Banyak Dosaku, Tuhan Tetap Mencintaiku

Keranjang320 Views

Aku lupa bagaimana pertama kali mengetahui Latihan Rohani Pemula (LRP). Sepertinya dari sebuah sharing di grup WhatsApp atau unggahan di Instagram. Entah mengapa pula aku tiba-tiba tertarik mengikuti LRP ini.

Seingatku, saat itu LRP Season 5 sedang berlangsung. Untuk sementara, rasa ingin tahuku berhenti sampai di situ saja. Aku jadi ingat, dalam suatu unggahan di Instagram LRP berupa foto pertemuan lewat Zoom, aku melihat beberapa wajah teman dalam komunitasku.

Awal Oktober 2021, pengumuman LRP Season 6 dibuka dan aku ingin mengikutinya. Aku perlu menyediakan waktu sekitar 20 – 40 menit untuk mengisi form pendaftaran. Wah, baru kali ini aku harus bersedia menyediakan waktu selama itu untuk mengisi formulir.

Proses mengisi pendaftarannya pun unik, karena harus dilakukan sambil berdoa. Baru kali ini juga aku mendaftar sambil sedikit bermeditasi, berdoa, serta diiringi lagu untuk membantu proses pengisiannya.

Aku mencari-cari waktu yang pas untuk mengisinya. Kupilih Sabtu pagi, sekitar pukul 05.30, saat anak-anak dan suami tidak bersekolah dan bekerja. Mereka juga bangun lebih siang dari biasanya.

Dengan memakai earphone, aku mulai mengisi formulir pendaftaran sambil mendengarkan lagu yang diputar untuk membantuku menjawab pertanyaan seputar pengalaman doa, perasaan, dan alasanku mengapa ingin mengikuti LRP.

Aku paling ingat alasanku mengikuti LRP adalah kerinduanku untuk merasakan kehadiran Yesus dalam doaku. Aku pernah mengalami doa saat aku merasa sangat dekat dengan Yesus. Namun, ini sangat jarang terjadi.

Nah, dengan mengikuti LRP, aku mempunyai harapan agar bisa lebih sering merasakan kedekatan dengan Yesus dalam doaku. Suasana akrab, hangat bercakap-cakap dengan Yesus, bahkan dipeluk oleh Yesus, itulah yang aku rindukan. Aku ingin sekali setiap kuberdoa, bisa merasakan Yesus hadir dekat sekali denganku.

Baru menjawab pertanyaan-pertanyaannya saja, membuatku meneteskan air mata. Mungkin, inilah air mata kerinduanku sekaligus rasa betapa tak berdayanya aku tanpa Tuhan.

Hari-hari latihan doaku

Latihan doaku ini bertujuan untuk menghadirkan Tuhan dalam keseharianku, baik dalam diriku, sesamaku, maupun lingkungan sekitarku. Singkatnya, aku diajak menyadari kehadiran dan cinta Tuhan dalam segala hal di hidupku sehari-hari. Dalam suka dan duka, kesusahan dan kemudahan, keburukan dan keindahan, serta kejatuhan dan kebangkitan, aku diajarkan melatih batinku untuk melihat bahwa Tuhan hadir dan begitu mencintaiku.

Dengan dibekali pengetahuan bagaimana melakukan latihan doa pada saat pleno awal, aku memulai latihan doaku.

Pada minggu pertama, aku belajar melihat bagaimana Tuhan mencintaiku lewat sesama. Bisa lewat suamiku, anak-anak, orang tua, bahkan teman-temanku. Ya, Tuhan, ternyata aku sungguh Kau cintai. Betapa butanya aku selama ini. Betapa aku kurang mensyukuri, menghargai, dan menanggapi cinta-Mu. Menulis ini pun, bisa membuat genangan di pelupuk mataku, mengingat kembali minggu pertama latihan doaku.

Minggu kedua, aku merasa lebih istimewa lagi. Aku diajak dan diundang dalam Perjamuan Terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya. Kok bisa? Setelah mengalami kesulitan dan sempat gagal dalam latihan doa hari sebelumnya, akhirnya aku bisa menghadirkan diriku di Perjamuan Terakhir. Kalimat yang kuingat dalam doaku waktu itu, “Aku ingin agar engkau tinggal di dalam Aku, karena dengan tinggal di dalam Aku, engkau akan lebih bisa memahami kehendak Bapa.”

Sekilas aku melihat keprihatinan pada wajah Yesus saat duduk di samping-Nya di meja perjamuan. Tak lama setelah itu, wajah Yesus berubah dan sambil tersenyum berkata, “Kalian akan bisa melaluinya.” Pandangan Yesus menyapu murid-murid-Nya, juga kepadaku. Yesus menjamin bahwa Ia telah memberiku “teman”, yaitu Roh Kudus untuk melalui setiap tahap dalam kehidupanku. Rasanya hatiku berkobar, merasa menjadi lebih berani, siap, dan mampu menghadapi dinamika naik turunnya hidupku.

National Geographic sepertinya menjadi tema imajinasiku pada minggu ketiga. Aku diajak menyadari cinta Tuhan lewat segala ciptaan-Nya, bisa manusia, hewan, tumbuhan, dan angkasa raya. Tiba-tiba aku teringat pernah menonton film pendek tentang tata surya dan angkasa. Aku melihat bagaimana bumi itu kecil sekali hingga akhirnya tak terlihat sama sekali ketika makin jauh keluar di luasnya angkasa raya. Wow, luar biasa! Aku merasa sangat kecil. “Hanya debulah aku, di alas kaki-Mu Tuhan ….” Lagu ini membuatku menitikkan air mata. Aku merasa tidak pantas, karena begitu banyak dosaku, tetapi luar biasanya, Tuhan tetap mencintaiku.

