Jalan Sunyi Menuju Golgota

Pelita566 Views

Masa Prapaskah menjadi sebuah momen Retret Agung. Di dalamnya, orang-orang yang percaya pada Kristus akan merenungkan dan merefleksikan secara mendalam peristiwa sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.

Setiap hari, secara khusus dalam masa Prapaskah, orang Kristen harus berjuang dalam peperangan rohani melawan dosa dan diajak untuk lebih banyak melakukan pemeriksaan batin memperbaiki diri dan bertobat.

Untuk melakukan pemeriksaan batin, kita memerlukan kebijaksanaan Ilahi, yaitu penerangan Roh Kudus dengan berdoa memohon rahmat-Nya untuk menerangi pikiran dan seluruh tindakan kita. Bukan mengandalkan kekuatan kita.

Apakah kita pernah merenungkan dan menyadari bahwa kesedihan yang paling besar dialami oleh banyak orang pada abad ini adalah ketidaktahuan akan kebijaksanaan Ilahi ini?

Padahal, kita hidup dalam zaman yang serbacanggih, bisa dikatakan bahwa manusia berada di puncak jaya dengan segala kecanggihan yang diciptakannya dengan tanda kutip diterimanya dari Atas. Dan, yang paling menyedihkan, banyak anak muda bahkan orang tua tidak tahu dari mana dan apa makna dari kehidupannya.

Oleh karena itu, banyak yang jatuh dalam keputusasaan dan kehilangan semangat dan terpuruk dalam kelemahan dan kesedihan yang berlebihan sehingga kerahiman yang ditawarkan setiap hari oleh Tuhan tidak disadari.

Dalam ajaran iman Katolik, masa Prapaskah berlangsung selama 40 hari yang mengingatkan semua umat beriman akan masa ketika Yesus sendiri berpuasa di padang gurun sebelum dicobai oleh Iblis (bdk. Mat. 4:2). 

Masa Prapaskah adalah saat terbaik kita membersihkan diri dari segala salah dan dosa sebagai persiapan untuk berjalan bersama menuju Golgota abadi. Untuk itu, apa yang harus dan perlu dipersiapkan oleh kita orang-orang Katolik pada masa Prapaskah ini?

Dari ajaran dan tradisi yang ada dalam Gereja Katolik, terdapat tiga pilar penting yang harus dijalankan dan dipersiapkan oleh seorang Katolik pada masa Prapaskah ini. Tiga pilar itu antara lain puasa, berdoa, dan bersedekah. Ketiga pilar ini sejatinya sangat penting untuk direalisasikan sebagai seorang beriman. Ini penting dilaksanakan agar orang Katolik sejati dapat menjalankan nilai pertobatan dan segala silih dosa secara utuh dan total.

Dengan pertobatan yang sungguh melalui puasa, doa, dan sedekah, dapat membantu seseorang secara khusus bagi perkembangan iman akan Allah dan juga mengantar seseorang agar makin dekat dengan Golgota abadi.

Puasa

Puasa dan berpantang adalah adalah satu momen yang penting dalam ajaran Katolik. Puasa dalam ajaran Katolik sendiri berbeda dengan ajaran agama lain. Gereja Katolik mengacu kepada sabda Yesus sendiri, “Jika engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya Bapamu di surga” (bdk. Mat. 6:17-18). 

Ini menunjukkan arti yang paling benar akan puasa menurut Tuhan sendiri. Yesus lewat sabda-Nya hendak menunjukkan bahwa berpuasa dan berpantang sejati adalah hal yang patut diketahui hanya oleh Tuhan sendiri. Bukan sesuatu yang dipamerkan dan ditunjukkan kepada orang lain.

Puasa dan pantang adalah hal personal seseorang dengan Tuhan. Hal-hal ini menunjukkan orisinalitas pertobatan yang hendak dibuat oleh kaum beriman. Berpuasa dan berpantang dibedakan artinya.

Puasa diartikan sebagai makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Sedangkan pantang berarti memilih untuk mengurangi segala sesuatu (makanan atau kebiasaan yang mengenakkan dan nikmat) demi rasa solidaritas yang tinggi dengan sesama yang berkekurangan. Tidak makan daging dan ikan, tidak minum kopi dan sopi, mengurangi rokok, jajan, main ponsel, belanja, dan lain-lain. Semua itu adalah contoh-contoh konkret dari berpantang yang merupakan usaha mati raga dan tobat.

Doa

Masa Prapaskah adalah semangat yang seharusnya ada dan menjadi momentum bagi seorang Katolik yang bertobat untuk meningkatkan intensitas doanya. Doa tidak berarti hanya menunggu saat sulit atau gembira saja, melainkan setiap saat dan waktu.

Pada masa Prapaskah ini, Tuhan ingin mengajak umat-Nya agar menghabiskan setiap saat untuk selalu memuji dan memuliakan nama-Nya dalam sukacita. Berdoa berarti berbicara, membangun relasi dan kedekatan dengan-Nya agar kita dikuatkan dalam menjalani masa Prapaskah masa puasa dan berpantang.

Sedekah

Dalam ajaran Gereja Katolik, sedekah adalah suatu tindakan personal untuk memberi dari segala kekurangan kita. Bersedekah berarti memberikan sesuatu, seperti uang atau materi lainnya, kepada orang lain yang membutuhkan. Meskipun demikian, Yesus lewat sabda-Nya menekankan bahwa sedekah yang sejati adalah sebuah bentuk pemberian tanpa pamer dan juga pamrih. Semuanya ini agar sedekah yang diberikan berkenan di mata Tuhan.

Sebagai contoh, biasanya pada masa Prapaskah ini ada Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang merupakan salah satu aksi konkret sedekah bagi seluruh umat beriman untuk solider kepada orang-orang yang berkekurangan. Biasanya, aksi ini berupa donasi tertentu yang akan disalurkan lewat lingkungan atau paroki.

Tahun Yubileum Kerahiman menjadi momen seorang Katolik yang sejati menjalankan ketiga pilar ini dengan sebaik mungkin. Puasa, berdoa, dan sedekah kiranya menjadi sarana bagi seorang beriman untuk mendekatkan dirinya kepada Allah lewat pertobatan, karena dengan bertobat, seorang akan disucikan kembali sehingga murni menjadi anak-anak Allah.

Semoga dengan menjalankan puasa, doa, dan sedekah, jalan menuju Golgota makin terbuka lebar dan segala dosa dihancurkan oleh salib Kristus. Allah sendirilah yang datang menemui kita dalam diri Yesus Putra-Nya yang memanggul salib untuk kita karena kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *