“Kamu lebih menganggap saya seorang imam daripada sesama pejalan.”
Itulah yang dikatakan seorang imam dalam perbincangan kami beberapa tahun yang lalu. Kata-kata tersebut menggema dalam diri saya hari ini. Saat itu, saya tidak langsung memahaminya. Baru belakangan saya menyadari bahwa kalimat tersebut menyingkap sesuatu yang lebih dalam mengenai cara saya memperlakukan figur rohani. Saya menganggap para imam bukan pertama-tama sebagai manusia yang sedang berjalan bersama, melainkan sebagai wadah proyeksi sosok ideal secara rohani.
Saya dibesarkan dalam tradisi Katolik yang kaya simbol, ritus, dan figur. Kekayaan ini menumbuhkan rasa hormat dan syukur. Namun, perlahan saya menyadari, bahwa di balik hormat itu bekerja mekanisme lain yang tidak selalu saya sadari, yaitu sakralisasi figur rohani. Tanpa disadari, saya memproyeksikan harapan akan kematangan, kebijaksanaan, dan integritas moral yang nyaris tanpa cela kepada mereka yang mengenakan jubah atau memegang otoritas rohani.
Saya dahulu meyakini (mungkin tanpa pernah mengatakannya secara eksplisit) bahwa seorang figur rohani harus suci, harus alim, harus pintar, harus sabar, bahkan dalam bentuk ekstremnya “tidak boleh berdosa”. Para rohaniwan berjubah saya anggap sosok perwakilan Allah yang membimbing para umat untuk dapat mengalami kehadiran Allah. Seolah-olah, rahmat Allah hanya bekerja melalui manusia yang sudah selesai dengan kerapuhannya.
Segala macam proyeksi itu runtuh ketika dalam kehidupan sehari-hari, ternyata yang saya dapatkan berbeda dengan ekspektasi. Saya pernah merasa marah dengan sosok imam yang menggunakan metode pewartaan membandingkan dan merendahkan iman lain. Saya pernah merasa jengkel ketika ungkapan kegelisahan saya dibungkam dengan mengatakan bahwa iman tidak boleh dipertanyakan. Saya pernah merasa sangat bersalah ketika seorang imam tiba-tiba memblokir jalur komunikasi.
Kegelisahan serupa muncul ketika saya mengikuti berita tentang carut-marut di Keuskupan Bogor, juga kabar mengenai beberapa imam yang melanggar kaul karena terlibat relasi dengan perempuan. Pengalaman di Manresa memperdalam kesadaran ini. Di sana saya berjumpa dengan mozaik indah karya Marko Rupnik (mantan Jesuit). Namun, ketika saya mengetahui keterlibatan sang seniman dalam pelanggaran serius, munculah keguncangan batin. Bagaimana mungkin seseorang yang memahami latihan rohani begitu dalam, bisa melakukan hal tersebut?
Saya tidak menulis ini untuk menghakimi siapa pun. Proses kanonik memiliki jalannya sendiri. Yang saya rasakan justru kegelisahan lain. Betapa rapuhnya iman saya bila terlalu bergantung pada kesempurnaan figur. Ketika figur jatuh, yang runtuh bukan hanya kepercayaan pada individu, tetapi juga ketenangan batin umat.
Beberapa hari yang lalu saya bercakap-cakap dengan seorang teman. Percakapan ini menyadarkan saya. Saya memiliki ekspektasi bahwa sosok rohaniwan berjubah itu haruslah manusia super. Saya juga memiliki proyeksi bahwa sosok berjubah harus tampil sebagaimana yang saya inginkan: selalu suci, setia pada Gereja, menjadi Alter Christi, bahkan tidak memiliki kerapuhan sebagai manusia!
Proyeksi yang tidak disadari membawa konsekuensi serius. Iman umat menjadi rapuh karena bergantung pada integritas personal figur. Figur rohani dibebani tuntutan simbolik yang tidak manusiawi. Ketika kegagalan terjadi, yang runtuh bukan hanya kepercayaan pada individu, tetapi juga kestabilan iman.
