Anak-anak remaja tampak senang dan ceria bermain gamelan di Aula Puskat sore itu. Aktivitas ini merupakan pengayaan dalam kelas Conbrio, kursus organ bagi anak usia SMP di Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta. Paket kursus dalam kelas ini ditempuh selama kurun waktu sembilan bulan.
Pembagian pelajaran kursus ini pada tiga bulan pertama mendapat tambahan materi bermain gamelan; selang tiga bulan berikutnya dengan materi alat musik tradisional lain seperti rebana, suling recorder, atau angklung; dan tiga bulan terakhir kembali bermain gamelan. Durasi pertemuan berlangsung satu jam, setiap Senin pukul 17.45 – 18.45.

Butuh sikap sabar
Mengajar karawitan bagi siswa pada zaman sekarang memang tidak mudah karena banyak tantangan. Apalagi dikaitkan dengan era teknologi sekarang, siswa selalu tidak ingin terlepas dari gawainya sehingga membuat konsentrasi terpecah hingga buyar. Oleh karena itu, dibutuhkan pendampingan serta ketegasan guru dalam mengampu permainan gamelan, jangan sambil bermain gawai.
Meskipun kelihatan sepele, bagian ini sering saya tegaskan setiap mengampu dalam latihan gamelan di PML agar mendapatkan hasil maksimal dalam belajar. Strategi matang pun diperlukan agar silabus yang sudah direncanakan dapat tercapai, bahkan butuh sebuah pendekatan khusus.
Dengan kesabaran tinggi, kadang diselingi humor, tidak cepat marah kepada siswa bila mereka lama menangkap pelajaran, adalah salah satu cara agar siswa merasa nyaman dan betah ketika belajar menabuh gamelan.
Tahap awal biasanya dimulai dengan sebuah bentuk keakraban, yaitu perkenalan siswa satu per satu supaya diperoleh sebuah chemistry secara emosional agar lebih enak dalam mengajar. Selesai mengenal nama-nama siswa, baru di mulai dengan praktik bermain gamelan.
Mengenalkan nada-nada gamelan adalah langkah paling dasar bermain gamelan. Meskipun sering mendengar suara gamelan (kebanyakan hanya sambil lalu), ternyata belum semua siswa kursus mengenal lebih dekat apalagi bermain gamelan.
Tata cara belajar diberikan dengan teknik diulang-ulang, baru kemudian sedikit demi sedikit diajarkan gending (lagu/musik) Gereja. Untuk materi permainan gending, dikenalkan yang paling sederhana. Pertama, dikenalkan gending lancaran Suwe Ora Jamu laras pelog enem. Gending ini mempunyai karakter gembira dan penuh semangat, tetapi mempunyai kelebihan mudah diingat dan enak terdengar di telinga karena melodi lagunya sangat familier.
“Ternyata bermain gamelan itu asyik, ya, Ma? Saya suka lagunya. Hanya sulitnya waktu mematet (menghentikan nada) perlu latihan dan butuh kesabaran,” cerita Laurentia Chandra Novia dari Paroki Marganingsih Kalasan, Sleman menirukan ungkapan putrinya.
Ungkapan tersebut terlontar setelah putrinya mengikuti kursus untuk pertama kalinya. Mulanya, si anak kurang gereget ikut kursus gamelan, karena selama ini belum mengenal gamelan. Berkat kegigihan Chandra mendukung Eufrasia Lauda (putrinya), puji Tuhan ada perubahan image yang menggembirakan baginya tentang gamelan.

Belajar nilai kebaikan
Bermain gamelan atau sering disebut karawitan, bila dikaji lebih mendalam, ternyata banyak gunanya bagi pendidikan siswa. Bermain gamelan mengandung unsur filosofi yang mengisyaratkan ajaran ideal seseorang, mulai dari kelembutan, kerja sama, hingga tidak saling menonjolkan diri. Ada kebersamaan, kekompakan, tenggang rasa, saling mengisi satu dengan yang lain, dan tentunya mengutamakan perpaduan rasa atau angon rasa.
Dalam khazanah gamelan, istilahnya disebut mad sinamadan, artinya harus mempunyai unsur saling menghargai dan memahami antarpemain gamelan. Dikatakan demikian karena pemain (pengrawit) diharuskan untuk saling mengenal dan mengerti karakter pemain lainnya.
Bermain gamelan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi dengan mengutamakan kesetaraan dengan mengedepankan estetika yang dapat menghaluskan budi serta keadaban tanpa mengutamakan ego dalam permainannya. Lewat gamelan, kita dapat melihat belantara konsep dan wacana pergaulan dan hidup, bahkan melacak sebuah karakter peradaban (Aris Setiawan, 2021).
Meneladani suatu nilai dalam permainan gamelan, sebenarnya adalah sebuah sumber dari pendidikan, dan bahkan masih relevan pada zaman sekarang. Dari uraian di atas menurut saya, kiranya tidak akan jauh beda bila dikaitkan bagi siswa di sekolah pada umumnya.
Bagi siswa, sesungguhnya hanya dibutuhkan ruang dan kesempatan untuk berkenalan, agar lebih akrab dengan gamelan. Sebuah refleksi dapat diperoleh dari sini, sangatlah tepat makna pendidikan dalam permainan gamelan digaungkan lagi bagi siswa di sekolah, karena di balik bermain gamelan, sebenarnya ada nilai plusnya bagi siswa. Selain terampil bermain gamelan, juga mengenal budaya tinggalan nenek moyang, satunya melalui gamelan.
Ketika banyak kasus bullying berada di lingkungan sekolah, maka perlu ada solusi dengan cara pendekatan budaya yang akrab dengan keseharian kita. Sebagai bahan penjajakan dan kajian, kiranya cukup elok dan tak ada jeleknya dicoba. Salah satunya dengan permainan gamelan bagi kalangan siswa remaja, karena seperti disebut di muka, sebenarnya terdapat ajaran positif dari etika dan karakter yang dapat membentuk adab bagi siswa, bahkan banyak mengajarkan nilai-nilai budaya luhur yang berakar dari budaya Jawa.
Danan Murdyantoro (Guru Karawitan kelas SMP/Conbrio di PML Yogyakarta)