Minggu keempat, aku diajak melihat cinta Tuhan lewat diriku sendiri, anugerah-anugerah yang aku terima, bagaimana aku dibentuk-Nya dengan segala kelebihan dan kekuranganku. Dalam latihan doaku, aku merenungkan apa yang terjadi saat pandemi COVID-19 mulai berlangsung. Akhir tahun 2020, aku didiagnosis SLE (Lupus). Hal ini membuatku menyadari pada saat latihan doa, Tuhan mencintaku. Mengapa?

Justru di masa-masa prihatin seperti ini, aku seperti menerima berkat-berkat sederhana nan luar biasa dari Tuhan. Aku dipertemukan dengan dokter yang baik dan murah hati oleh Tuhan lewat suatu webinar yang membahas tentang penyakit Rematik Autoimun. Dokter inilah yang akhirnya merawatku melalui terapi menghadapi Lupusku.

Tuhan memberkatiku juga dengan mengirimkan saudara serta teman yang menjadi perpanjangan tangan-Nya, membantuku dengan sedikit mengurangi beban biaya pengobatanku. Lewat sakit Lupus ini juga, aku bertemu teman-teman baru sesama pejuang Lupus. Bertemu pula dengan teman-teman yang hobi menyanyi dalam virtual choir.

Saat pandemi berlangsung, aku mempunyai lebih banyak waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang sebelumnya terkendala pada waktu, biaya, dan jarak, karena semua serbadaring. Aku mengikuti seminar-seminar, virtual choir yang anggotanya beragam agama dan suku, mencari pengetahuan bermanfaat lewat YouTube dan media sosial lainnya.

Betapa banyak anugerah dan berkat Tuhan buatku pada tahun-tahun memprihatinkan ini. Aku menyadari betapa Tuhan mencintaiku dan mencintaimu lewat hal-hal sederhana tetapi luar biasa. Hal-hal yang awalnya terasa sulit dijangkau, atau tidak terbayangkan untuk dapat aku lakukan, ternyata malah bisa kulakukan ketika masa prihatin.

Buah-buah latihan doa

Melalui LRP aku mendapatkan cukup banyak hal. Selain diajarkan cara berdoa secara Ignasian dengan bervisualisasi, aku juga lebih mengenal pribadiku dengan segala kekuatan dan kelemahanku, serta diajarkan pula untuk belajar mengambil keputusan.

Sebelum masuk minggu pertama latihan doa, aku mengerjakan Personality Test. Dari hasilnya, aku jadi lebih memahami kelebihan dan kelemanku. Aku juga memahami bahwa roh jahat akan menyerangku dari kelemahan-kelemahanku. Dengan lebih memahami hal ini, aku menjadi lebih aware jika mulai merasa ada yang tidak beres dengan diriku. Dengan menyadari ini pula, aku memohon pertolongan Tuhan untuk membantuku menghalaunya atau aku berusaha memperingatkan diriku sendiri.

Selain menjadi lebih mengenal diri sendiri, aku pun merasa menjadi lebih mudah untuk menemukan Yesus dalam doaku. Aku tinggal mencoba memvisualisasikan kembali taman indah, tempatku berjumpa dengan Yesus. Ya, setiap kali aku berdoa, aku berharap bisa berada di sana, berjumpa Yesus dan bercakap dengan-Nya.

Memang, tidak setiap kali berdoa aku bisa berimajinasi bercakap-cakap dengan Yesus di taman itu, tetapi aku berusaha menghadirkan-Nya. Sebab, aku rindu dengan perasaan dan suasana nyaman di taman itu.

Tak hanya menjadi mengenal pribadiku dan belajar berdoa dengan bervisualisasi, aku pun belajar bagaimana mengambil keputusan dengan melibatkan Roh Kudus.

Seperti saat aku mempertimbangkan untuk turut serta dalam penulisan mengenai pengalamanku setelah mengikuti LRP ini. Pada awalnya, terbakar semangatku dengan mendaftarkan diri untuk ikut menulis dan membagikan pengalamanku. Sampai proses penulisan dimulai, keraguan datang, karena rasanya aku tidak mampu menulis dengan baik, lalu bingung ingin menceritakan apa, belum lagi rasa ingin menunda waktu menulis.

Dari beberapa cara pengambilan keputusan, rasanya aku paling cocok dengan cara mengelompokkan plus minusnya lebih dahulu, lalu membawanya pada Tuhan. Apakah ini akan menyenangkan hati Tuhan?

Lalu, aku berdoa dan menceritakan keraguanku pada Yesus hingga akhirnya aku diteguhkan untuk menyelesaikan tulisanku dan mengumpulkannya sebelum hari terakhir pengumpulan tulisan. Harapanku hanya agar pengalamanku dapat kubagikan dengan teman-teman yang lain. Aku yakin dan imani, Roh Kuduslah yang menggerakkan hatiku untuk mendaftar. Roh Kudus pula yang meneguhkan hatiku, keputusanku untuk menyelesaikan tulisan ini.

Apakah mudah melakukan prngambilan keputusan dengan cara seperti itu? Tentu tidak, tetapi pasti bisa jika terus dilatih. Aku merasa masih perlu banyak belajar, bahkan sepanjang hidupku.

Akhir kata, apa yang kubagikan ini merupakan berkat dari Tuhan untukku dan aku ingin agar bisa menjadi berkat juga untukmu. Tuhan memberkati.

 

Franciska Deciana Siskawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *