Apakah Guru Agama Layak Mendapat Dua Gelar Sarjana?

Papan Tulis701 Views

Salah satu mata pelajaran di sekolah adalah pendidikan agama. Pendidikan agama merupakan mata pelajaran wajib di sekolah. Ada dua tuntutan utama dalam pendidikan agama, yaitu pendidikan agama dan budi pekerti (pendidikan karakter). Satu berkaitan soal pengetahuan agama, lainnya berkaitan tentang pelaksanaan pengetahuan agama. Porsinya sama-sama berat dan butuh kompetensi yang memadai juga.

Ada satu pertanyaan dalam benak saya, “Mengapa guru agama hanya dianugerahi satu gelar saja?” Pertanyaan ini muncul karena saya merasa seharusnya para guru agama mendapatkan dua gelar. Alasannya sederhana, karena dalam pendidikan agama itu ada dua tuntutan tadi, yaitu pendidikan agama dan budi pekerti. Kalau mendapatkan hanya satu gelar saja, itu sangat tidak adil.

Pendidikan agama dan budi pekerti jelas adalah dua hal yang berbeda. Masing-masing berat sekali. Namun, keduanya satu kesatuan dan saling melengkapi. Kalau mau berkaca lebih dalam lagi, kita bisa lihat dalam proses perkuliahan terlebih dahulu. Dalam perkuliahan, pada calon guru agama mempelajari dua bidang, yaitu pendidikan dan agama.

Dalam pendidikan ada dua bidang, yaitu administrasi dan regulasi. Pendidikan saja sudah rumit dan berat, apalagi belajar soal agama. Dalam agama itu, ada dua bidang, yaitu teologi dan filsafat. Selain itu, banyak praktik soal pendidikan, banyak praktik pula soal agama.

Dalam praktik di bidang pendidikan, para calon guru agama harus mengikuti praktik keguruan sesuai dengan ketentuan. Dalam praktik bidang agama, para calon guru agama juga diharuskan ambil bagian dalam kegiatan keagamaan di rumah ibadah sesuai agamanya masing-masing. Artinya, para calon guru agama mengambil dua peran dalam ketugasannya yang berbeda.

Memasukkan unsur agama dalam dunia persekolahan itu tidak mudah. Butuh kematangan dan kehati-hatian supaya siswa tidak salah pengertian dan supaya tidak melenceng. Guru agama bukan hanya berkonsentrasi pada nilai akademik, tetapi juga pada karakter anak.

Kalau anak berperilaku buruk, guru agama pasti yang akan kena dan disalahkan. Ingat, bukan guru Bimbingan dan Konseling (BK), tetapi guru agamanya. Meski guru BK antara lain bertugas membentuk dan mengembangkan karakter siswa, tetapi tanggung jawab ini kerap ditekankan kepada guru agama.

Kalau anak berperilaku buruk, berarti itu sebuah kegagalan bagi guru agama. Tingkat tanggung jawab inilah yang membuat menjadi guru agama itu berat. Pasalnya, selain di sekolah, guru agama juga bertanggung jawab ketika di luar sekolah. Guru agama bertugas memantau dan mendampingi anak-anak dalam bersikap sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Berkuliah dan mengajar pendidikan agama selama ini dianggap tidak bergengsi. Ini dibuktikan dengan sedikitnya orang yang menjadi guru agama dengan sukarela. Kebanyakan menjadikannya sebagai pilihan terakhir. Daripada tidak kuliah atau tidak bekerja, lebih baik ambil bidang agama saja.

Kalau membicarakan kasta guru, guru agama di posisi yang tidak menguntungkan dari segi apa pun. Guru agama sering sekali disepelekan karena dianggap paling mudah materinya. Memang secara fakta, mudah materinya. Kelihatan banyak menganggurnya. Tetapi soal pelaksanaan, itu yang bikin pusing kepala. Materi agama tanpa pelaksanaan nyata, itu sia-sia saja.

Menjadi guru agama itu tugasnya tidak terbatas waktu maupun tempat. Di mana pun dan kapan pun, guru agama tetap bertugas. Tiada henti-hentinya. Hari libur pun, mereka tetap bertugas dalam kegiatan keagamaan sesuai dengan agamanya masing-masing. Pagi sampai siang di sekolah, sore sampai malam di kegiatan keagamaan atau rumah ibadahnya.

Bagi guru agama, libur hanyalah sekadar kata-kata. Kalau ditanya libur ngapain, tentunya akan menjawab ada kegiatan keagamaan yang sedang dijalankan. Misalnya mengajar sekolah Minggu, mengajar katekumen, memimpin doa, dan lain-lain. Itulah realitasnya. Saya pun mengalaminya sendiri.

Kesibukannya bukan membuat kelengkapan bahan ajar saja. Guru agama juga memiliki tanggung jawab besar membantu di kegiatan keagamaan sesuai dengan agamanya masing-masing. Misalnya membuat desain supaya anak tertarik mengikuti kegiatan sekolah Minggu, membuat kemasan pertemuan yang menarik agar anak mau aktif dalam kegiatan gereja, dan masih banyak lagi.

Hal-hal ini, sekali lagi tidaklah mudah. Mereka adalah rekan kerja utama para pemuka atau pemimpin agama. Inilah yang selama ini luput dari perhatian sebagian besar masyarakat. Gelar ganda itu saya rasa berhak para guru agama dapatkan. Sebab, tuntutan yang ada lebih berat, banyak, dan kompleks daripada guru mata pelajaran lain. Kalau guru mata pelajaran lain itu tugasnya selesai ketika jam sekolah berakhir, sedangkan guru agama tidak ada henti-hentinya.

Gelar ganda juga akan berpotensi memperbaiki pandangan masyarakat terhadap pekerjaan guru agama. Sangat tidak fair, kalau mengatakan menjadi guru agama itu mudah tanpa beban. Dari proses kuliah hingga mengajar, itu berat sekali.

Tidak ada pilihan buat para guru agama karena tidak ada yang tidak diprioritaskan. Sudah layak dan sepantasnya, kalau para guru agama ini bergelar dua. Kedua gelar itu adalah sarjana pendidikan dan sarjana agama.

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *