Sleman. Suasana Sabtu pagi, 11 Juli 2026, di SMP Kanisius Kalasan terasa begitu hangat dan khidmat. Setelah lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, sebuah momen penting yaitu penyerahan murid dari orangtua kepada pihak sekolah terjadi.
Mewakili orang tua murid kelas 7, Ibu Mantik Cinderara menyerahkan putra-putri mereka kepada sekolah. Sebuah untaian harapan terucap: agar di tempat ini, perkembangan moral anak-anak menjadi poin utama yang ditumbuhkan bersama.
Penyerahan ini bukan bentuk pelepasan tanggung jawab, melainkan awal dari sinergi kasih antara sekolah dan keluarga.

Sebagai bagian dari perutusan merawat masa depan gereja dan bangsa, sesi parenting yang dibawakan oleh Ibu F. Netty Kuswandari, M.Si.,
mengajak kita merefleksikan kembali pondasi dasar hidup bersama: Relasi dan Komunikasi di Dalam Keluarga.
Di era modern ini, anak-anak remaja kita sering kali menghadapi tantangan pencarian identitas yang luar biasa. Mereka mengalami perubahan fisik pubertas dan dorongan sosial untuk selalu tampil up to date.
Di tengah badai pencarian jati diri yang terkadang tampak seperti pemberontakan, narasumber mengingatkan kita pada tugas perutusan yang paling mendasar sebagai orang tua: menyapa dengan lembut dan menyentuh hati mereka.
“Komunikasi positif dari hati ke hati adalah proses untuk memahami dan dipahami secara dinamis,” urai Ibu Netty. Keluarga diundang untuk menjadi lingkungan yang suportif, menjauhkan dominasi yang egois, dan membangun pikiran positif.
Sebelum kita mampu memperbaiki perilaku anak, kita ditantang untuk membangun kedekatan personal terlebih dahulu dengan menghargai keunikan yang Tuhan titipkan pada masing-masing anak.

Melalui praktik komunikasi efektif yang disimulasikan oleh para orang tua pada acara tersebut, kita diajak sadar bahwa intonasi yang lembut dan afirmasi penuh kasih jauh lebih berkuasa meredam konflik daripada amarah.
Ketika orang tua mampu menghadirkan kebahagiaan sejati di dalam rumah, anak-anak akan merasakan rasa aman dan nyaman yang membentengi mereka dari pengaruh negatif dunia luar.
Mari kita bawa refleksi ini ke dalam meja makan dan ruang doa keluarga kita masing-masing. Menjadi orang tua yang bahagia, mendengarkan dengan penuh empati, dan mempercayai proses bertumbuhnya buah hati kita. Semoga dengan tuntunan iman, kita mampu mewujudkan anak-anak yang berkarakter hebat.
Heffi Widyaningrum, S.Pd.Si Guru SMP Kanisius Kalasan













