Batik adalah warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO. Motifnya beragam, dengan ciri khas yang berbeda di setiap daerah, seperti batik pedalaman Jawa yang memiliki corak unik. Tidak hanya di Jawa, berbagai daerah lain di Indonesia juga memiliki batik dengan keindahan dan filosofi tersendiri.
SMP Kanisius Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan program membatik dalam rangka kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan kreativitas dan potensi kami sebagai siswa melalui imajinasi. Selain berkreasi dengan motif sendiri, kami juga dapat memilih dari berbagai motif yang telah disediakan.
Agar kegiatan berjalan optimal, SMP Kanisius Kalasan menghadirkan seorang seniman, Lik Iwan namanya, untuk membimbing kami dalam proses membatik. Menurut Lik Iwan, batik yang dipilih dalam kegiatan ini adalah batik tematik. Tujuannya adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya batik sejak dini. Media yang digunakan pun tidak berupa kain panjang, melainkan tote bag, agar lebih praktis dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan ini, kami mengikuti langkah-langkah membatik secara detail. Dimulai dari membuat sketsa, mencanting dengan lilin panas, hingga pewarnaan. Dari seluruh tahapan, sebagian besar dari kami menganggap mencanting sebagai bagian tersulit, karena ini adalah pengalaman pertama menggunakan canting, alat khas dalam proses membatik. Namun, tantangan itu tidak menghalangi semangat kami untuk berkarya.
Membatik bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga melatih ketekunan dan kreativitas. Lebih dari sekadar kegiatan seni, tetapi merupakan bentuk pelestarian budaya. Sebagai generasi penerus, kami anak-anak Indonesia yang saat ini menuntut ilmu di SMP Kanisius Kalasan memiliki peran penting dalam menjaga warisan agar tetap lestari dan dikenal dunia.
Dalam kegiatan yang mengusung kearifan lokal ini, nilai kemerdekaan sebagai salah satu nilai dasar Kanisius turut diterapkan. Kemerdekaan di sini diartikan sebagai keberanian untuk berkarya, tangguh dalam menghadapi tantangan, dan memiliki tekad kuat untuk melestarikan budaya setempat maupun lokal. Selain itu, nilai keunggulan juga tercermin dalam proses membatik, karena kami diajak untuk mengekspresikan kreativitas secara bebas dan unik dalam berkarya.
Terkait dengan program ini, yaitu melestarikan, mengenalkan, dan membadankan kearifan lokal yang ada, kami sebagai siswa SMP Kanisius Kalasan tidak hanya mendapatkan pengalaman baru, tetapi juga memberikan kesadaran akan pentingnya budaya kearifan lokal. Harapan kami, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut untuk mengembangkan kreativitas siswa, demi memperkuat rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa yang telah ada.
Naomi Aurora Carissa Aruan (Siswa SMP Kanisius Kalasan)








