Kegembiraan Sejati Lahir dari Hati Manusia

Pelita745 Views

Setiap manusia tentunya menginginkan kegembiraan dalam hidup ini. Namun, kegembiraan sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang hanya memuaskan indra manusia.

Dewasa ini, manusia sering kali dipuaskan hanya pada hal-hal yang tampak menyenangkan dan serbainstan. Manusia seolah diajak untuk menyelam pada hal-hal yang dangkal sehingga tidak sampai pada kegembiraan sejati.

Salah satu cara untuk mengetahui apa itu gembira, kita dapat merenungkan peristiwa-peristiwa gembira yang ada dalam doa Rosario. Dalam merenungkan Peristiwa Gembira, kita diajak untuk melihat peristiwa-peristiwa dalam Kitab Suci yang menceritakan tentang kegembiraan. Namun menariknya, dalam setiap peristiwa gembira yang kita renungkan, rasa gembira itu tidak diperoleh dengan cara yang instan.

Peristiwa gembira pertama adalah Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel (Luk. 1:26-38). Dalam peristiwa ini, Malaikat Gabriel mengatakan jangan takut kepada Bunda Maria (Luk. 1:30). Ini menandakan Bunda Maria diliputi rasa ketakutan saat menerima kabar tersebut.

Peristiwa gembira kedua adalah Maria Mengunjungi Elisabet, saudarinya (Luk. 1:39-45). Bunda Maria bergegas menuju tempat Elisabet karena mendapat kabar dari Gabriel bahwa Elisabet juga sedang mengandung. Rasa cemas, takut, dan penasaran membuat Bunda Maria langsung berjalan ke tempat Elisabet (Luk. 1:39).

Peristiwa gembira ketiga adalah Yesus dilahirkan di Betlehem (Luk. 2:1-7). Dalam Injil Matius 2:1-12, kita mengetahui bahwa para majus juga mengunjungi dan melihat bayi Yesus melalui tuntunan bintang.

Peristiwa kelahiran Yesus terdengar sampai telinga Raja Herodes. Raja Hedores bahkan sampai memerintahkan untuk membunuh anak-anak di Betlehem dan sekitarnya. Hidup seorang penyelamat dunia terancam ketika masih bayi, lemah, dan tidak berdaya.

Peristiwa gembira keempat adalah Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah (Luk. 2:22-40). Dalam peristiwa Yesus dipersembahkan dalam bait Allah ini, terselip sebuah nubuat Simeon bahwa suatu pedang akan menembus jiwa Bunda Maria. Nubuat Simeon tergenapi saat Bunda Maria memangku jenazah Yesus di puncak Kalvari.

Peristiwa gembira yang terakhir adalah Yesus diketemukan dalam Bait Allah (Luk. 2:41-44). Kecemasan dirasakan Bunda Maria dan Santo Yusuf ketika menyadari bahwa Yesus tidak ada bersama dengan mereka ataupun rombongan lain.

Tiga hari lamanya rasa cemas meliputi Bunda Maria dan Santo Yusuf. Setelah menemukan Yesus dan bertanya kepada Yesus, Bunda Maria mendapat jawaban yang sulit untuk dimengerti. Namun, ada satu sikap teladan yang diberikan Bunda Maria, yaitu menyimpan semua perkara itu dalam hati dan merenungkannya (Luk. 2:51).

Dalam merenungkan Peristiwa Gembira, kita menemukan rasa takut, cemas, khawatir, penuh ketidakpastian, serta kebingungan yang biasa dialami oleh manusia. Kita boleh belajar dari Peristiwa Gembira yang kita renungkan untuk memandang sebuah kegembiraan sebagai sebuah pilihan.

Di tengah-tengah rasa yang ada, peristiwa gembira mau mengajak kita untuk lebih memiliki kesadaran bahwa kita masih mampu menangkap rencana dan karya Ilahi dalam hidup kita. Kegembiraan sejati yang lahir dari hati manusia terjadi bukan pada saat semua yang ada baik-baik saja, melainkan pada saat yang tidak pasti, manusia tetap memilih untuk masuk dalam misteri Allah yang sungguh mengagumkan.

Adryan Kristy Tanusdjaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *