Bulan Oktober, yang baru saja kita lewati, bagi umat Katolik dikenal sebagai Bulan Rosario yang didedikasikan khusus untuk penghormatan kepada Bunda Maria melalui doa Rosario. Memanfaatkan kesempatan ini, Lingkungan Santo Valentinus Daratan Kidul, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu berkesempatan kembali mengadakan perjalanan ziarah bersama ke Gua Maria Melung di Purwokerto. Kegiatan ini berlangsung setiap satu sampai dua tahun sekali.
Sabtu, 19 Oktober 2024, pukul 05.30, dengan penuh semangat kami, sekitar 43 umat, berangkat menuju Purwokerto dengan mengendarai bus. Ziarah ini diikuti oleh berbagai usia, dari anak-anak hingga lanjut usia. Suasana di dalam bus pun sangat hangat. Perjalanan selama kurang lebih 4,5 jam diisi dengan berbagai keseruan seperti berdoa dan menyanyi bersama, serta pembagian doorprize dan menjawab pertanyaan random.

Hawa di dalam bus sangat dingin karena semburan AC. Tiba-tiba, ada satu orang yang ingin ke toilet, tetapi sepanjang jalan tidak ada SPBU. Maka, pemberhentiannya di musala. Lalu, kami semua berbondong-bondong ke toilet secara bergantian.
Ketika sudah mendekati lokasi, kami diminta Mas Aan selaku pemandu untuk mempersiapkan keperluan yang hendak dibawa. Begitu sampai, sudah tersedia empat angkot yang akan kami gunakan untuk sampai tujuan karena jalannya kecil, berliku, dan menanjak. Di area perbukitan Desa Melung, udaranya sejuk dan pemandangan di kelilingnya hijau, menambah antusias umat untuk segera tiba di Gua Maria Melung.
Sesampainya di atas, rombongan berswafoto dan disuguhkan pemandangan alam yang asri dan suasana khusyuk. Kemudian, kami diarahkan ke Rumah Singgah Maria untuk sarapan. Setelah semua dirasa cukup, kami memulai proses ziarah dengan berjalan kaki naik ke atas yang landai. Di tengah perjalanan, ada gua yang digunakan untuk berdoa, lalu kami masuk ke dalam secara bergantian.

Beberapa menit kemudian, sampailah kami di atas dan berswafoto di pintu masuk yang bertuliskan “Ziarah Belas-Kasih Jalan Salib”. Setelah itu, kami melanjutkan dengan doa jalan salib bersama. Di setiap perhentian jalan salib yang berada di sepanjang jalur menuju gua Maria diikuti dengan khidmat, diiringi renungan mengenai penderitaan Yesus dan bagaimana setiap umat dipanggil untuk meneladani kesabaran serta ketabahan-Nya.
Prosesi dilanjutkan dengan berdoa pribadi di taman doa. Suasana hening dan damai menyelimuti umat yang hadir saat berdoa. Umat berdoa dengan penuh penghayatan, memohon perlindungan dan rahmat dari Bunda Maria melalui permohonan-permohonan yang kami lantunkan.
Kemudian, kami berjalan naik menuju patung Bunda Maria yang besar untuk berswafoto. Berulang kali pemandangan alam nan asri mampu menarik perhatian kami ketika berada di atas.
Setelah prosesi doa selesai, rombongan menuju bus menggunakan angkot. Ada satu titik di dekat parkiran bus yang membuat penasaran karena dikerubungi banyak orang. Ternyata, banyak foto hasil jepretan tukang foto di sana yang diambil tanpa sepengetahuan alias candid. Kami disuruh membeli untuk kenang-kenangan seharga 10 ribu per foto.
Sorenya, kami berhenti di pusat oleh-oleh yang masih di daerah Banyumas. Kami membeli sesuai kebutuhan masing-masing. Di tempat ini ramai sekali, banyak rombongan dari mana-mana dan disajikan berbagai macam oleh-oleh. Usai belanja, saya membeli bakso kuah, apalagi suasanya cocok untuk menghangatkan tubuh karena terkena AC sepanjang jalan.
Kami melanjutkan pemberhentian terakhir di sebuah rumah makan untuk menyantap makan malam bersama. Tidak lupa kami juga berdoa sebelum menyantap hidangan yang sudah tersaji.

Perjalanan tahun ini, kebersamaannya semakin terasa saat umat saling berbagi makanan dan bercerita mengenai pengalaman pribadi mereka selama berziarah. Tidak hanya memperdalam iman, tetapi juga memperkuat persaudaraan antaranggota Lingkungan Santo Valentinus Daratan Kidul. Ini mengingatkan bahwa ziarah bukan hanya tentang mencapai suatu tempat, tetapi mengenai perjalanan hati menuju kedekatan dengan Tuhan.
Di samping itu, kami seru-seruan bareng di dalam bus dengan menjawab soal random dan pembagian doorprize. Fasilitas yang kami dapatkan sangat mendukung selama perjalanan berlangsung dengan nyaman dan aman.
Meskipun kaki terasa capai karena naik turun tangga yang landai, tetapi menjadi berkurang setelah melihat semangat umat. Kami juga mengucapkan syukur atas kelancaran perjalanannya karena dari awal sampai akhir tidak hujan, padahal ada kabar kalau di rumah kami sedang hujan lebat.














