Kala itu, mentari pagi mulai memancarkan sinarnya. Tetesan-tetesan embun pagi mulai menyapa bumi Kaliurang. Siulan-siulan burung dari pepohonan rindang mulai memuja dan memuji sang Khalik kehidupan. Gemuruh dan riuh bunyi kendaraan di jalan raya mulai membuncah ke atas langit-langit harapan. Terpaan angin sepoi-sepoi pagi datang membawa asa yang tak kunjung padam.
Saat itu pula, aku berjalan dengan langkah yang pasti, mengayunkan kakiku yang seolah kaku tak bergerak, menuju suatu persinggahan yang sarat akan misteri. Akhirnya, aku tiba di suatu tempat yang tak lagi tersapa oleh manusia, seluruh badannya kotor, baunya sangat menyeruak ke dalam hidung, dan tanda-tanda kehidupan tak lagi berkeriapan di dalamnya. Ya, sungai. Sungai yang tak lagi seperti dulu. Sakitkah engkau?
Sejenak aku terdiam tanpa kata. Mulutku tak mengucap secercah apa pun. Namun, hati kecilku terus meronta-ronta. Dia mengajakku untuk terus bertanya pada sungai tanpa harus mendapat jawaban. Sepertinya, sungai itu punya masalah yang harus dia bungkam. Andai dia bernyawa, mungkin saja dia sudah menjerit dan meraung-raung atas luka yang menderanya.
Akhirnya, aku hanya duduk dan diam tak berkutik, mataku sangat terbelalak melihat realitas yang sedang menyentakku. Sungai yang awalnya bersih tanpa sampah, kini badannya seolah-olah terserang penyakit panu. Sungai yang awalnya menjadi rumah dan tempat tinggal ikan-ikan, kini tak lagi berpenghuni. Aku pun bingung harus menggambarkan sungai itu dengan apa, yang jelas saat ini dia sedang sakit. Sakit keras. Dan, entah kapan dia akan pulih kembali.
Setelah aku diam dan membisu, aku langsung teringat dengan salah satu sungai yang dianggap paling suci di India. Nama sungai itu adalah Sungai Gangga. Sungai Gangga atau juga disebut “Dewi Gangga” adalah sungai yang dianggap keramat dan paling suci.
Setiap hari, orang berduyun-duyun datang ke tempat itu untuk berdoa. Selain berdoa, mereka juga membasuh diri di bawah sungai tersebut. Dalam mitologi mereka, Sungai Gangga dipercaya dapat membersihkan dan mengahapus dosa-dosa setiap orang yang datang membasuh diri di dalamnya.
Namun, karena banyaknya pengunjung yang datang setiap hari, Sungai Gangga kemudian tercemar akibat ulah pengunjung yang membuang sampah sembarangan ke dalam sungai tersebut. Selain itu, limbah domestik dan industri yang berada di bantaran sungai juga menjadi penyebab utama tercemarnya Sungai Gangga.
Pemerintah India sendiri menobatkan sungai tersebut sebagai sungai terkotor di India. Namun, satu hal yang paling menarik dan cukup unik dari Sungai Gangga adalah “Kesuciannya”. Meskipun sudah tercemar dengan limbah pabrik dan industri, sungai tersebut masih terus dianggap suci dan masih dipercaya sebagai tempat pembersihan dosa dan pemurnian hati. Karena pada hakikatnya, Sungai Gangga adalah suci.

Akhirnya, aku perlahan masuk ke dalam refleksi dan permenungan yang cukup dalam. Sungai yang tak lagi tersapa oleh manusia di depan mataku ini ternyata menyimpan segudang misteri. Ada banyak pelajaran bermakna yang dapat menginspirasiku dari sungai ini. Sungai yang kotor dan sakit ini ternyata memberiku banyak inside baru.
Aku pun mulai menulis sepatah kata, menulis tentang dia yang tak berwujud sungai lagi, tetapi berwujud tempat pembuangan sampah. Penaku tak henti-hentinya menari di atas kertas putih yang aku genggam. Ternyata, dari sungai yang kotor ini, aku disadarkan bahwa betapa sadis, egoistis, dan serahkahnya manusia. Betapa antroposentrisnya manusia dan betapa mereka mementingkan diri sendiri, tanpa memikirkan keberlangsungan makhluk hidup lainnya.
Dalam refleksiku, aku tersadar bahwa keadaan sungai saat ini sangat mencemaskan dan memprihatinkan. Tercemarnya sungai merupakan bentuk dan ulah manusia sendiri. Bagaimana tidak! Sungai yang dulunya bersih tak tercemar, kini telah dipenuhi sampah plastik. Di tengah lamunanku, aku menyadari bahwa masih banyak orang yang belum menyadari seluruh eksistensi hidupnya yang sepenuhnya juga tergantung pada alam.
Manusia sendiri yang seolah-olah menggerogoti kehidupan di alam saat ini. Manusia menjadikan dirinya sebagai subjek dan alam menjadi objek yang dapat dieksploitasi dengan semena-mena. Maka, yang paling dibutuhkan adalah “Kesadaran Diri” dari setiap individu. Manusia harus sadar akan relasi hidupnya dengan lingkungan sekitar, agar dapat tercipta relasi yang harmonis antara manusia dengan alam.
