Foto di atas memperlihatkan salah satu kontestan/peserta yang berpartisipasi dalam salah satu ajang kompetisi kecantikan dunia, yaitu: Miss Universe 2025.
Dia adalah delegasi Miss Universe negara Brazil, Maria Gabriella Lacerda. Dalam salah satu sesi penampilan di kontestasi tersebut, Gabriela mengenakan sebuah gaun dan busana yang terinspirasi dari busana Bunda Maria dari Aparecida (Our Lady of Aparecida).
Dari artikel-artikel yang beredar, terungkap alasan Gabriella menggunakan inspirasi busana tersebut. Ia sangat mencintai Bunda Maria, sehingga ia menyebutnya sebagai “Ibundaku”. Untuk menunjukan semangat cinta dan pengabdiannya kepada Bunda Maria, ia akhirnya mengambil konsep busana Bunda Maria dari Aparecida sebagai salah satu kostumnya dalam ajang kecantikan dunia tersebut.
Gabriella tidak sekedar mengenakan busana, melainkan sebuah kesaksian iman. Inilah bentuk kesaksian iman dari salah satu generasi muda di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh dengan sekularisme, relativisme serta berkemabangnya kondisi dunia post-truth.
Tampil Beriman di Dunia Sekularisme
Salah satu hal yang tak terbendung lagi dalam dunia modern saat ini adalah bahaya sekularisme. Selain itu, subjektivitas terhadap kebenaran yang terlalu kaku serta kondisi yang terlalu eksklusif dari era post-truth menjadi hal yang perlu diwaspadai. Situasi seperti ini memberikan peluang banyak entah arah yang positif atau arah yang negatif. Relativisme terhadap data dan fakta-fakta objektif kebenaran menimbulkan kekhawatiran besar di era sekarang.
Dengan melihat realitas dunia saat ini, pewartaan iman menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Sulit bukan berarti tidak bisa, tetapi terdapat sebuah kesenjangan dan kekhawatiran akan hambatan dan halangan yang semakin besar. Akhir-akhir ini, Gereja melalui kuasa Magisterium menyampaikan kabar bahagia dengan mengkanonisasi beberapa anak muda, anak milenial yang dengan memperjuangkan imannya. Generasi mileal ternyata juga dipandang Gereja mampu untuk menunjukan kekudusan dan menjadi saksi Injil di tengah isu global yang semakin sulit.
Peristiwa ini tentunya disambut dengan hati yang gembira dan penuh syukur. Iman akan selalu menunjukan karyanya yang besar bagi dunia dan tidak mudah tenggelam oleh besarnya arus modernisasi zaman. Kesaksian Santo Carlo Acutis menjadi bukti bahwa terang iman zaman ini masih bersinar dan tetap menyala.
Kesaksian yang sama terjadi pada waktu-waktu belakangan ini. Gereja dan dunia dikejutkan dengan penampilan seorang gadis cantik pilihan negaranya untuk tampil di ajang kecantikan ternama dunia, Miss Universe. Dalam salah satu penampilannya, ia menggunakan busana rohani yang terinspirasi dari Bunda Maria dari Apacerida. Itulah kesaksian sederhana dari Gabriella, gadis cantik asal Brazil yang mewakili negaranya dalam ajang Miss Universe 2025 di Bangkok, Thailand.

Dalam sesi tanya jawab usai catwalk pada sesi National Costume Competition Miss Universe 2025, 19 November 2025, gadis berusia 24 tahun itu mengungkapkan refleksi dan alasannya menggunakan gaun yang terinspirasi dari Our Lady of Aparecida. Ia mengatakan bahwa “Imanlah yang menopang saya. Esensi sayalah yang terungkap”.
Kita mengetahui bersama bahwa Brazil adalah salah salah satu negara Katolik terbesar di dunia. Kualitas dan penghayatan iman kekatolikan di negara tersebut sangat besar.
Dengan bertolak pada keyakinan ini, kita dapat berefleksi bersama. Pertama, esensi dirinya sebagai seorang katolik yang taat dan sungguh-sungguh menghayati imannya. Kedua, di atas semua itu, iman menjadi hal yang pokok. Dengan tegas Gabriela mengatakan bahwa imanyalah yang menopangnya.
Tantangan Kesaksian Iman
Saksi Kristus tidak pernah lepas dari yang namanya tantangan, baik tantangan internal maupun eksternal. Faktor internal berasal dari dalam tubuh komunitas Gereja yaitu anggota-anggotanya. Namun, tantangan dengan faktor internal itu hampir tidak menjadi sebuah umbaran publik dan massa.
