Makin Dekat Berkat Joyful Ride

Keranjang237 Views

“Wah, terima kasih, ya,” gumamku sambil menyeka speedometer Beat merahku yang basah diguyur air hujan ketika kukendarai saat pulang kerja. “Kita lebih sering berdua sekarang, tidak lagi berempat,” lanjutku sambil tersenyum menerobos hujan yang cukup deras sore itu.

Ya, Beat merah ini menjadi teman setiaku melakukan rutinitas antarjemput yang menjadi salah satu tugas yang telah kujalani selama anak-anakku bersekolah dari TK nol kecil sampai kelas 2 SMA, sebelum mereka punya SIM sendiri. Kalau aku berhalangan untuk mengantar atau menjemput, baru tugas itu digantikan oleh orang lain. Setidaknya, selagi aku bisa, mengantar dan menjemput anak-anakku bersekolah menjadi bagian yang kujalani dengan penuh sukacita di sela-sela tugasku mengajar.

Selama beberapa tahun menempuh perjalanan menuju dan dari sekolah, ada banyak peristiwa di jalan yang kami temui dan alami. Setiap momen itu kujadikan bahan untuk berdiskusi, sharing, belajar tentang nilai-nilai hidup, dan berefleksi.

Suatu kali, aku melajukan sepeda motor agak kencang karena traffic light masih hijau dan sebentar lagi akan kuning. Namun, beberapa meter kemudian, lampu menguning. Lalu, anakku yang sulung meminta, “Gas, Buk!” Namun, aku memilih melambatkan sepeda motor untuk bersiap berhenti. Kulihat dari kaca spion sepeda motorku, wajah anakku cemberut sambil bergumam, “Wah … Ibuk!”

Nah, itu menjadi momen bagiku untuk memberi tahu dia pentingnya berdisiplin berlalu lintas. Aku mengajari mereka pentingnya kesabaran, bahaya yang bisa terjadi karena tidak tertib, bahaya yang bisa jadi tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga orang lain; pentingnya untuk mengatur waktu untuk lebih awal berangkat agar di jalan tidak terburu-buru, pentingnya menghargai orang lain karena giliran kendaraan orang lainlah yang berhak untuk berjalan, dan sebagainya.

Di persimpangan jalan, kami juga sering melihat kakek tua menjual koran. Sementara itu, ada anak muda berjoget ala kadarnya lalu meminta uang receh kepada para pengendara yang sedang berhenti karena lampu merah. Itu pun menjadi bahan baik untuk mengajari anak-anakku melihat realitas kehidupan. Aku mengajak mereka berpikir dan menyadari perlunya kerja keras, daya juang, dan ketangguhan. Pada akhirnya, aku membuka pikiran mereka pentingnya pendidikan karena hanya dengan pendidikan, maka pola pikir, semangat hidup, dan karakter akan bisa dibangun. Dan, seperti biasa, petuah-petuah mulai mengalir dari mulutku … seperti yang biasa dilakukan oleh orang tua pada umumnya: agar mereka belajar giat dan rajin supaya pintar, membantu pekerjaan orang tua di rumah supaya terbiasa bekerja, membantu teman-teman di sekolah supaya terbiasa peduli pada orang lain, dan sebagainya.

Pengalaman lain yang sungguh berkesan adalah ketika kami bertiga, aku dan dua anakku (yang satu SMP dan yang satu SMA) pulang sekolah, sementara langit mendung tebal. Aku segera menghentikan sepeda motor di tepi jalan. Anak-anak melepas sepatu dan mengantonginya dalam plastik kresek yang selalu tersedia di sepeda motor. Lalu, masing-masing mengenakan jas hujan.

Pada saat yang sama, aku mengemas tas-tas mereka di plastik kresek yang lebih besar. Semua bawaan ada di bagian depan, termasuk tiga tas yang lumayan berat dan tiga pasang sepatu. Lalu, kami bertiga naik sepeda motor dengan diguyur hujan yang sangat lebat diiringi dengan kilat dan guntur. “Dha sembahyang, ya (Kalian berdoa, ya),” begitu kupinta pada anak-anakku.