Padahal, Yesus tidak memilih orang-orang yang tampak sempurna di mata dunia. Petrus menyangkal Yesus tiga kali; Thomas mempertanyakan kebangkitan; para murid melarikan diri ketika salib ditegakkan. Namun, justru kepada merekalah Yesus memercayakan pewartaan.
Tradisi Gereja pun tidak menutupi kerapuhan para kudusnya. Santo Ignasius Loyola dan Santa Teresa dari Avila dikenal bergulat dengan skrupel dan kegelisahan rohani yang mendalam. Kesucian mereka tidak lahir dari ketiadaan luka, melainkan dari kesediaan membiarkan luka itu disentuh dan diarahkan oleh rahmat.
Gereja juga institusi yang bisa mengalami luka. Diskusi dengan para imam Jesuit membuat saya belajar, bahwa Gereja Katolik bukanlah institusi superpower yang tak pernah berbuat kesalahan. Dalam sejarahnya, Paus Yohanes Paulus II dan Paus Fransiskus secara terbuka pernah meminta maaf atas kesalahan Gereja. Bagi saya, keberanian ini bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan iman institusional. Gereja Katolik bersedia untuk tidak menguduskan diri sendiri, melainkan terus-menerus dikoreksi oleh Injil dengan bertransformasi dari dalam: mengakui luka, membuka proses pertobatan, dan berusaha memperbaikinya.
Pikiran saya kembali ke Manresa. Di sana, pada mozaik karya Marko Rupnik tentang visi St. Ignasius di La Storta, diungkapkan bahwa buah Latihan Rohani adalah kesediaan untuk memanggul salib bersama Kristus. Melihat dengan mata Yesus berarti belajar memandang realitas sebagaimana adanya melalui mata cinta. Saya jadi mengerti bahwa iman tidak memerlukan figur yang disucikan secara sempurna, melainkan hati yang dilatih untuk mencintai di tengah kerapuhan. Di sanalah makna terdalam dari latihan rohani, bukan melarikan diri dari luka, melainkan berjalan bersamanya, sambil belajar melihat dunia dengan mata Kristus.
Saya jadi belajar, tidak lagi marah dan sinis, apalagi anti-Gereja. Penarikan proyeksi merupakan langkah pemurnian. Saya berusaha menata ulang relasi iman. Figur rohani tetap saya hormati, tetapi tidak lagi saya jadikan cermin kesempurnaan. Mereka adalah sesama peziarah dengan peran dan tanggung jawab tertentu.
Gereja Katolik tetap saya cintai, bukan karena bebas dari luka, melainkan karena di dalamnya saya belajar beriman secara utuh, dengan akal budi, tubuh, dan relasi. Posisi batin baru yang lahir dari proses ini menempatkan imam sebagai sesama peziarah dengan mandat khusus, bukan sebagai cermin kesempurnaan. Sakramen diterima sebagai rahmat Gereja, bukan sebagai pantulan kesucian personal pelayan. Iman tidak lagi saya sandarkan pada figur yang disakralkan, melainkan pada Kristus yang berinkarnasi, yang hadir dalam keretakan, konflik, dan kerapuhan manusia.
Mungkin inilah salah satu bentuk transformasi iman. Iman menjadi lebih bertanggung jawab. Kesetiaan tidak lagi bertumpu pada ilusi ketergantungan pada sosok rohani, melainkan pada keberanian untuk berjalan bersama Gereja apa adanya. Dalam iman tanpa sakralisasi tokoh rohani, kesakralan kembali berasal dari sumbernya. Solo Dios Basta.
Sleman, 28 Januari 2026 Lisa Kurnia Sari, Sp.PD-KR, FINASIM Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana dan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi RS Bethesda Yogyakarta.