Sebagai sang petualang makna, jiwaku menemukan sebongkah refleksi iman dari sungai yang terus mengairi kehidupan makhluk hidup lainnya ini. Walaupun kotor dan tercemar, tetapi dia terus mengairi sendi-sendi kehidupan yang ada di sekitarnya.
Salah satu refleksi yang aku temukan dari sungai ini adalah “kemurnian hati dan pikiran”. Sungai mengajarkan kepada manusia betapa pentingnya menjaga kemurnian hati dan pikiran. Sejauh pemandangan meditasi alamku pagi ini, sungai yang terbentang dan meliuk-liuk di hadapanku adalah gambaran kemurnian hati dan pikiran seseorang.
Sampah-sampah yang berserakan di badan sungai menimbulkan bau yang tidak sedap adalah gambaran tubuh dan jiwa manusia yang rapuh dan dipenuhi dosa. Apabila tidak segera dibersihkan, maka akan menumpuk dan membuat diri terus dirongrong oleh dosa.
Dosa itu akan timbul karena hati dan pikiran kita sendiri yang bertindak. Maka, dosa itu harus terus-menerus dibersihkan di hadapan Tuhan agar tidak menumpuk dan akhirnya dapat menghalagi jalan kita untuk menjadi berkat bagi sesama, terutama menghalagi jalan kita menuju kehidupan kekal.
Gambaran Sungai Gangga adalah gambaran diri kita manusia. Meskipun kotor, tetapi terselubung kesucian diri. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus memberikan gambaran akan hal ini. “Tahukan kamu, bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri” (1 Korintus 6:19).
Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa dalam diri kita bersemayam Roh Kudus Allah, maka hendaknya tubuh kita selalu melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah. Memang dalam realitasnya, kita sering kali melakukan tindakan-tindakan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, baik disadari maupun tidak disadari.
Namun, kita bukanlah manusia sempurna yang tidak pernah luput dari dosa. Bukankah kita sendiri dituntut untuk menjadi sempurna di hadapan Tuhan, “Karena itu, hendaklah kamu sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Mat. 5:48). Dengan demikian, hendaknya setiap hari kita hadir di hadapan Tuhan, kita mengakui dosa-dosa dan kelemahan kita sehingga kita makin layak dan pantas menjadi murid Kristus yang sejati.
Karena kodratnya, kita adalah manusia yang suci karena tubuh kita adalah kediaman Roh Kudus Allah. Kelalaian dan kesalahan sendirilah yang membuat diri kita bernoda dan enggan meminta pengampunan kepada Tuhan.
Selain itu, poin refleksi yang juga aku dapatkan dari sungai kali ini yakni “Kerendahan Hati”. Sungai yang kotor selalu bersifat dinamis. Dia akan terus mengalir tanpa keluh dan peluh. Dia selalu berusaha membagikan dan mengalirkan air tanpa harus mengeluh, walau manusia sering kali tidak peduli padanya. Tidak peduli karena seenaknya membuang sampah ke badan sungai. Meskipun demikian, sungai akan terus-menerus mengairi tumbuhan-tumbuhan yang ada di sekitarnya.
Salah satu hal yang cukup menarik dari sungai adalah alirannya. Dia tidak akan menetap di suatu tempat saja, tetapi dia akan selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Dia akan menyesuaikan diri secara dinamis. Hal ini yang dapat mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Kerendahan hati ini adalah suatu Kebajikan Tertinggi yang harus dimiliki manusia. Bukan malah menjadi manusia yang senantiasa memupuk kesombongan dalam diri. Bunda Teresa pernah berkata: “Kerendahan hati adalah ibu dari semua sifat yang baik, dan dalam kerendahan hati kasih kita menjadi nyata.”
Maka, setinggi apa pun jabatan, setinggi apa pun pangkat, dan sekaya apa pun kita, kalau kita hidup dalam keangkuhan dan kesombongan, maka tak ada artinya. Hiduplah senantiasa seperti sungai, dia selalu berifat dinamis, dia mengalir ke tempat yang lebih rendah. Dia akan terus bergerak dan menyesuaikan diri di mana dia mengalir.
Sebagai manusia, kita pun harus bisa merangkul setiap orang tanpa memandang status, jabatan, dan golongannya. Kita hendaknya bersifat dinamis, di mana kita harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kita. Benarlah sebuah ungkapan yang berbunyi, “Di mana bumi dipijak, di situ langit harus dijunjung tinggi.”
Pada kodratnya, kerendahan hati telah tumbuh dalam diri setiap orang. Namun, sering kali realitas menyentak seseorang untuk bersikap sombong. Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa sesungguhnya kesombongan itu adalah malapetaka besar yang tumbuh dalam diri. Faktanya, orang yang sombong sering kali ingin mencari pujian.
Namun, perlu diingat bahwa Kitab Amsal pun menyinggung akan hal ini, “Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian” (29:23). Maka, hendaklah kita senantiasa hidup seperti air sungai, dia tidak perlu meninggi untuk terlihat merendah, tetapi dia selalu mencari tempat rendah untuk menyejukkan setiap kehidupan yang ada di sekitarnya.
Bonifasius Yohan (Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)








