Pada 15 Agustus 1926, sebuah peristiwa bersejarah berlangsung di Maastricht, Belanda. Di antara para calon imam yang ditahbiskan hari itu, tampak seorang pemuda bertubuh kurus, berkulit cokelat, dan berwajah Asia. Ia adalah Pater Fransiskus Xaverius Satiman, SJ, putra Indonesia pertama yang ditahbiskan menjadi imam Katolik.
Perjalanan Pater Satiman bermula dari Kolese Xaverius Muntilan. Bersama Darmasepoetra, ia dengan berani menyampaikan keinginannya untuk memperoleh pendidikan sebagai calon imam. Permintaan tersebut mendorong Pater Franciscus van Lith, SJ dan Pater Jacobus Mertens, SJ merintis pendidikan imam bagi pemuda Indonesia—sebuah langkah yang pada masa itu membutuhkan keberanian besar.
Tahbisan Pater Satiman bukan hanya peristiwa sakramental, melainkan juga tonggak yang memangkas jarak antara orang Eropa dan Indonesia di tengah kuatnya pandangan kolonial serta kesombongan rasial. Dalam Misa perdananya di Gereja Hati Kudus Maastricht, umat Katolik Belanda berbaris menyambut “pater kecil dari Jawa”, menerima komuni dari tangannya, dan memohon berkatnya.
Kisah ini menjadi bukti bahwa keberanian untuk menjawab panggilan dapat membuka jalan baru bagi banyak orang. Dari langkah kecil di Muntilan, lahirlah fondasi pendidikan imam pribumi yang kelak ikut membentuk wajah Gereja Katolik Indonesia.
Temukan kisah selengkapnya dalam tulisan Florentinus Hadi, SJ, berjudul “Pater Kecil dari Jawa”: Seabad Imam Indonesia Pertama, di Majalah UTUSAN Edisi Juli 2026.
Yuk, pesan dan baca Majalah UTUSAN edisi Juli 2026!
Edisi cetak:
Francisca Triharyani
WhatsApp: 0857-2954-8877
Anang
WhatsApp: 0812-2522-5423
Edisi digital dapat diperoleh melalui Gramedia Digital. Pemesanan juga dapat dilakukan dengan mengirimkan pesan langsung ke akun media sosial Majalah UTUSAN:
@franciscatriharyani
@anangnambo
@jesuitindonesia
Felix Kris Alfian








