September 2024, saya memulai kerasulan di rumah rehabilitasi Kunci milik Bruderan Karitas di Nandan. Bagi saya, nama tempat rehabilitasi ini sederhana tetapi memiliki makna yang dalam, yaitu makna kunci sebagai ruang pembebasan dan harapan. Kunci menggambarkan setiap orang yang datang ke situ membawa pintu yang terkunci rapat di dalam hidupnya.
Saya juga menyadari bahwa di tempat ini saya belajar bahwa setiap orang yang datang, baik penghuni maupun pendamping, sebenarnya sedang mencari kunci untuk membuka belenggu mereka masing-masing: belenggu luka, masa lalu, ketakutan, dan ketidakpercayaan.
Di sisi lain, awal saya mulai kerasulan di Kunci, perasaan saya dipenuhi tanda tanya dan rasa kecemasan. Misalnya, apa yang bisa saya lakukan di sini? Apakah saya diterima atau tidak? Saya bukan konselor yang profesional.
Di tengah situasi ini, saya hanya cukup hadir untuk mendengarkan, menemani, dan berjalan bersama mereka. Saya menyadari bahwa melalui pengalaman ini saya menemukan panggilan kerasulan yang sangat manusiawi: menjadi sahabat bagi mereka yang sering dipandang sebelah mata.
Di setiap canda tawa kami, kami selalu meluangkan waktu untuk berdoa bersama, saya meyakini melalui doa dapat menguatkan iman mereka agar tetap tegar dalam melawan badai hidup. Saya juga mendampingi mereka dalam membaca dan merenungkan Kitab Suci.
Hal yang menarik bagi saya adalah di saat mereka sharing Kitab Suci sesuai dengan pengalaman hidup mereka. Misalnya menceritakan pengalaman suka dan duka, pengalaman jatuh dan bangun, dan lain-lain.
Terkadang, ada beberapa sharing mereka dalam bentuk protes kepada Tuhan karena mereka merasa bahwa Tuhan sering kali tidak adil dengan hidup mereka. Tapi saya sadar, di situlah kejujuran lahir. Lahir dari realitas.
Di Kunci, saya merasakan bahwa Tuhan tidak hanya hadir di kapel yang hening, tetapi juga di ruang sharing yang berdebu, di teras tempat mereka merokok sambil bercerita, bahkan di lorong gelap tempat mereka berjuang untuk menahan setiap godaan duniawi.
Kerasulan di Kunci mengingatkan saya akan Sabda Yesus dalam Injil Matius 11:28: “Datanglah kepada-Ku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat.” Di sinilah saya melihat bahwa sabda Tuhan itu benar-benar hidup.
Bagi saya pribadi, rehabilitasi Kunci juga menjadi kunci untuk membuka ruang kerahiman di hati saya bahwa saya harus belajar melihat orang bukan dari masa lalunya atau keburukannya, melainkan dari setiap kebaikan yang masih bisa tumbuh di masa depannya.
Akhir kata, kerasulan di Kunci saya menemukan makna panggilan menjadi seorang frater: sahabat bagi yang tersisih, saksi bagi rahmat Tuhan yang mampu membebaskan, kapan pun Dia mau. Yang terpenting adalah bukan saya yang berhasil “menyelamatkan” mereka, tetapi saya mau tetap tinggal, meski saya sendiri tak punya jawaban atas semua persoalan.
Ferdinandus Iswandi Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma








