Pendampingan Iman Anak atau biasa disebut PIA, BIA, BIAK adalah kegiatan yang bertujuan untuk membina iman anak. Pembinaan Iman Anak dilakukan agar anak-anak mengenal Yesus. Agar anak semakin mencintai dan mengenal Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah masalah yang akhir-akhir ini terjadi yaitu berkurangnya anak-anak yang mengikuti PIA di sebuah paroki ini. Saat menjadi pendamping PIA di daerah Mertoyudan Magelang, saya mendapati anak-anak yang mengikuti PIA di beberapa wilayah paroki hanya 4-6 anak.
Ketika saya menanyakan anak-anak yang lain, para pendamping menjawab bahwa beberapa anak sudah malas mengikuti PIA. Bukan hanya PIA, Pendampingan Iman Remaja (PIR) dan Orang Muda Katolik (OMK) juga termasuk dalam hal ini.
Biasanya, sesuai namanya, kegiatan pendidikan iman anak tertuju kepada anak-anak. Kisaran umur mereka mungkin antara 5-13 tahun. Biasanya, Gereja membagi beberapa tingkatan. PIA untuk anak-anak kecil, lalu PIR untuk anak-anak yang memasuki masa remaja, dan OMK untuk orang yang sudah mulai dewasa.
Secara bertahap, bimbingan iman kepada mereka akan dilakukan. Selain itu, kegiatan ini adalah latihan untuk berorganisasi, tetapi biasanya lebih sering ditemukan di dalam OMK karena mereka sudah mengetahui struktur sebuah organisasi.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk bersosialisasi dan mengenal teman-teman serta Gereja. Akhir-akhir ini kegiatan-kegiatan tersebut berkurang karena adanya gawai dan media sosialnya.
Perkembangan teknologi terjadi dalam skala global. Gawai sekarang banyak macamnya, dari yang harganya terjangkau sampai mahal. Teknologi tersebut tidak hanya menyasar pada orang-orang dewasa, anak-anak kecil sekarang sudah mulai banyak yang bermain gawai.
Namun, teknologi dapat menyita waktu dan membuat globalisasi kedangkalan. Orang akan menatap, melihat dunia hanya sekecil gawai yang mereka pegang. Gawai dan media sosial menyita waktu untuk mengenal Tuhan.
Dari beberapa wawancara terhadap misionaris PIA Seminari Mertoyudan yang terdiri dari para seminaris tahun keempat, ketika mereka ditanya apakah anak-anak yang mengikuti kegiatan PIA di wilayah mereka masing-masing ada banyak, sebagian besar menjawab paling banyak bisa sampai 30. Namun, yang datang hanya 10 atau 12 orang karena beberapa anak lebih senang bermain gawai.
Manusia selalu terkoneksi satu sama lain, karena manusia adalah mahluk sosial. Media sosial telah dirancang sedemikian rupa agar kita bisa terhubung satu sama lain. Meskipun begitu, teknolgi bisa digunakan sebagai sarana pastoral, untuk mengenalkan Yesus, mengenalkan sejarah kasih Allah kepada anak muda.
Kemajuan teknologi menjadi salah satu sarana pastoral Gereja. Dalam jurnal berjudul Tantangan Media Sosial bagi Kaum Muda dan Tanggapan Gereja di dalam Pelayanan Pastoral menurut Jhon Palfrey, teknologi digital yang baru ini adalah sebuah mediator utama bagi anak muda. Melalui teknologi, muncullah media sosial. Media sosial menarik fokus hampir semua orang di dunia ini untuk fokus pada “dunia maya”.
Orang tua memiliki peran penting untuk mendidik anak-anak mereka dalam menggunakan gawai mereka, yakni membatasi apa yang dilihat oleh anak-anak mereka di media sosial. Sebab, media sosial bisa menawarkan hal yang belum cukup pantas untuk diterima anak muda. Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi mudah terdistraksi dan lupa akan identitas diri atau jati diri.
Perlu didikan orang tua untuk mengenalkan anak kepada Gereja. Orang tua juga harus aktif dalam hal ini, karena hal tersebut bisa mengubah sifat anak tersebut. Sejak pandemi COVID-19 melanda, dengan banyak aktivitas dilakukan secara daring atau online, anak-anak sudah terbiasa dengan gawai dalam kegiatan belajar-mengajar, bersosialisasi, dan kegiatan lainnya. Mereka menghabiskan waktu dengan menatap layar hingga mereka lupa dengan dunia di sekitarnya. Dengan situasi demikian, orang tua harus aktif mengenalkan anaknya kepada Gereja karena bisa mengubah sifat si anak.
Keluarga adalah Gereja pertama seorang anak yang mengenalkannya kepada Yesus. Keluarga pula yang memulai cinta anak kepada Yesus. Dengan demikian, keluarga adalah fondasi utama yang paling dekat dengan anak-anaknya. Oleh karena itu, keluarga harus aktif dalam kegiatan untuk membangun iman anak dengan cara mengajaknya mengikuti kegiatan PIA agar makin mengenal Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat.
Titus Dwipa (Seminaris Tahun Keempat Seminari Mertoyudan)








