Relasi sosial menjadi faktor yang penting dalam membangun persaudaraan di tengah masyarakat. Akan tetapi, kita masih mengalami adanya krisis multidimensi yang memengaruhi kehidupan bersama. Salah satunya adalah krisis kemanusiaan.
Krisis kemanusiaan menjadi perhatian bersama, karena hal ini menyangkut relasi dengan sesama. Terorisme menjadi salah satu contoh dari krisis kemanusiaan. Di Indonesia, salah satu aksi teror yang pernah terjadi yaitu pengeboman di Gereja Katedral Makassar pada Minggu, 28 Maret 2021.
Presiden Joko Widodo melalui akun Instagramnya @jokowi memberikan pernyataan, “Saya mengutuk keras aksi terorisme tersebut dan saya sudah memerintahkan Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan-jaringan pelaku dan membongkar jaringan itu sampai ke akar-akarnya.”
Terorisme menimbulkan ancaman disintegrasi bangsa. Melalui Ensiklik Fratelli Tutti, Paus Fransiskus menuliskan:
Peperangan, serangan teroris, penganiayaan karena alasan ras atau agama, dan begitu banyak penyalahgunaan kekuasaan terhadap martabat manusia dinilai dengan cara yang berbeda tergantung apakah hal itu sesuai atau tidak dengan kepentingan-kepentingan tertentu, terutama kepentingan ekonomis. Apa yang benar selama cocok bagi orang yang berkuasa tidak lagi benar bila itu bukan untuk kepentingannya. Situasi kekerasan seperti itu “bertambah banyak secara menyedihkan di banyak wilayah dunia, hingga mengambil ciri-ciri dari apa yang bisa disebut ‘perang dunia ketiga secara bertahap’”.
Melalui ensiklik Fratelli Tutti, Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk menjadi saudara. Menjadi saudara berarti kita perlu menghindari kekerasan terhadap sesama. Saat ini kita dihadapi dengan berbagai tantangan, seperti perang, senjata nuklir, dan terorisme.
Seharusnya, sebagai sesama manusia kita saling menghargai kehidupan yang Allah telah berikan kepada kita, kekerasan mengancam kehidupan bersama, seharusnya keselamatan jiwa-jiwa adalah hukum yang tertinggi (Kitab Hukum Kanonik: No.1752).
Kita perlu mengatasi ancaman terorisme dan berbagai tantangan yang menyangkut krisis kemanusiaan dimulai dari diri sendiri. Pentingnya untuk memilah informasi dengan benar, jangan sampai kita terjerumus ke dalam provokasi yang memecah belah relasi sosial. Aksi teror menimbulkan relasi sosial seakan “pudar” akibat provokasi dari teroris tersebut.
“Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh. 4:20). Kutipan tersebut mengajarkan kita bahwa kasih kepada Allah juga perlu diwujudkan melalui cinta kasih kepada sesama. Dalam ensiklik Fratelli Tutti, memberikan Paus Fransiskus menuliskan:
Juga, “umat beriman perlu menemukan ruang untuk berdialog dan berkarya bersama demi kebaikan bersama dan penyejahteraan orang-orang miskin. Maksudnya bukan bahwa kita semua memperlemah atau menyembunyikan keyakinan-keyakinan kita sendiri, yang membuat kita paling bersemangat, agar bisa berjumpa dengan orang lain yang berpikir secara berbeda. […] Sebab semakin dalam, kuat dan kaya sebuah identitas, semakin ia memperkaya orang lain dengan sumbangan khasnya”. Sebagai orang beriman kita merasa diri ditantang untuk kembali ke sumber-sumber kita dengan berfokus pada yang terpenting: menyembah Allah dan mengasihi sesama, agar jangan sampai beberapa aspek ajaran kita, keluar dari konteksnya, akhirnya menyulut pelbagai bentuk penghinaan, kebencian, xenofobia, dan penolakan terhadap orang lain. Kebenaran adalah bahwa kekerasan tidak memiliki dasar dalam keyakinan agama yang mendasar, tetapi hanya dalam distorsinya.
Hal tersebut merupakan ajakan bagi kita semua untuk menghargai sesama manusia. Terorisme sangat bertentangan dalam menghargai kehidupan. Di zaman ini, manusia menghadapi tantangan yang begitu besar, yaitu terorisme, senjata nuklir, dan peperangan.
Sebagai masyarakat, kita perlu untuk berpikir kritis dan mengambil langkah untuk menghadapi ancaman tersebut. Dengan menerapkan norma dan etika yang baik dalam masyarakat juga rasa toleransi sejak dini sebagai langkah yang positif. Rasa toleransi tercerminkan melalui kegiatan sederhana, yaitu musyawarah dan gotong royong. Dalam semangat musyawarah dan gotong royong semuanya saling bekerja sama mencapai tujuan bersama.
Melalui berbagai pengalaman perjumpamaan banyak orang, Paus Fransiskus memberikan teladan bagaimana mewujudkan persaudaraan secara konkret. Kita perlu untuk mau saling terbuka dan menerima setiap orang sebagai saudara kita sendiri. Maka perlu pentingnya membangun persaudaraan yang bersifat terbuka dan inklusif.
Paus Fransiskus mengajak kita untuk meneladani spirit dari Santo Fransiskus Asisi. Kita diajak hidup dalam persaudaraan dan keinginan untuk hidup dalam bersama dan cita-cita untuk hidup dalam aspirasi universal akan persaudaraan (§ no. 8, hal 11). Cara yang dapat dilakukan dengan kasih, karena dengan dengan kasih kita bisa membangun jembatan untuk membangun keluarga yang besar di mana kita bisa kerasan akan belarasa dan martabat manusia (§ no.62, hal 42-43).
Kita perlu melakukan tindakan konkret untuk mewujudkan persaudaraan saat ini, seperti aksi bakti sosial dengan membantu korban bencana alam, dialog antarumat beragama, menghargai budaya lain, atau dari hal sederhana seperti ikut kondangan atau berbagi makanan dengan teman di sekolah. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memberikan makna untuk membangun tali persaudaraan.
Bersama-sama kita diajak untuk saling mewujudkan semangat persaudaraan, seperti yang telah dilakukan Paus Fransiskus, melalui Fratelli Tutti kita diimbau untuk makin lebih mendalami relasi sosial dengan sesama dan memperjuangkan martabat manusia itu sama. Setiap individu memiliki akal budi, kehendak bebas, dan hati nurani yang saling kita perjuangkan melalui kasih untuk mewujudkan persaudaraan. Maka, marilah kita saling membangun persaudaraan di tengah krisis kemanusiaan saat ini.
Nuno Periera Aryawida Pradika
Seminaris Tingkat Empat SMA Seminari Mertoyudan








