Ikuti LDK OSIS, Seminaris Rasakan Arti Perjuangan Hidup

Papan Tulis686 Views

OSIS merupakan salah satu wadah proses formatio dan pembinaan karakter siswa di SMA Seminari. Proses formatio dalam kepengurusan OSIS berupaya untuk melatih siswa secara mendalam untuk mengolah rasa mengasah empati sehingga tumbuh ketajaman merasa, kepedulian hati, dan keberpihakan dalam bertindak bagi mereka yang “kecil” dan marginal.

Latihan dasar kepemimpinan (LDK) OSIS yang dilaksanakan pada tanggal 24 – 25 Juli 2025 ini dikemas dengan tema berjalan bersama yang “lemah, kecil, dan marginal”.

Semangat option for the poor menjadi spirit dasar yang mewarnai kegiatan LDK tersebut agar kelak siswa calon pemimpin Gereja Katolik dan bangsa mampu menjadi pemimpin yang punya hati, tajam merasa, mampu memberdayakan, dan berjuang demi keadilan dan kemanusiaan terkhusus bagi “wong cilik” sebagai ladang perutusannya.

Pendidikan harus memampukan siswanya berdaya dalam olah rasa, olah pikir, dan olah kehendak. Dalam LDK OSIS SMA Seminari, para siswa diutus menjadi pedagang asongan, pedagang koran di perempatan Artos, membantu para pemulung di tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) Njurip Magelang, menjadi pekerja, tukang parkir, membantu para pedagang, tukang sampah di Pasar Rejowinangun dan Pasar Gotong Royong Kota Magelang.

Beberapa siswa juga diutus untuk menghidupi dan menghayati hidup sebagai pemulung yang harus merasakan panasnya terik matahari dan lelahnya berjalan untuk mencari sesuap nasi bagi kehidupan.

Kedalaman refleksi menjadi kekuatan mengolah rasa dan empati siswa, di tempat pembuangan sampah akhir, para siswa merasakan bagaimana panasnya terik matahari, baunya sampah yang menyengat hidung, tebaran belatung di kakinya yang harus dihayati setiap hari oleh para pemulung di lokasi TPSA.

Menjadi pedagang asongan tidak mudah, malu, kecewa karena ditolak pembeli.

Sampah adalah berkah bagi para pemulung di TPSA, berebut sampah adalah fenomena yang terjadi di antara para pemulung. Sungguh berarti sampah plastik bagi kehidupan para pemulung dan keluarganya. Belas kasih pun tampak dari para pemulung yang memberikan empatinya bagi para siswa yang diutus ke TPSA untuk bekerja.

Selama proses bekerja, para siswa merasakan arti perjuangan hidup, arti sampah yang sungguh bermakna, arti kasih yang tampak dari para pemulung yang menyapa dan sungguh memperhatikannya, dan arti bersyukur yang mendalam yang dirasakan oleh para siswa.

Begitu pula, saat para siswa diutus menjadi pemulung, mereka merasakan panasnya terik matahari, lelahnya berjalan berjuang mencari barang-barang bekas demi sesuap nasi, beratnya hasil pulungan yang didapat yang per karungnya belum cukup untuk membeli satu kilo beras. Para siswa merasakan sungguh apa yang pemulung rasakan.

Di sisi lain, juga menjadi pedagang asongan tidak mudah, malu, kecewa karena ditolak pembeli, bahkan tidak laku menjual koran dan barang dagangannya menjadi kisah tersendiri yang membangun kerendahan hati para siswa sebagai calon pemimpin Gereja dan bangsa masa depan.

Kisah membantu pedagang pasar, menjadi tukang parkir, tukang sampah, dan tukang kebersihan di pasar memberikan makna mendalam bahwa hidup harus diperjuangkan, syukur harus dihayati, dan semangat melayani dengan tulus hati harus dihidupi.

Inilah pembinaan diri siswa melalui LDK OSIS yang dikembangkan di SMA Seminari agar kelak menjadi pribadi yang tangguh, jujur, disiplin, bertanggung jawab, memiliki semangat melayani, memiliki kerendahan hati, dan peduli pada “wong cilik”, serta mampu mengambil kebijakan yang tepat dan bijaksana agar “wong cilik” semakin berdaya di dalam setiap perutusannya.

Antonius Agus Sulistyono, S.IP., S.Pd 
Guru SMA Seminari Mertoyudan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *