Melampaui Batas Nada

Papan Tulis647 Views

Di sebuah sudut Kalasan, semangat melestarikan budaya tidak selalu dimulai dari kemewahan fasilitas. Di SMP Kanisius Kalasan, kecintaan terhadap seni karawitan justru tumbuh dari keterbatasan. Alunan nada slendro dan pelog pada awalnya hanya menjadi mimpi karena sekolah belum memiliki seperangkat gamelan.

Namun, bagi para murid, keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah nada.

Langkah Awal: Menjemput Nada

Gagasan sederhana datang dari para murid. Mereka mengusulkan agar sekolah meminjam gamelan terlebih dahulu.

Usulan itu kemudian ditindaklanjuti oleh pihak sekolah dengan mengirimkan surat permohonan kepada Kepala SD Kanisius Kalasan, Agustina Patricia Ria Dewi, S.Pd. Permohonan tersebut disambut baik, sehingga para murid diperbolehkan menggunakan gamelan milik sekolah dasar tersebut.

Sejak saat itu, kegiatan ekstrakurikuler karawitan di SMP Kanisius Kalasan resmi dimulai, meskipun belum memiliki perangkat gamelan sendiri.

Perjuangan pun dimulai. Setiap minggu para murid berjalan kaki dari SMP menuju SD Kanisius Kalasan untuk berlatih. Mereka menempuh perjalanan di bawah terik matahari demi bertemu dengan bilah-bilah saron dan denting gong.

Namun, tantangan baru muncul. Perangkat gamelan di SD tersebut dirancang untuk ukuran fisik anak-anak sekolah dasar. Hal ini membuat para siswa SMP tidak dapat mengeksplorasi permainan musik secara maksimal.

Para Murid Berlatih di Ruang Perpustakaan.
Ujian Kegigihan di Kapanewon

Tidak menyerah pada keadaan, pihak sekolah kembali mencari solusi. Upaya tersebut membuahkan hasil setelah memperoleh izin untuk menggunakan gamelan yang berada di Kantor Kapanewon Kalasan.

Izin peminjaman ini diperoleh berkat dukungan dari Panewu Kalasan, Samino, S.IP., M.Ec.Dev.

Jarak yang lebih jauh tidak menyurutkan semangat para murid. Mereka tetap berjalan kaki pada siang hari untuk mengikuti latihan. Tantangan kali ini berbeda.

Gedung kapanewon merupakan fasilitas umum yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan pemerintahan. Karena itu, para murid kerap harus menunggu di selasar hingga rapat-rapat kedinasan selesai.

Dalam penantian tersebut, para murid justru belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Tidak ada keluhan yang terdengar. Yang ada hanyalah rasa syukur karena mereka masih dapat menabuh gamelan.

Buah dari Ketulusan

Kegigihan para murid akhirnya menyentuh hati para donatur dan pemerhati pendidikan Kanisius. Melalui semangat gotong royong, dana berhasil dikumpulkan untuk membeli satu set gamelan baru yang berkualitas.

Kedatangan perangkat gamelan itu menjadi momen yang sangat membahagiakan bagi seluruh warga sekolah. Peti-peti kayu yang berisi gamelan disambut dengan penuh haru dan syukur.

Kini, suara gamelan itu telah memiliki “rumah” sendiri di SMP Kanisius Kalasan.

Meski demikian, keterbatasan ruang masih menjadi tantangan. Karena lahan yang terbatas, latihan karawitan untuk sementara dilaksanakan di ruang perpustakaan yang juga digunakan untuk berbagai kegiatan lain.

Namun, hal itu tidak mengurangi semangat para murid. Di antara rak-rak buku dan ruang yang tidak terlalu luas, alunan gamelan tetap terdengar merdu dan penuh semangat.

Karawitan SMP Kanisius Kalasan
Pesan bagi Masa Depan

Kisah SMP Kanisius Kalasan menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu bergantung pada kelengkapan fasilitas. Yang lebih penting adalah kegigihan, ketulusan, dan semangat untuk menjaga warisan budaya.

Melalui dukungan dari Dinas Kebudayaan serta para pemerhati pendidikan, diharapkan langkah kecil para murid ini dapat terus berkembang. Langkah tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi pelestarian seni tradisi di Indonesia. ***

Heffi Widyaningrum, S.Pd.Si.
Guru SMP Kanisius Kalasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *