan yang dihadapi selalu sama, yang praktis akan menguras banyak tenaga ekstra.
Guna mengusir rasa jenuh tersebut, sering kali dilakukan dengan berbagai cara, entah dengan berhenti sejenak, istirahat, menikmati makanan ringan, atau sekadar berjalan-jalan di sekitar kantor, dan lain-lainnya.
Semua itu ditempuh agar dapat membunuh rasa jenuh dan penat segera pergi, serta tentunya mendapat tenaga baru lagi untuk menyelesaikan tugas kembali.
Namun, ada cara berbeda di lembaga Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta, yang dalam keseharian berkecimpung dalam urusan musik, mengekspresikan rasa jenuh dalam bekerja, terutama dalam mendukung kinerja karyawan, yakni dengan meluangkan waktu tak jauh dengan musik, yakni bermain gamelan bersama.
Ide tentang bermain gamelan ini mengalir begitu saja ketika Beni Septiano, salah satu karyawan, melihat ada peralatan gamelan Jawa yang “hanya” digunakan sebagai alat untuk memenuhi dan mendukung siswa usia SMP (kelas Conbrio) dalam kursus di PML.
“Kenapa tidak kita gunakan juga untuk berekspresi dan berkesenian bagi seluruh karyawan, sekaligus untuk hiburan di kala penat menghampiri? Bukankah gamelan ini juga bisa kita jadikan kegiatan rutin, agar dapat membuat karyawan semakin guyub dalam kesehariannya? Saya kira ide ini bisa dilakukan dan perlu dicoba,” gagas Beni, salah satu karyawan bagian gudang ini.
Berikutnya, dalam forum atau rapat mingguan antarkaryawan dan pimpinan, disampaikanlah niat tersebut dan ternyata direstui. Di samping untuk memberikan asupan nilai positif nguri-uri (melestarikan) kebudayaan Jawa, khususnya Gamelan, juga memberikan variasi kerja agar tidak monoton pada tahun 2026.

Oleh Elisabet Twitien Sezi Colasina, pimpinan PML, bahkan diusulkan agar di-planning tidak hanya sekadar bentuk latihan, tetapi ke depan dapat digunakan untuk mengiringi Misa bila dibutuhkan. Itulah tantangannya.
Semenjak pertemuan tersebut, setiap Sabtu siang selama satu jam, pukul 12.00-13.00, diadakanlah latihan bermain gamelan atau karawitan oleh karyawan PML. Latihan karawitan diikuti semua karyawan dari seluruh divisi, yakni bagian gudang, pramu kantor (office boy/OB), toko, sekretariat, rekaman, hingga bagian naskah.
Tidak terasa, rupanya latihan sudah berjalan dua bulan sejak dimulai sejak Januari 2026. Latihan gamelan berlangsung intensif hingga kini bertempat di Aula Puskat, bahkan menjadi agenda yang selalu ditunggu oleh karyawan.
Ada keseruan dalam permainan gamelan ini, ada keakraban dirasakan. Karena banyak yang masih sering salah, maka saling koreksi, hingga sering membuat tertawa lepas bersama. Itulah wujud kebersamaan yang membuat rasa menyatu di antara karyawan dengan mengekspresikan diri melalui permainan gamelan, ketika penat melanda.
Secara khusus, dalam permainan gamelan harus bisa bermain dengan ngulatke rasa (memperhatikan rasa) dari permain gamelan lainnya, tidak egoistis, sehingga permainan dapat serempak, begitu pun suara yang terdengar, bahkan serasa mad sinamadan (mendengar suara instrumen lain) agar kompak dalam permainannya.
Kiranya benar apa yang dikatakan para ahli bahwa bermain musik, salah satunya bermain gamelan, rupanya dapat sebagai terapi bahkan sebagai ice breaking dalam bekerja (Djohan, 2006), karena dapat mengusir rasa penat dan jenuh dalam karya, seperti juga dirasakan oleh karyawan PML.
Danan Murdyantoro