Gereja sadar bahwa dirinya dan anggotanya tidaklah sempurna. Sebab, sekalipun didirikan atas Kehendak dan kuasa Ilahi, Gereja tetap perlu memperbaharui diri
sebab dihimpun oleh anggota-anggota manusia yang lemah, rapuh dan tidaksempurna. Tantangan pembaharuan diri ini tidak mudah terjadi dalam Gereja.
Namun, beriringan dengan faktor internal tersebut terdapat faktor eksternal yang juga menjadi tantangan kesaksian iman Gereja, yakni tantangan zaman modern yang semakin kompleks. Kebutuhan-kebutuhan manusia tidak ditentukan atas dasar dogma dan atau referensi tertentu tertentu yang barangkali ditemukan
dalam keberimanan. Kebutuhan manusia berdasarkan kehendak-kehendak pribadi dan tergantung personal.
Realitas objektif tidak dinilai sebagai acuan untuk dapat membenarkan kenyataan. Referensi-referensi kebenaran terbentuk dan menurut konsepsi personal
manusia. Dengan kecenderungan demikian, orang menjadi ragu dan takut menunjukan imannya di tengah zaman ini.
Gabriella tampaknya memahami zaman ini dan semangat imannya terukur jelas. Ia tidak gentar dan takut menunjukan imannya di gegap gempitanya dunia saat ini.
Kita bisa mengerti bahwa Gabriella telah melewati dan mengalami fase dimana dirinya harus berjuang dan berusaha agar kesaksian itu menjadi nyata. Selain itu, kesaksiannya tidak membuat dirinya takut. Proses dan perjuangannya tidak sia-sia dan berbuah dalam tindakan nyata. Proses itu telah membentuk keyakinan utuh dalam dirinya sehingga ia memutuskan untuk tampil dan menunjukan itu di tengah dunia.
Gabriella tidak getar sekalipun. Catwalk dalam sesi tersebut ia lewati dan jalani dengan penuh percayadiri, mengguncah dan menggelegar. Dia tidak diliputi ketakutan dan kecemasan, tetapi ia dibalut dengan keberanian dan ketangguhan.
Gabriela: Pewarta Kabar Gembira
Bila ditinjau dari sudut pandang otomanologi, Gabriela memiliki akar nama yang sama dengan Malaikat Gabriel yang memberikan Kabar Gembira kepada
Maria. Studi otomanologi menjelaskan bahwa sebuah nama tidak hanya sekedaridentitas fisik yang menandai seseorang supaya dapat dikenal. Nama entah karena
arti dan makna dari katanya sendiri maupun terinspirasi dari sebuah nama selalu menunjukan sesuatu yang mendalam dari hal tersebut.
Gabriela adalah seorang pewarta kabar gembira zaman ini. Ditengah situasi dunia semakin digunang oleh krisis kebenaran dan krisis beriman, ia tampil layaknya
seorang pewarta yang dengan berani dan percaya diri mewartakan keselamatan kepada dunia. Ia menunjukkan kepada dunia kebenaran iman melalui fashion dan
modelling.
Ia menegaskan bahwa iman bukan sesuatu yang terlahir buta dan terungkap dalam keheningan dan kesenyapan. Iman juga dapat diungkapkan dalam realitas zaman. Memang perkembangan zaman seringkali mengkerdilkan penghayatan sempurna akan iman di tengah dunia. Namun, dalam hal ini Gabriela menerobos bilik dan tembok penghalang itu. Ia berani tampil dan menunjukannya di muka dunia. iman dapat dinyatakan dalam situasi, dimensi dan aspek kehidupan manapun.
Kontestasi kecantikan adalah salah satu media yang dapat dilakukan. Hal tersebut telah dilakukannya. Ia tidak mengungkapkannya dalam kata-kata yang
panjang dan ajak-ajakan seolah-olah sedang beraktekse. Namun, ia melakukannya dengan mengambil sisi busana yang ia gunakan. Dimensi ini barangkali tak begitu berdampak dan diremehkan. Namun karena keyakinannya, tindakannya itu menarik perhatian publik.
Ia tampil elegan dengan gaun berkonsep rohani tersebut. Secara visual ia tetap memperlihatkan dirinya yang layak tampil dalam ajang kecantikan tersebut, tetapi dari kedalaman hatinya ia membentuk kebijaksanaan hidupnya. Kecantikan yang ia tampilkan di atas panggung mencerminkan kecantikan hatinya yang selalu terarah pada Kehendak Penciptanya.
Bonny Guntur