Sementara itu, “Gusti, nyuwun slamet (Tuhan, beri kami keselamatan),” tidak henti bergumam dari mulutku ketika terlihat kilat diiringi bunyi guntur menggelegar di langit. Begitu sampai di rumah, sambil kuusap wajah mereka yang basah oleh air hujan, aku berucap, “Puji Tuhan, matur nuwun, Gusti.” Peristiwa itu menjadi bahan pengajaranku pada anak-anak mengenai pentingnya perjuangan hidup sehingga lelah dan letih setelah bersekolah serta hujan lebat tidak menjadi hambatan; juga tentang pentingnya kekompakan dalam keluarga sehingga dalam suasana takut dan cemas bisa saling menguatkan.

Tentu masih banyak pengalaman yang kami nikmati bersama. Ada banyak sukacita yang kami alami selama perjalanan, joyful ride. Rasa letih karena harus pontang-panting dari satu sekolah ke sekolah lain untuk menjemput, serta kadang-kadang kesal karena harus menunggu lama saat anak belum keluar kelas, terbayar sudah dengan banyak hal yang bisa kutanamkan dalam diri anak-anakku dengan memanfaatkan waktu di jalan. Amsal (22: 15) menyebutkan, “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya.” Jadi, tugas kitalah sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak kapan saja dan di mana saja, serta menghapus kebodohan yang berupa ketidaktahuan, kedangkalan berpikir, dan ketidaktepatan menangkap makna dari setiap peristiwa hidup yang dialami.

Menjadi lebih dekat

Berkendara bersama sekitar satu jam setiap hari, waktu mengantar dan menjemput anak-anak bersekolah ternyata sangat bermakna. Selama perjalanan mengantar sekolah menjadi momen bagiku untuk mengecek tugas-tugas apa yang mesti mereka selesaikan atau bawa, serta menanyai materi ulangan mereka hari itu.

Sementara itu, selama perjalanan menjemput menjadi momen bagi anak-anak untuk bercerita. Kadang-kadang aku sampai menyela, “Sik, sik, sapa dhisik iki sing kudu dirungokke? (Tunggu sebentar, siapa dulu yang harus didengarkan?)” Lalu, biasanya yang sulung mengalah, “Ya wis, Adik sik sing crita (Ya sudah, adik dulu yang cerita).” Lalu, yang bungsu menceritakan pengalaman hari itu selama di sekolah. Selain aku, kakaknya juga turut menanggapi cerita adiknya. Demikian juga sebaliknya, ketika yang sulung bercerita, adiknya ikut berkomentar, bahkan tidak jarang juga menyela cerita kakaknya. Sesekali kami tertawa kalau salah satu dari kami berkomentar lucu.

Ternyata, kebiasaan anak-anak menceritakan pengalaman hari itu serta pengajaran yang selalu aku lakukan di jalan dalam kegiatan antar-jemput itu, berdampak dan berlangsung hingga saat ini. Anak-anak menjadi biasa terbuka bercerita, baik tentang teman-teman maupun tentang peristiwa dan pengalaman yang dialami, baik di sekolah/kampus maupun di lingkungan Gereja dan masyarakat. Pengalaman-pengalaman itu membuat kami lebih dekat.

Harapan dan doa

Setiap tahap kehidupan ada masanya. Sebagai orang tua, mari kita dengan sukacita mengemban tugas yang memang tidak ringan dan tidak mudah ini. Mari kita juga bijak memanfaatkan setiap momen untuk hal-hal yang baik. Kita sendirilah yang mengenal anak-anak kita, mari kita jaga dan dampingi mereka bertumbuh, menemukan diri, dan menjadi pribadi dewasa dalam iman dan karakter yang baik.

Sekarang, momen berharga itu telah menjadi kenangan yang sangat berharga bagiku. Anak-anakku telah beranjak dewasa. Mereka sudah mandiri, bisa ke mana-mana sendiri. Momen semacam itu akan menjadi bagian yang membekas dalam diri mereka. Pengalaman perjalanan dengan Beat merah itu kini telah kami ganti dengan aneka momen singkat di rumah, ketika sedang duduk-duduk minum teh, ketika sedang nonton televisi bersama, ketika pergi ziarah bersama, dan banyak kesempatan lainnya.

Semoga nilai hidup itu tertanam dalam diri mereka yang pada gilirannya akan mereka wariskan juga kepada anak-anak mereka kelak karena jika anak-anak dididik dengan baik, mereka tidak akan menyimpang dari ajaran itu, seperti dikutip dari Amsal (22: 6) yang menyatakan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun, ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Mereka akan menjadi pribadi tangguh yang siap menjadi perantara berkat bagi sesama, demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.

Kristina Wasiyati
Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *