Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran yang tidak singkat, aku diberi kesempatan untuk bertugas di salah satu daerah cukup terpencil di wilayah Timur Indonesia selama setahun. Aku begitu bersemangat ketika diberi kabar akan berangkat ke sana. Aku menyiapkan semua kebutuhan dan perlengkapanku sebaik mungkin sehingga dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat di sana. Banyak sahabat dan keluargaku yang menanyakan, “Ini kamu mau pindahan atau mau pergi kerja, kok banyak sekali yang dibawa?” Namun, aku tidak memedulikan perkataan mereka. Bagiku, yang penting aku dan masyarakat di sana merasa aman dan nyaman.
Beberapa minggu berlalu, tiba saat hari pemberangkatan. Aku berpamitan pada keluargaku, kemudian menuju bandara. Perjalanan yang kutempuh tidak cukup dengan menggunakan transportasi udara, masih harus dilanjutkan menggunakan kapal laut karena tempat yang dituju hanya dapat diakses via laut. Beruntung aku tidak sendiri, ada beberapa teman dokter yang juga ditugaskan di tempat yang sama.
Sesampainya di lokasi, kami dikenalkan dengan para tenaga kesehatan di sana. Kebetulan, penduduk di daerah tempatku bertugas mayoritas muslim dan saat itu sudah dekat bulan puasa. Bagi diriku yang menempuh seluruh jenjang pendidikan di lembaga pendidikan Katolik, tentu ini merupakan hal baru. Ditambah lagi, di antara teman-teman, aku satu-satunya yang beragama Katolik.
Di tempat itu hanya ada sebuah gereja Katolik. Gerejanya kecil dan masih belum ada pastor tetap sehingga perlu mendatangkan pastor pembantu dari paroki di kota. Beberapa kali kami terpaksa beribadah tanpa dipimpin pastor. Terlepas dari kondisi yang ada, semua orang di tempat itu sangat ramah dan penuh tolerasi antaragama. Selama bulan puasa, yang kebetulan berjalan bersamaan dengan masa Prapaskah, aku sempat beberapa kali diundang untuk mengikuti acara buka bersama. Ketika umat Katolik menjalankan prosesi Jalan Salib saat Jumat Agung di sepanjang jalan raya menuju gereja, umat Islam pun sangat menghargainya. Aku merasa nyaman dengan kondisi masyarakat di sana meskipun daerah itu punya banyak keterbatasan dan jauh dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan kehidupan di kota besar.
Suatu ketika, saat aku sedang bekerja di poliklinik salah satu puskesmas, seorang bapak separuh baya membawa seorang gadis untuk diperiksa. Aku menyambut mereka dengan senyuman, mempersilakan duduk, kemudian memperkenalkan diri. Kata bapak itu, si gadis adalah anaknya. Sang bapak mulai bercerita tentang kondisi anaknya. Pada akhir cerita, aku memohon izin untuk memeriksa kondisi anaknya. Menurutku, kondisi anak itu baik-baik saja. Namun, sang bapak ngotot, ingin anaknya dirujuk ke rumah sakit.
Aku mencoba menjelaskan dengan perlahan-lahan kalau anaknya dapat dirawat di rumah dengan bantuan obat minum. Namun, apabila beberapa hari ke depan kondisi anaknya tidak membaik, aku akan mempertimbangakan untuk dilakukan perujukan. Sang bapak mulai memohon-mohon agar anaknya tetap mendapat surat rujukan. Saat itu, aku berada di posisi merasa kasihan pada bapak dan anak itu. Namun, secara aturan aku tidak bisa mengambil tindakan sesuai keinginan sang bapak.
Setelah mencoba bicara lagi dengan bapak itu, akhirnya dia dan anaknya memilih diam serta mengalah. Mereka menyetujui solusi yang kutawarkan, kemudian mereka meninggalkan ruangan dengan perasaan sedikit kecewa. Tentu aku pun ikut merasa sedih apabila ada pasien yang merasa kecewa dengan pelayanan yang diberikan.
Suatu sore, secara kebetulan, aku diminta menjadi tim medis dalam salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah di sana. Tampak seorang bapak, mengenakan setelan jas rapi dengan sepatu hitam bersih yang tampaknya baru saja disemir, mendatangi meja medis tempat saya bertugas. “Anggota dewan,” bisik perawat yang bertugas bersamaku.
Bapak itu ingin memeriksakan kondisi kesehatannya. Aku mempersilakannya duduk dan mulai menanyakan keluhannya. Bapak itu mengaku tidak ada keluhan apa pun. Usai memeriksa, aku memberi bapak itu beberapa vitamin untuk dibawa pulang. Bapak itu berterima kasih dan kemudian pergi.
Tidak lama kemudian, beliau mulai mondar-mandir di depan stan kami. Beliau tampak gelisah. Aku yang sedang sibuk memeriksa pasien lain mencoba tidak menghiraukannya. Ketika stan kami sepi, beliau bergegas duduk di kursi pasien. Awalnya aku bingung, mengapa bapak yang sama kembali ke sini, apakah mungkin ada obat yang salah kuberikan?
Aku mencoba tetap tenang dan mulai bertanya, “Adakah yang bisa saya bantu untuk Bapak?”
Beliau mengangkat wajahnya, menatap ke arahku, dan mulai berbicara setengah berbisik, “Dokter, mohon maaf, dokter ini yang bekerja di puskesmas, ya?”
Aku kaget karena beliau mengenalku tetapi aku tidak terlalu mengingat wajah beliau. Aku pun menjawab, “Iya benar, Bapak. Apakah saya pernah bertemu dengan Bapak? Maaf, ya, Pak, saya mudah lupa wajah orang yang datang berobat karena menggunakan masker.”
Beliau tersenyum dan kemudian kembali menundukkan kepala. Beliau diam sejenak lalu melanjutkan, “Dokter, saya yang waktu itu datang ke poliklinik dengan seorang anak gadis untuk dibuatkan rujukan.”
Aku mencoba mengingat dan kemudian menyadari kisahnya itu. “Oh iya, Pak, saya ingat. Bagaimana, Bapak? Anaknya sudah baikan?” tanggapku antusias.
Bapak itu kembali mengangkat wajahnya dan berkata setelah menarik napas panjang, “Dokter, saya ke sini mau minta maaf.”
Aku terkejut mendengar perkataannya. Perawat yang bersamaku langsung mengarahkan pandangannya kepadaku dan sang bapak. Mungkin dalam benaknya tebersit heran, karena baru pertama kali melihat anggota dewan yang datang secara langsung untuk memohon maaf. Kira-kira kesalahan besar apa yang telah diperbuatnya?
Sebelum aku sempat bertanya mengapa bapak itu meminta maaf, beliau menjelaskan, “Saya minta maaf, Dokter. Saya sudah berbohong pada Dokter. Anak yang sebelumnya saya bawa kepada Dokter bukanlah anak saya dan anak itu memang dalam kondisi sehat. Saya berbohong untuk mendapatkan surat rujukan dari Dokter.”
Ternyata, beliau melakukan tindakan itu agar dapat melakukan pemeriksaan lengkap secara gratis di rumah sakit untuk kenalannya. Beliau mengulang beberapa kali kata maafnya dengan penuh rasa bersalah. Aku sangat kaget tetapi juga tersentuh oleh tindakannya. Aku mencoba menenangkannya sambil berkata, “Tidak masalah, Bapak. Saya memaafkan Bapak. Saya sangat menghargai kejujuran Bapak dan keberanian Bapak untuk menjelaskan semua ini.”
Kami pun saling berjabat tangan. Beliau tersenyum kepadaku sambil mengucapkan terima kasih dan kemudian beliau berpamitan.
Aku merasa sangat kagum terhadap tindakan bapak itu yang berani untuk berkata jujur dan meminta maaf meskipun beliau sebenarnya memiliki jabatan yang cukup dipandang oleh masyarakat. Tidak banyak orang seperti beliau, bahkan sering kali dalam perkara kecil sekalipun, tidak semua dari kita berani untuk meminta maaf atas kesalahan yang kita buat, baik secara sengaja dan tidak sengaja. Tak jarang pula, banyak hal yang kita pertimbangkan sebelum akhirnya mengakui kesalahan kita kepada seseorang, entah karena malu, merasa memiliki status sosial yang lebih tinggi, takut akan konsekuensi yang akan diterima, dan lain sebagainya.
Tidak banyak dari kita yang mampu memberanikan diri untuk mengucap kata maaf kepada orang lain.
Trisha Fabiola Novena














