Jumat, 14 Maret 2025, sekolah yang kucintai dan kubanggakan, SMP Kanisius Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengadakan kegiatan Parenting Day, sebuah momen berharga bagi para orang tua untuk belajar dan bertukar wawasan tentang bagaimana mendampingi kami sebagai anak-anak yang baru tumbuh dan berkembang.
Pada era modern ini, kehidupan makin kompleks sehingga menjadi orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga hadir secara emosional dan menjadi pendidik utama bagi kami sebagai anak dalam pendidikan yang sebenarnya.
Dalam kegiatan parenting ini, Rm. Agustinus Setyodarmono, SJ alias Rm. Nano selaku narasumber menyampaikan salah satu hal yang ditekankan, yakni orang tua bukanlah pemilik anak, melainkan pendamping dalam perjalanan hidup. Anak bukan sekadar investasi atau kebanggaan keluarga, tetapi individu dengan keunikan dan kebutuhannya masing-masing.
Oleh karena itu, membangun komunikasi yang sehat menjadi kunci utama, bukan hanya sekadar memberi nasihat atau perintah saja, tetapi juga mendengarkan dengan empati dan memahami apa yang kami rasakan sebagai anak.
Selain itu, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya membangun kebiasaan belajar yang baik bagi anak. Prestasi akademik memang penting, tetapi cara anak belajar dan memahami dunia juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu, orang tua harus mampu menyampaikan dan menjelaskan kebiasaan belajar setiap hari jauh lebih efektif dibandingkan dengan sistem kebut semalam yang biasanya dilakukan oleh seorang anak.
Pada era digital, penggunaan gawai menjadi tantangan tersendiri. Orang tua diingatkan untuk tidak hanya mengawasi, tetapi juga memberikan contoh dalam penggunaan teknologi yang bijak. Jika tidak dikendalikan, gawai bisa menjadi penghalang dalam membangun hubungan yang berkualitas dalam keluarga.
Oleh karena itu, menciptakan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata menjadi salah satu tugas utama dalam mendampingi kami sebagai anak yang masih harus membutuhkan perhatian yang utuh.
Kegiatan ini juga mengajak para orang tua untuk memahami perkembangan psikoseksual kami sebagai anak, sesuatu yang sering dianggap tabu untuk dibicarakan. Padahal, pemahaman yang benar bisa membantu kami sebagai anak melewati fase ini dengan sehat, tanpa rasa takut atau kebingungan.
Selain itu, refleksi juga diberikan tentang bagaimana keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi kami sebagai anak untuk belajar tentang kasih sayang, dukungan, dan rasa aman dalam bertumbuh serta berkembang.
Dalam kegiatan parenting ini, tujuan utamanya bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, tetapi tentang menjadi orang tua yang selalu berusaha memahami dan hadir dalam kehidupan kami sebagai anak.
Tidak ada rumus pasti dalam mendidik, tetapi yang terpenting adalah membangun ikatan emosional yang kuat, yaitu kami sebagai anak merasa didengarkan, dipahami, dan diterima apa adanya. Karena pada akhirnya, bukan hanya kata-kata yang akan diingat oleh kami sebagai anak, tetapi perasaan bahwa ingin selalu memiliki tempat untuk pulang bertemu dan bersama keluarga yang penuh kebahagian.
Ni Made Laksmi Tiara Kusuma (Siswa SMP Kanisius Kalasan)








