Setiap hari, sejak pagi hingga malam, setiap rumah tangga menghasilkan sampah. Dari dapur-dapur sederhana lahirlah sisa sayuran, kulit buah, ampas kopi, hingga berbagai limbah organik lainnya. Jika tidak dikelola, semuanya akan berakhir di tempat pembuangan sampah yang semakin sesak, menimbulkan bau tak sedap, bahkan memicu persoalan lingkungan yang belakangan menjadi perhatian serius di Kota Yogyakarta.
Namun, di balik tumpukan sampah organik itu sebenarnya tersimpan sesuatu yang sangat dibutuhkan tanah: pupuk alami. Persoalannya bukan terletak pada sampah itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia mengolahnya.
Kesadaran itulah yang terus dibangun Pemerintah Kota Yogyakarta melalui program Masyarakat Jogja Olah Sampah (MAS JOS). Program ini mendorong masyarakat agar mengelola sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga, sehingga beban tempat pembuangan akhir dapat dikurangi secara bertahap.
Upaya tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi. Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) SHIND Jogja dan Sarihusada Generasi Mahardika (SGM) menggelar Pelatihan Pengelolaan Sampah Organik dengan Metode Vermikompos (Losida dan Cacing) pada Senin (13/7/2026) di Kantor Kemantren Umbulharjo.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekaligus membekali warga dengan keterampilan mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk yang bermanfaat. Peserta berasal dari perwakilan RW di Kelurahan Semaki, Muja Muju, Tahunan, dan Warungboto.
Stakeholder Relations Sarihusada Generasi Mahardika (SGM), Akhta Suhendra, mengatakan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
Direktur Eksekutif SHIND Jogja, Maulana Sriyono, menjelaskan bahwa program Losida (Lodong Sisa Dapur) sebenarnya telah diterapkan sejak akhir 2022 ketika Yogyakarta mulai menghadapi darurat sampah. Saat itu, fokus pelaksanaan berada di Kelurahan Muja Muju.
“Kami sudah menanam sekitar 1.002 unit Losida di Muja Muju. Setiap rumah tangga mendapatkan pelatihan sehingga mampu mengolah sampah organiknya sendiri. Kemudian pada tahun 2025 kami mengembangkan metode ini agar satu Losida dapat mengolah sampah lebih maksimal,” ujarnya.
Menurut Maulana, efektivitas pengolahan sampah semakin meningkat setelah SHIND Jogja berkolaborasi dengan UAJY dan SGM dengan memanfaatkan cacing dalam sistem vermikompos.
“Metode ini sudah kami uji di 12 RW di Muja Muju. Hasilnya, proses penguraian sampah organik menjadi sekitar 20 persen lebih cepat dibandingkan metode sebelumnya,” jelasnya.
Dalam pelatihan tersebut, warga juga diajak melihat langsung praktik pengelolaan Losida. Perwakilan masyarakat Kelurahan Muja Muju, Fraksiyanti dan Yuni Suprapti, membagikan pengalaman mereka sekaligus mendemonstrasikan cara penggunaan Losida sehingga lebih mudah dipahami peserta.
Sementara itu, Dosen Fakultas Teknobiologi UAJY, Monika Ruwaimana, Ph.D., menjelaskan prinsip ilmiah vermikompos serta berbagai faktor yang menentukan keberhasilan pengolahan sampah organik menggunakan cacing.
Bagi warga, pelatihan ini bukan sekadar belajar membuat pupuk, melainkan membangun kebiasaan baru. Sampah dapur yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat kembali menjadi penyubur tanah, mengurangi volume sampah yang dibuang, sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan.
Mantri Anom Kemantren Umbulharjo, Eni Purwati, S.STP., M.Si., berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat menyebar ke lingkungan masing-masing sehingga semakin banyak rumah tangga yang mampu mengolah sampah organik secara mandiri.
“Harapannya, yang datang hari ini mendapatkan ilmu, mempraktikkannya di rumah, lalu menularkannya kepada warga lainnya. Ambil ilmunya, manfaatkan, dan tularkan,” ujarnya.
Di tengah persoalan sampah yang belum sepenuhnya selesai, langkah sederhana dari halaman rumah ternyata dapat menjadi bagian dari solusi. Ketika sisa makanan dan limbah dapur tidak lagi dipandang sebagai sampah, melainkan sebagai sumber kehidupan bagi tanah, maka perubahan besar sesungguhnya sedang dimulai dari rumah-rumah warga.








