Merajut Toleransi di Meja Buka Puasa: Tradisi Indah di Sekolah Katolik

COMICO VS Bukber di SMK Katolik Santo Mikael Surakarta

Papan Tulis887 Views

Di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, toleransi beragama menjadi hal yang penting untuk terus dipupuk. Salah satu bentuk nyata dari toleransi ini adalah tradisi bukber (buka puasa bersama) yang diadakan di berbagai institusi pendidikan, termasuk sekolah Katolik, khususnya SMK Katolik Santo Mikael Surakarta. Kegiatan ini bukan sekadar ajang berbagi makanan, tetapi juga simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing.

Dalam acara COMICO (Companionship of Michael College) yang diselenggarakan di SMK Santo Mikael Surakarta dengan momentum buka puasa bersama (Bukber), siswa non-Muslim ikut berpartisipasi dengan membantu menyiapkan makanan dan berbagi cerita seputar pengalaman mereka dalam hidup berdampingan.

Sekadar informasi, COMICO adalah acara yang diselenggarakan oleh SMK Santo Mikael Surakarta yang bertujuan untuk mempererat persaudaraan dan keakraban antara siswa, guru, dan antarangkatan.

Sementara itu, para guru memberikan refleksi tentang pentingnya menghormati keyakinan satu sama lain. Momen ini menjadi sarana edukasi bahwa toleransi bukan sekadar teori dalam pelajaran agama atau Pancasila, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, buka puasa bersama di sekolah Katolik adalah bentuk nyata dari semangat kebhinekaan yang harus terus dijaga. Dengan merajut nilai-nilai toleransi sejak dini, generasi muda diajarkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan pemisah.

Keindahan ini menjadi harapan bahwa persaudaraan antarumat beragama di Indonesia akan semakin erat, menjadikan perbedaan sebagai kekayaan yang patut dirayakan bersama.

Tausiyah dibawakan oleh Ust. Khoirul Anwar.

Menghormati keberagaman

Sekolah Katolik di berbagai daerah di Indonesia telah lama dikenal sebagai tempat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebinekaan. Meski berlandaskan ajaran Katolik, banyak sekolah yang memiliki siswa-siswi dari berbagai latar belakang agama. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, tradisi buka puasa bersama menjadi momentum spesial yang dirayakan dengan penuh semangat dan sukacita.

Kegiatan ini melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga staf sekolah. Mereka bersama-sama menyiapkan hidangan, menyusun acara, dan berbagi pengalaman mengenai makna puasa.

Tidak jarang, acara ini juga diisi dengan ceramah kebersamaan (tausiyah) yang disampaikan Ustaz Khoirul Anwar dari pondok pesantren Salatiga yang mengajarkan pentingnya saling menghormati dan memahami keyakinan satu sama lain.

Para siswa menikmati takjil dengan penuh kebersamaan.

Lebih dari sekadar makan bersama

Buka puasa bersama di Sekolah Katolik Santo Mikael Surakarta bukan hanya tentang makan bersama saat azan Magrib berkumandang. Ada makna yang lebih mendalam di balik tradisi ini.

Siswa non-Muslim belajar memahami arti menahan diri dan refleksi spiritual yang dijalani teman-teman Muslim mereka. Sebaliknya, siswa Muslim merasa diterima dan dihormati dalam lingkungan yang mayoritasnya mungkin berbeda keyakinan.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan antarsiswa dan guru. Dalam suasana yang penuh kehangatan, mereka berbincang, berbagi cerita, dan saling mengenal lebih dalam sembari mendengar alunan lagu-lagu yang bernuansa religi Islami yang dipersembahkan oleh grup band angkatan Mico 60, Mico 61, dan band sesepuh (band gabungan guru-guru Mico). Hal ini menciptakan lingkungan yang harmonis, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang harus dirayakan.

Rm. Tiro Angelo Daenuwy, SJ, moderator SMK Santo Mikael Surakarta, mengenakan pakaian khas Timur Tengah.

Pesan toleransi untuk generasi muda

Di era yang sering kali diwarnai oleh perbedaan pendapat dan konflik, tradisi buka puasa bersama di sekolah Katolik menjadi contoh nyata bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu. Justru, dengan memahami dan menghormati satu sama lain, kita bisa menciptakan masyarakat yang lebih harmonis.

Melalui kegiatan ini, para siswa belajar bahwa toleransi bukan sekadar teori, melainkan praktik yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka diajak untuk melihat bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang bisa memperkaya kehidupan mereka.

Pada akhirnya, tradisi buka puasa bersama di sekolah Katolik adalah wujud nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika. Dengan terus merajut toleransi di berbagai kesempatan, kita berharap generasi muda Indonesia tumbuh menjadi individu yang menghargai keberagaman dan siap membangun bangsa yang lebih kuat dan bersatu.

Dwi Listyanto (Pendidik di SMK St. Mikael Surakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *